KABARBURSA.COM — Pengamat pertanian Khudori menilai penurunan tajam harga beras di pasar dunia tidak tepat jika dikaitkan semata-mata dengan keputusan Indonesia yang tidak melakukan impor beras pada 2025.
Ia mengungkapkan bahwa harga beras dunia memang mengalami penurunan signifikan. Berdasarkan data Bank Dunia dan Index Mundi, harga tertinggi beras Thailand patahan 5 persen pada periode 2021 hingga November 2025 terjadi pada Januari 2024 sebesar USD660 per ton, sementara pada November 2025 turun menjadi USD368 per ton.
“Artinya harga saat ini lebih rendah 44 persen ketimbang Januari 2024,” tulis Khudori dalam keterangannya, Kamis 25 Desmeber 2025.
Ia menambahkan, penurunan serupa juga terjadi pada jenis beras lain di pasar global. "Secara umum, pada periode yang sama harga beras di pasar dunia turun drastis,” jelasnya.
Ia juga mencatat penurunan harga beras Vietnam, Pakistan, dan India untuk kualitas patahan 5 persen.
Menurut Khudori, harga beras global yang rendah saat ini merupakan bagian dari pola fluktuasi yang berulang.
Ia menjelaskan bahwa sebelum pandemi Covid-19, rata-rata harga beras Thailand patahan 5 persen berada di kisaran USD400-an per ton, dan kembali ke level tersebut pada 2025.
“Data-data menunjukkan apabila tidak ada goncangan pasokan-permintaan harga beras global sekitar USD 400-an per ton,” ungkapnya.
Ia menekankan bahwa lonjakan harga beras dunia biasanya terjadi ketika ada gangguan pasokan, terutama akibat pembatasan ekspor oleh India.
“Sebagai eksportir nomor satu dunia, langkah India itu berdampak langsung pada harga beras di pasar dunia: harga beras meroket,” terang Khudori.
Lebih lanjut, Khudori menyebut bahwa penurunan harga beras dunia pada 2025 lebih tepat dijelaskan oleh membaiknya produksi global dan meningkatnya ekspor India.
“Merujuk data FAO, prospek produksi beras yang lebih baik di banyak negara produsen dan peningkatan ekspor beras India tampaknya lebih tepat untuk menjelaskan fenomena anjloknya harga beras dunia saat ini,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa meskipun Indonesia tidak melakukan impor beras pada tahun ini, permintaan beras dunia tidak menurun. “Jadi, meskipun Indonesia tidak impor beras tahun ini permintaan beras tidak turun. Justru naik,” ujarnya.
Khudori turut meluruskan anggapan bahwa Indonesia merupakan importir beras terbesar dunia. “Indonesia boleh dibilang bukan importir beras terbesar tiap tahun,” lanjutnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa impor besar Indonesia hanya terjadi pada tahun-tahun tertentu, seperti 2018, 2023, dan 2024 akibat tekanan produksi.
Di sisi lain, ia menekankan bahwa tidak adanya penugasan impor kepada Bulog tidak berarti Indonesia sama sekali tidak mengimpor beras. “Impor beras rutin dilakukan oleh swasta untuk beras khusus dan untuk industri,” katanya.
Menutup analisanya, Khudori menilai pemerintah masih menghadapi pekerjaan rumah besar dalam menjaga keberlanjutan produksi beras nasional.
“Kemewahan ini tidak selalu ada tiap tahun. PR-nya jelas, bagaimana memastikan produksi berkelanjutan?” tanya dia. (*)