KABARBURSA.COM – Harga batu bara belum bisa menggeliat. Pada perdagangan Rabu waktu setempat, 7 Januari 2026, harganya masih melemah, terutama untuk kontrak Newcastle di seluruh kurba Januari hingga Maret 2026.
Pelemahan terjadi bukan karena guncangan permintaan jangka pendek, namun dari sinyal baru yang keluar akibat kebijakan India.
Harga batu bara Newcastle saat ini berada di kisaran USD106 per ton. India, sebagai salah satu konsumen terbesar, menyatakan produk domestiknya hampir sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan nasional. Hal ini membuat posisi India bergeser, dari demand anchor menjadi pemasok tambahan.
Menteri Batu bara India G Kishan Reddy bahkan mengatakan, negaranya siap menjadi pengekspor batu bara tanpa mengorbankan kebutuhan domestik. Pasar bergerak cepat, menghitung ulang neraca supply-demand jangka menengah.
Apa yang terjadi di India, mulai dari peningkatan kapasitas produksi batu bara, perbaikan kualitas, penguatan rantai pasok, hingga standarisasi operasional di BUMN pertambangan, menunjukkan bahwa negara ini sedang membangun fondasi jangka panjang.
Apalagi adanya dorongan efisiensi, produktivitas aset, dan standar keselamatan yang ketat, memperkuat pandangan bahwa India ingin menjadikan batu baranya lebih kompetitif secara global.
Batu Bara Rotterdam Dapat Warning Hingga Kebijakan Indonesia
Di sisi lain, pergerakan harga batu bara Rotterdam relative lebih stabi. Ada kenaikan tipis di kontrak Januari. Namun, ada warning keras, terutama terkait tren menurun pada kontrak Maret.
Sementara itu, kebijakan domestik di Indonesia juga menjadi penekan gerak batu bara. Pemerintah memastikan bahwa bea keluar ekspor batu bara akan berlaku surut sejak 1 Januari 2026.
Meski peraturan menteri keuangan belum terbit, pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menghilangkan ruang spekulasi. Pasar kini harus memperhitungkan biaya tambahan yang berpotensi menggerus margin eksportir, dengan tarif yang bisa mencapai 5 persen hingga 11 persen, tergantung harga batu bara saat ini.
Bagi pasar global, kebijakan ini memiliki dua implikasi. Dalam jangka pendek, bea keluar Indonesia berpotensi menahan pasokan ekspor karena sebagian produsen akan menyesuaikan strategi penjualan dan kontrak.
Namun dalam jangka menengah, jika India benar-benar mulai membuka keran ekspor selektif, efek pengetatan pasokan dari Indonesia bisa teredam. Kombinasi dua faktor ini membuat pasar berada dalam kondisi tarik-menarik antara potensi pengurangan pasokan dari satu sisi dan tambahan pasokan dari sisi lain.
Dengan demikian, pelemahan harga batu bara saat ini lebih tepat dibaca sebagai proses repricing struktural. Pasar sedang menguji ulang asumsi lama bahwa pasokan global akan tetap ketat dan India akan terus menjadi pembeli besar.
Kini, dengan India mendekati swasembada dan Indonesia memperkenalkan bea keluar, perdagangan batu bara dunia memasuki fase baru yang lebih kompleks, di mana arah harga tidak lagi ditentukan oleh satu faktor dominan, melainkan oleh interaksi kebijakan energi, strategi fiskal, dan efisiensi produksi lintas negara.(*)