Logo
>

Saham Dell Bikin Nasdaq Melesat 0,21 Persen, Wall Street Pecah Poin

Dell memantik reli saham AI di Wall Street saat Nasdaq dan S&P 500 kembali mencetak rekor baru di tengah bayang-bayang inflasi AS dan tensi Iran.

Ditulis oleh Yunila Wati
Saham Dell Bikin Nasdaq Melesat 0,21 Persen, Wall Street Pecah Poin
Nasdaq Composite bertambah 55,15 poin atau 0,21 persen ke level 26.972,62. (Foto: Public Domain Pictures)

KABARBURSA.COM – Wall Street kembali menutup perdagangan di zona hijau pada Jumat waktu Amerika Serikat atau Sabtu dini hari WIB. Tiga indeks utama kompak mencetak rekor penutupan baru di tengah reli saham teknologi yang semakin panas.

Reli tersebut terjadi usai laporan keuangan Dell yang memantik kembali euforia kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 363,37 poin atau 0,72 persen ke level 51.032,34. Sementara itu, S&P 500 menguat 16,44 poin atau 0,22 persen ke posisi 7.580,07 dan Nasdaq Composite bertambah 55,15 poin atau 0,21 persen ke level 26.972,62.

Reli Wall Street kali ini kembali dipimpin sektor teknologi. Dell Technologies melonjak 32,8 persen setelah menaikkan proyeksi pendapatan dan laba sepanjang tahun. Lonjakan itu langsung menular ke saham-saham bertema AI dan server data center.

Hewlett Packard Enterprise ikut melesat 12,6 persen, sedangkan Super Micro Computer naik 11,6 persen. Microsoft juga menguat tajam sebesar 5,4 persen dan menjadi salah satu penopang utama kapitalisasi Nasdaq.

Sektor teknologi dalam indeks S&P 500 naik 1,87 persen. Sementara indeks perangkat lunak dan layanan teknologi melonjak lebih dari 6 persen sekaligus menghapus seluruh koreksi sejak akhir Januari ketika pasar sempat khawatir terhadap risiko disrupsi AI.

Chief Equity Strategist Wells Fargo Ohsung Kwon, mengatakan reli pasar saat ini memang sangat ditopang optimisme terhadap AI dan pertumbuhan laba emiten teknologi.

“Sentimen euforia terhadap AI memang sangat terasa di pasar saat ini. Reli saham benar-benar didorong oleh pertumbuhan laba perusahaan,” ujar Kwon.

Ia bahkan menyarankan investor tetap memegang saham-saham AI sambil memanfaatkan strategi covered call untuk mendapatkan tambahan pendapatan dari opsi.

Negosiasi AS-Iran

Selain faktor AI, pasar juga memantau perkembangan negosiasi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden Donald Trump menyatakan akan mengambil keputusan final terkait potensi kesepakatan dengan Iran pada Jumat waktu setempat.

Meski ketegangan Timur Tengah masih membayangi pasar energi dan inflasi global, investor tetap agresif memburu saham teknologi yang dianggap memiliki prospek pertumbuhan laba paling kuat.

Head of Investment Decision Research SimCorp Melissa Brown, mengatakan kenaikan volume transaksi menunjukkan semakin banyak investor mulai kembali masuk ke pasar saham Amerika Serikat.

“Volume perdagangan terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Itu menunjukkan partisipasi investor mulai kembali besar,” kata Brown.

Kinerja Wall Street Sepekan

Secara mingguan, Nasdaq menjadi indeks dengan kenaikan paling tinggi setelah melesat 2,39 persen. S&P 500 naik 1,43 persen dan Dow Jones bertambah 0,9 persen.

Kinerja bulanan Wall Street juga terlihat impresif. Sejak akhir April, Nasdaq sudah melonjak 8,36 persen, S&P 500 naik 5,15 persen, dan Dow Jones menguat 2,78 persen.

S&P 500 bahkan mencatat kenaikan mingguan selama sembilan pekan berturut-turut. Itu menjadi rekor reli mingguan terpanjang sejak Desember 2023.

Sektor dan Emiten Berkinerja Buruk

Meski mayoritas sektor menguat, tidak semua saham ikut menikmati pesta reli tersebut. Sektor komunikasi justru melemah setelah Alphabet turun 2,5 persen.

Saham konsumer defensif juga tertekan. Costco turun 3,9 persen dan Walmart melemah 2,6 persen.

Tekanan juga muncul pada saham otomotif setelah muncul laporan bahwa pemerintahan Trump ingin kendaraan produksi Amerika Utara memiliki kandungan regional minimal 82 persen agar mendapat perlakuan preferensial dalam perjanjian dagang USMCA.

General Motors turun 1,3 persen, sedangkan saham Stellantis yang diperdagangkan di AS melemah 2,7 persen.

Bayang-bayang Inflasi AS

Dari sisi makroekonomi, pasar juga masih dibayangi inflasi Amerika Serikat yang meningkat paling cepat dalam tiga tahun terakhir pada April. Produk domestik bruto atau PDB kuartal I juga direvisi turun menjadi hanya tumbuh 1,6 persen secara tahunan.

Pejabat Federal Reserve mulai memberi sinyal lebih hawkish. Presiden The Fed Kansas City Jeffrey Schmid, memperingatkan guncangan harga energi bisa bertahan lebih lama dari perkiraan. Sementara Vice Chair for Supervision Michelle Bowman, menyebut inflasi yang terus naik berpotensi memaksa bank sentral memperketat kebijakan moneternya.

Pasar uang kini memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dan membuka peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember 2026.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79