KABARBURSA.COM — Pemerintah menempatkan perluasan akses listrik sebagai salah satu agenda utama sepanjang 2025. Dalam setahun terakhir, kapasitas terpasang pembangkit listrik nasional bertambah sekitar 7 gigawatt menjadi 107,51 gigawatt, naik dari 100,65 gigawatt pada 2024.
Kenaikan ini mencerminkan upaya berkelanjutan negara dalam memperkuat ketahanan energi sekaligus mendorong swasembada energi sebagaimana diarahkan dalam Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menilai peningkatan kapasitas terpasang ke depan tidak boleh berhenti pada capaian saat ini. Menurut dia, pertumbuhan pembangkit harus bergerak seiring dengan target pertumbuhan ekonomi nasional, mengingat ketersediaan listrik menjadi fondasi bagi masuknya investasi dan penguatan basis industri.
“Dalam analisa kami di tahun 2026, kita harus genjot. Karena seiring dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang dicanangkan oleh Pemerintah pada tahun ini,” ujar Bahlil, seperti disiarkan laman Kementerian ESDM, Jumat, 9 Januari 2026.
Secara historis, kapasitas terpasang pembangkit listrik nasional memang menunjukkan tren meningkat. Sejak 2020, angka tersebut terus bertambah dari 72,75 gigawatt, naik menjadi 74,53 gigawatt pada 2021. Tren positif berlanjut pada 2022 dengan kapasitas mencapai 83,81 gigawatt, lalu meningkat lagi menjadi 91,17 gigawatt pada 2023, hingga akhirnya menembus lebih dari 107 gigawatt pada 2025.
Di sisi konsumsi, pemerintah menargetkan peningkatan konsumsi listrik per kapita pada 2025 sebesar 1.464 kilowatt hour. Realisasinya justru melampaui sasaran tersebut.
Konsumsi listrik per kapita tercatat mencapai 1.584 kilowatt hour atau setara 108,2 persen dari target yang ditetapkan. Capaian ini memberi sinyal bahwa permintaan listrik tumbuh, sekaligus menunjukkan pemerataan akses energi hingga ke wilayah yang sebelumnya belum terjangkau secara optimal.
“Konsumsi kita naik. Kalau konsumsi naik, itu artinya terjadi pertumbuhan permintaan, dan itu kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi. Dan yang kedua adalah terjadi juga pemerataan,” jelas Bahlil.
Bahlil menambahkan, peningkatan konsumsi listrik per kapita tidak lepas dari keberhasilan sejumlah program pemerintah di sektor ketenagalistrikan. Program Listrik Desa sepanjang 2025 telah direalisasikan di 1.516 lokasi dan menjangkau 77.616 pelanggan. Sementara itu, program Bantuan Pasang Baru Listrik hingga 31 Desember 2025 telah menjangkau 205.968 rumah tangga.
Ke depan, pemerintah menyatakan akan melanjutkan pembangunan sektor ketenagalistrikan secara konsisten. Peningkatan kapasitas pembangkit dan penguatan jaringan listrik akan tetap mengacu pada Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik, sebagai peta jalan untuk memastikan ketersediaan energi yang andal dan merata di seluruh wilayah Indonesia.
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.