Logo
>

Harga Emas Rebound, Pasar Asia Kehilangan Daya Pikat

Emas dunia rebound lebih dari 1 persen usai isu gencatan senjata AS-Iran, tetapi permintaan fisik di India dan China masih melemah.

Ditulis oleh Yunila Wati
Harga Emas Rebound, Pasar Asia Kehilangan Daya Pikat
Harga emas spot ditutup naik 1,5 persen ke level USD4.556,84 per ons troi. (Foto: Archi Indonesia)

KABARBURSA.COM – Harga emas dunia memantul lebih dari 1 persen pada perdagangan Jumat waktu Amerika Serikat. Pasar mulai merespons peluang perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. 

Di balik rebound tersebut, pasar emas global masih dibayangi tekanan suku bunga tinggi dan melemahnya permintaan fisik di Asia.

Harga emas spot ditutup naik 1,5 persen ke level USD4.556,84 per ons troi. Sebelumnya, logam mulia sempat jatuh ke titik terendah dua bulan di level USD4.365,76 per ons pada Kamis sebelum akhirnya berbalik menguat.

Sementara itu, kontrak emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman Agustus ditutup naik 1,3 persen ke posisi USD4.593 per ons troi.

Peluang Perpanjangan Gencatan Senjata

Pergerakan emas kali ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan mengambil keputusan terkait potensi kesepakatan baru dengan Iran. Pasar menilai peluang perpanjangan gencatan senjata bisa mengurangi tekanan geopolitik di Timur Tengah, termasuk risiko terhadap jalur energi global di Selat Hormuz.

Chief Market Strategist Blue Line Futures Phillip Streible, mengatakan rebound emas muncul setelah harga menyentuh area teknikal penting dan didukung pelemahan dolar Amerika Serikat serta koreksi harga minyak.

“Emas berhasil memantul dari area support penting. Optimisme soal perpanjangan gencatan senjata juga menekan dolar dan harga minyak, yang akhirnya mendukung penguatan emas,” ujar Streible.

Indeks dolar Amerika Serikat tercatat bergerak melemah secara mingguan. Kondisi tersebut membuat emas menjadi lebih murah bagi pembeli luar negeri karena diperdagangkan menggunakan denominasi dolar.

Suku Bunga AS jadi Sandungan

Meski demikian, pasar masih berhati-hati karena tema higher for longer suku bunga Amerika Serikat belum benar-benar hilang. Investor masih khawatir inflasi energi akibat konflik Iran bisa membuat Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Data terbaru menunjukkan inflasi Amerika Serikat pada April naik paling cepat dalam tiga tahun terakhir. Lonjakan harga energi akibat perang Iran menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan inflasi tersebut.

Situasi ini membuat pasar semakin yakin The Fed belum akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat. Bahkan pasar uang mulai membuka peluang kenaikan suku bunga tambahan pada akhir tahun.

Kondisi itu menjadi tantangan besar bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga. Ketika suku bunga tinggi bertahan lama, investor cenderung lebih memilih instrumen berbunga seperti obligasi dibanding emas.

Secara bulanan, harga emas spot masih tercatat turun lebih dari 1 persen. Penurunan tersebut memperpanjang tren koreksi bulanan emas menjadi tiga bulan berturut-turut.

Permintaan India dan China Melemah

Di kawasan Asia, perdagangan emas fisik justru terlihat lesu meski harga global mulai bangkit. India dan China sebagai dua konsumen emas terbesar dunia sama-sama menunjukkan pelemahan permintaan.

Di India, dealer memberikan diskon hingga USD106 per ons dibanding harga domestik resmi. Diskon tersebut meningkat dibanding pekan lalu yang hanya berada di kisaran USD78 per ons.

Dealer bullion di Chennai menyebut toko perhiasan saat ini mengalami penurunan kunjungan konsumen secara signifikan. Pembeli memilih menunggu arah harga emas yang dinilai terlalu liar dalam beberapa pekan terakhir.

“Retail konsumen kesulitan membaca arah harga emas sekarang. Banyak yang memilih menunggu di luar pasar,” ujar seorang dealer bullion di Chennai.

Tekanan di India juga datang dari kebijakan pemerintah yang menaikkan bea impor emas dan perak menjadi 15 persen dari sebelumnya 6 persen. Kenaikan tarif tersebut membuat pelaku usaha perhiasan lebih berhati-hati menambah stok.

Premi Emas China Menyempit

Sementara di China, premi emas fisik menyempit menjadi hanya USD9 hingga USD12 per ons dibanding harga global. Padahal pekan lalu premi masih berada di kisaran USD10 hingga USD20 per ons.

Head of Dealing Wing Fung Precious Metals, Peter Fung, mengatakan permintaan emas di China mulai melambat karena investor masih menunggu perkembangan konflik Timur Tengah.

“Banyak pembeli memilih melihat situasi terlebih dahulu karena konflik Timur Tengah masih belum benar-benar jelas,” kata Fung.

Di pasar Asia lainnya, emas di Hong Kong diperdagangkan dari posisi par hingga premium USD1,80 per ons. Di Jepang, emas diperdagangkan dengan diskon USD0,50 per ons, sedangkan Singapura berada di kisaran diskon USD0,25 hingga premium USD3,50 per ons.

Pelaku pasar kini mulai memperhatikan area USD4.360 per ons sebagai level teknikal penting emas global. Level tersebut dinilai menjadi area pertahanan utama setelah harga sempat menyentuh titik terendah dua bulan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79