Logo
>

Harga BBM Diproyeksi Naik Tajam April, Pertamax Tembus Rp17.850?

Lonjakan dipicu kenaikan harga minyak global, pemerintah siapkan opsi WFH sambil menunggu keputusan resmi.

Ditulis oleh Yunila Wati
Harga BBM Diproyeksi Naik Tajam April, Pertamax Tembus Rp17.850?
Perkiraan harga jual eceren BBM non-subsido untuk April 2026 menunjukkan kenaikan signifikan untuk seluruh jenis bahan bakar. (Foto: dok KabarBursa)

KABARBURSA.COM – Rencana penyesuaian harga BBM non-subsidi mulai membentuk bayangan baru terhadap aktivitas ekonomi domestik, bahkan sebelum angka resminya diumumkan. Data proyeksi harga yang beredar menunjukkan lonjakan yang tidak lagi bersifat bertahap, melainkan melonjak dalam satu siklus penyesuaian. 

Di tengah kondisi tersebut, pemerintah belum mengubah kebijakan transportasi, tetapi mulai menyiapkan langkah antisipasi yang lebih luas.

Perkiraan harga jual eceran BBM non-subsidi untuk April 2026 menunjukkan kenaikan signifikan di hampir seluruh jenis bahan bakar. Pertamax diproyeksikan naik dari Rp12.300 per liter menjadi Rp17.850 per liter atau meningkat Rp5.550 per liter. 

Pertamax Green 95 diperkirakan naik Rp6.250 per liter dari Rp12.900 menjadi Rp19.150 per liter, sementara Pertamax Turbo naik Rp6.350 per liter dari Rp13.100 menjadi Rp19.450 per liter.

Kenaikan paling besar terlihat pada segmen diesel. Pertamina Dex diproyeksikan melonjak Rp9.450 per liter dari Rp14.500 menjadi Rp23.950 per liter. Dexlite juga menunjukkan kenaikan serupa sebesar Rp9.450 per liter dari Rp14.200 menjadi Rp23.650 per liter. 

Struktur kenaikan ini memperlihatkan bahwa tekanan harga tidak hanya terjadi pada bensin, tetapi juga pada bahan bakar untuk sektor logistik dan industri.

Lonjakan harga tersebut berkaitan langsung dengan perubahan harga minyak mentah acuan. Harga minyak jenis gasoline tercatat naik hingga 62,99 persen menjadi USD120,06 per barel, sementara gasoil melonjak lebih tinggi hingga 91,30 persen menjadi USD166,31 per barel. 

Kenaikan ini terjadi dalam periode satu bulan, mencerminkan dampak cepat dari gangguan pasokan global, terutama di kawasan Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi energi dunia.

Kenaikan harga minyak mentah kemudian diterjemahkan ke dalam komponen harga BBM domestik, mulai dari harga dasar, pajak pertambahan nilai, hingga pajak bahan bakar kendaraan bermotor. 

Dalam struktur April 2026, harga dasar Pertamax naik menjadi Rp15.388 per liter dari sebelumnya Rp10.603, sementara komponen pajak juga ikut meningkat sehingga mendorong harga jual akhir secara signifikan.

Belum Ada Kebijakan Khusus Transportasi

Di tengah proyeksi kenaikan tersebut, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, menyatakan belum ada kebijakan khusus di sektor transportasi. Ia menegaskan bahwa pemerintah masih mengacu pada informasi dari Kementerian ESDM dan Pertamina yang menyebutkan stok BBM dalam kondisi aman. 

“Sampai sejauh ini belum ada, jadi kalau dari pihak ESDM maupun Pertamina mengatakan bahwa stok BBM aman, ya berarti aman,” kata Dudy dalam konferensi pers, Senin, 30 Maret 2026.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa aktivitas transportasi masih berjalan normal menjelang pengumuman resmi harga BBM. Namun, pemerintah tetap membuka ruang antisipasi terhadap kemungkinan perubahan kondisi di lapangan. 

Dudy menyebutkan bahwa pihaknya masih menunggu keputusan resmi dari Kementerian ESDM sebelum mengambil langkah lanjutan.

Di sisi lain, pemerintah mulai menyiapkan opsi kebijakan yang lebih luas di luar sektor transportasi. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, mengungkapkan adanya rencana penerapan work from home setelah periode Lebaran sebagai bagian dari langkah mitigasi. 

Kebijakan ini dirancang untuk mengurangi konsumsi BBM sekaligus menjaga tekanan terhadap anggaran negara.

Langkah tersebut muncul di tengah tekanan fiskal yang meningkat akibat potensi lonjakan subsidi energi. Pemerintah juga mempertimbangkan pengalaman negara lain seperti Filipina, yang mengalami gangguan sektor transportasi akibat kenaikan harga BBM. 

Dalam kasus ini, pengemudi angkutan umum melakukan aksi mogok kerja setelah mengalami kerugian harian hingga sekitar Rp421.000.

Rangkaian data ini memperlihatkan bahwa kenaikan harga BBM tidak hanya menjadi isu energi, tetapi juga mulai menyentuh sektor transportasi, fiskal, hingga aktivitas ekonomi secara lebih luas. 

Pergerakan harga yang terjadi dalam waktu singkat membentuk tekanan berlapis, sementara respons kebijakan masih berada dalam tahap menunggu kepastian angka resmi yang akan diumumkan pada awal April.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79