Logo
>

Harga Brent dan WTI Anjlok: Oversupply jadi PR Berat

Harga minyak dunia melemah tajam sepanjang 2025 akibat banjir pasokan global. Memasuki 2026, pasar dihadapkan pada risiko oversupply struktural dan ketidakpastian geopolitik.

Ditulis oleh Yunila Wati
Harga Brent dan WTI Anjlok: Oversupply jadi PR Berat
Ilustrasi rig minyak Amerika Serikat. Foto: AI untuk KabarBursa.

KABARBURSA.COM – Harga minyak dunia sepanjang 2025 mengalami volatilitas yang luar biasa. Setelah sempat dibuka dengan lonjakan akibat gangguan pasokan dan eskalasi geopolitik, harga minyak justru menutup tahun dengan pelemahan signifikan.

Pada perdagangan Rabu waktu setempat, 31 Desember 2025, Brent crude mencatat penurunan tahunan sekitar 19 persen. Sementara WTI anjlok lebih dalam, nyaris 20 persen. Ini menjadi penurunan tahunan terdalam sejak 2020.

Ada banyak hal yang membuat harga minyak dunia merosot tajam. Mulai dari perang Ukraina, serangan drone terhadap infrastruktur Rusia, konflik Iran-Israel, hingga sanksi terhadap Rusia, Iran, dan Venezuela. Seluruhnya menciptakan lonjakan harga, namun tidak bertahan lama karena diimbangi oleh tambahan pasokan.

Oversupply, menjadi kunci utamanya. OPEC+ sepanjang tahun secara bertahap mempercepat pelepasan pasokan. Total sekitar 2,9 juta barel per hari masuk ke pasar sejak April. Tujuan awalnya menjaga pangsa pasar, namun justru menekan harga lantaran permintaan melemah akibat tekanan tarif perdagangan AS dan melambatnya ekonomi global.

Dan, di kuartal pertama 2026 ini, OPEC+ memutuskan untuk menahan kenaikan produksi. Keputusan ini menandakan bahwa pasar sudah berada dalam kondisi kelebihan pasokan.

Kondisi yang sama terjadi di Amerika Serikat. Tekanan suplai semakin kuat, produksi minyaknya mencetak rekor pada Oktober. Karakter shale oil yang semakin terlindungi melalui strategi lindung nilai, membuat pasokan menjadi lebih kaku terhadap penurunan harga.

Produsen shale yang mengunci harga di level tinggi, tetap memompa minyak meski harga turun, sehingga mekanisme penyesuaian alami pasar menjadi tumpul. Faktor structural inilah yang membuat prospek harga minyak jangka pendek cenderung berat.

Sementara itu, meski stok minyak AS turun lebih dalam dari perkiraan, namun lonjakan tajam pada persediaan bensin dan distilat mengindikasikan lemahnya konsumsi akhir, terutama pasca-musim liburan.

Kondisi ini menciptakan tekanan tambahan pada harga, karena kilang menghadapi risiko penumpukan produk olahan, yang akhirnya menekan permintaan minyak mentah di bulan-bulan awal 2026.

Analis Prediksi Harga Turun

Tidak salah jika kemudian analis meminta pasar untuk berhati-hati. Mereka memprediksi Brent berpotensi turun ke kisaran USD55 per barel di kuartal pertama 2026, sebelum kembali stabil di kisaran USD60. Sebagian lagi berpandangan bahwa harga minyak dunia bisa menyentuh USD50 per barel.

Meski demikian, geopolitik tetap menjadi variabel yang tidak bisa diabaikan. Ketegangan di Timur Tengah, konflik Yaman yang melibatkan produsen besar, serta kebijakan agresif Presiden Donald Trump terhadap Iran dan Venezuela berpotensi menciptakan kejutan pasokan sewaktu-waktu. 

Risiko-risiko ini berfungsi sebagai bantalan psikologis harga, mencegah minyak jatuh terlalu dalam meski fundamental pasar menunjukkan kelebihan pasokan.

Dengan demikian, performa minyak dunia di 2025 dapat dinilai lemah secara tahunan, tetapi sarat dinamika. Harga gagal mempertahankan premi geopolitik karena dibayangi banjir pasokan dan permintaan yang stagnan. 

Memasuki 2026, minyak berada di persimpangan antara tekanan oversupply struktural dan potensi lonjakan episodik akibat risiko geopolitik. Pasar tampaknya akan tetap rapuh, sensitif terhadap data persediaan, kebijakan OPEC+, dan setiap perkembangan politik global yang menyentuh jalur pasokan energi utama dunia.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79