KABARBURSA.COM – Harga minyak dunia, baik Brent maupun WTI melemah. Brent melemah ke bawah USD60 per barel, sementara WTI ke area USD55. Stok minyak Venezuela yang saat ini tertahan di tanker-tanker dan segera dipasarkan oleh pemerintah Amerika Serikat, menjadi tekanan kuat pelemahan minyak global.
Sejauh ini, AS sepakat untuk mengimpor minyak Venezuela sekitar USD2 miliar. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Venezuela akan menyerahkan 30 juta hingga 50 juta barel minyak, dibaca oleh pasar sebagai tambahan pasokan fisik yang signifikan bagi konsumen minyak terbesar dunia itu.
Dalam logikanya, masuknya tambahan minyak ke AS tidak hanya berdampak pada neraca domestik, tetapi juga berpotensi mengalihkan arus perdagangan internasional. Apalagi, sebelumnya pasokan tersebut ditujukan untuk China.
Ini menjadi tekanan pertama, di mana pasar Asia berpotensi kehilangan Sebagian suplai Venezuela. Namun, tekanan ini tidak terlalu kuat. Pasar lebih focus pada fakta bahwa minyak Venezuela akan masuk dalam sistem perdagangan utama dunia.
Minyaknya tidak lagi tertahan di kapal tanker atau fasilitas penyimpanan, tetapi siap dilepas ke pasar. Dan itu diterjemahkan sebagai risiko oversupply.
Persediaan EIA Hingga Penangkapan Maduro
Tidak hanya soal oversupply akibat kemungkinan pelepasan minyak Venezuela di pasar global, tekanan berat juga datang dari laporan persediaan EIA.
Dalam laporan tersebut, stok minyak AS turun sebesar 3,8 juta. Kabar ini seharusnya menjadi faktor pendukung harga, namun pasar minyak modern tidak hanya bereaksi pada crude stock semata.
Ada lonjakan tajam pada persediaan bensin dan distilat, masing-masing 7,7 dan 5,6 juta barel. Oversupply ini menunjukkan bahwa sisi hilir, khususnya konsumsi produk olahan, sedang melemah. Artinya, permintaan riil belum cukup kuat menyerap pasokan yang terus bertambah.
Pandangan Morgan Stanley tentang potensi surplus hingga 3 juta barel per hari di paruh pertama 2026, memperkuat tekanan. Surplus itu bukan angka kecil, apalagi jika disandingkan dengan pertumbuhan yang melambat dan pasokan dari OPEC maupun non-OPEC yang meningkat.
Dinamika Venezuela memberi lapisan kompleksitas. Minyak Merey yang dijual diskon, sekitar USD22 per barel, di bawah harga Brent, memberikan tekanan kompetitif di pasar.
Dalam jangka pendek, diskon ini menekan harga global. Sedangkan dalam jangka menengah, seperti dicatat BMI, kondisi ini bisa memicu kenaikan harga jika produksi di luar Venezuela tertahan dan pasokannya tidak tumbuh sesuai rencana. Tapi, faktanya tidak demikian.
Belum lagi terkait penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, penyitaan kapal tangker berbendara Rusia, serta tudingan penculikan dari Caracas, semakin meningkatkan tensi politik.
Jadi, perdagangan minyak dunia saat ini berada dalam fase transisi karena kekhawatiran oversupply dari minyak Venezuela. Harga melemah bukan karena permintaan runtuh secara tiba-tiba, tapi karena pasar sedang menilai ulang peta pasokan global.
Tambahan minyak Venezuela, proyeksi surplus 2026, serta lemahnya konsumsi, menekan harga hari ini.(*)