KABARBURSA.COM – Harga minyak dunia bergerak melemah pada perdagangan Jumat waktu Eropa. Pelemahan terjadi di tengah kenaikan produksi energi Amerika Serikat dan turunnya permintaan pasar global. Minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) sama-sama terkoreksi setelah sebelumnya sempat reli akibat perang Iran.
Kontrak minyak mentah WTI pengiriman Juli di New York Mercantile Exchange turun ke kisaran USD88,42 per barel pada perdagangan intraday. Dalam sesi terbaru, harga bahkan bergerak lebih rendah ke area USD87,36 atau turun sekitar 1,73 persen.
Berdasarkan data perdagangan, WTI bergerak dalam rentang harian USD86,36 hingga USD89,02 per barel. Sementara dalam setahun terakhir, harga minyak Amerika Serikat tersebut masih tercatat melonjak lebih dari 43 persen.
Di sisi lain, minyak Brent pengiriman Agustus di ICE London turun 0,90 persen ke level USD91,87 per barel. Selisih harga atau spread antara Brent dan WTI tercatat berada di kisaran USD3,45 per barel.
Konflik dan Kenaikan Produksi AS
Pasar minyak global saat ini mulai menghadapi tarik-menarik sentimen baru. Di satu sisi, konflik Iran masih menjaga premi risiko geopolitik tetap tinggi. Di sisi lain, pasar mulai melihat kenaikan produksi minyak Amerika Serikat yang berpotensi meredam tekanan pasokan global.
Data terbaru Energy Information Administration (EIA) menunjukkan produksi minyak mentah Amerika Serikat pada Maret relatif stabil di level 13,7 juta barel per hari atau barrels per day (bpd).
Meski total produksi nasional cenderung stagnan, ada perubahan penting di wilayah utama penghasil minyak Amerika Serikat. Produksi di Texas turun menjadi 5,78 juta bpd dan menjadi level terendah dalam empat bulan terakhir.
Sebaliknya, produksi di New Mexico bertahan stabil di kisaran 2,31 juta bpd. Kedua wilayah tersebut merupakan bagian dari Permian Basin, ladang minyak terbesar Amerika Serikat yang menyumbang hampir separuh produksi minyak nasional.
Pasar memperkirakan produksi minyak Amerika Serikat sebenarnya mulai kembali meningkat setelah Maret. Kenaikan harga minyak akibat perang Iran mendorong operator energi mempercepat aktivitas produksi demi menangkap momentum harga tinggi.
Kondisi ini membuat pasar mulai mempertimbangkan potensi bertambahnya pasokan global dalam beberapa bulan ke depan. Ketika suplai meningkat, ruang kenaikan harga minyak menjadi lebih terbatas meski tensi geopolitik belum sepenuhnya reda.
Produksi Gas Alam AS Naik
Selain minyak mentah, produksi gas alam Amerika Serikat juga menunjukkan kenaikan. Produksi bruto gas alam pada Maret naik menjadi 135,52 miliar kaki kubik per hari dibanding Februari sebesar 134,63 miliar kaki kubik per hari.
Texas kembali menjadi kontributor utama dengan produksi gas mencapai rekor baru 38,68 miliar kaki kubik per hari. Namun Pennsylvania justru mencatat penurunan produksi sebesar 0,5 persen menjadi 21,29 miliar kaki kubik per hari.
EIA: Permintaan Minyak Turun
Dari sisi permintaan, EIA mencatat total konsumsi minyak mentah dan produk turun menjadi 20,38 juta bpd. Angka tersebut menjadi level terendah sejak November lalu.
Meski demikian, permintaan energi Amerika Serikat secara tahunan masih tumbuh sekitar 2,2 persen. Artinya, konsumsi energi belum benar-benar melemah, tetapi laju pertumbuhannya mulai melambat dibanding periode awal konflik Timur Tengah.
Pergerakan dolar Amerika Serikat juga ikut memengaruhi pasar energi. Indeks dolar AS bergerak naik tipis 0,03 persen ke area 99,00, membuat harga komoditas berbasis dolar seperti minyak menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli luar negeri.
Pelaku pasar kini mulai memperhatikan area support WTI di kisaran USD86,75 per barel. Sementara area resistance terdekat berada di level USD99,43 per barel.
Dengan kondisi tersebut, pasar minyak dunia saat ini bergerak di antara dua tekanan besar, yakni risiko geopolitik Timur Tengah dan potensi lonjakan suplai dari Amerika Serikat yang mulai kembali agresif memompa produksi.(*)