Logo
>

Harga Komoditas Dunia Mulai Turun, Era Boom Perlahan Menutup Bab

World Bank memproyeksikan harga energi, pangan, dan logam memasuki fase moderasi pada 2026, di tengah perlambatan ekonomi global dan ketidakpastian geopolitik.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Harga Komoditas Dunia Mulai Turun, Era Boom Perlahan Menutup Bab
Harga komoditas global diproyeksikan turun pada 2026. World Bank menilai era boom mulai berakhir, meski emas masih mencatat kenaikan. Foto: Dok. KabarBursa

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM – Pasar komoditas dunia bergerak menuju fase yang lebih dingin. Setelah bertahun-tahun bergejolak akibat pandemi, perang, dan krisis pasokan, harga-harga komoditas global kini mulai turun secara bertahap. Bank Dunia memproyeksikan harga komoditas global akan turun sekitar 7 persen pada 2026, yang artinya menandai tahun keempat berturut-turut tren moderasi harga.

    Pelemahan ini bukan datang tiba-tiba. Aktivitas ekonomi global yang melambat, ketegangan perdagangan yang belum reda, serta ketidakpastian kebijakan di banyak negara menjadi faktor utama yang menekan pasar. Pasokan minyak yang melimpah turut memperbesar tekanan. Senior Agriculture Economist Bank Dunia, John Baffes, bersama tim Research Analyst Bank Dunia Kaltrina Kemaj mencatat, energi diperkirakan menjadi sektor yang paling terdampak dengan harga turun sekitar 10 persen pada 2026, setelah sebelumnya sudah merosot 12 persen pada 2025.

    Logam dan mineral diperkirakan relatif stabil, sementara harga komoditas pertanian cenderung melemah seiring kondisi pasokan yang lebih longgar. Di sisi lain, logam mulia justru bergerak berlawanan arah. Emas, perak, dan platinum diproyeksikan naik sekitar 5 persen pada 2026, melanjutkan lonjakan besar lebih dari 40 persen pada 2025 yang didorong oleh arus investasi.

    “Selama enam bulan terakhir, pasar komoditas berada di bawah tekanan akibat aktivitas ekonomi yang lemah, pembatasan perdagangan, ketidakpastian kebijakan, dan guncangan pasokan terkait cuaca,”dikutip dari riset Baffes dan Tenaj di laman World Bank Blogs, Minggu, 10 Januari 2026.

    Minyak Tertekan, Pasokan Menang atas Permintaan

    Sepanjang 2025, harga minyak bergerak menurun dengan fluktuasi sesekali. Ketegangan geopolitik memang sempat memicu lonjakan singkat, tetapi tren besarnya tetap turun. Produksi global meningkat setelah OPEC+ secara bertahap menaikkan target produksi sejak April. Secara tahunan, pasokan minyak dunia naik sekitar 3 juta barel per hari.

    Di saat yang sama, permintaan justru tertahan. Konsumsi global hanya tumbuh kurang dari 1 juta barel per hari, baik pada 2025 maupun 2026. Ketimpangan ini membuat pasar minyak berpotensi menghadapi surplus besar.

    Bank Dunia mencatat harga minyak Brent rata-rata berada di kisaran USD68 per barel pada 2025, turun USD13 dibandingkan 2024, dan memproyeksikan melemah ke sekitar USD60 per barel pada 2026. “Dengan permintaan yang tertinggal di belakang pasokan, pasar minyak kemungkinan menghadapi surplus yang cukup besar,” tulis mereka.

    Gas Alam Terbelah, Amerika dan Eropa Jalan Sendiri-sendiri

    Harga gas alam mulai turun dari lonjakan awal tahun 2025, tetapi pergerakannya berbeda tajam antar-wilayah. Indeks harga gas alam Bank Dunia turun tipis pada Oktober 2025, melanjutkan penurunan 5 persen secara kuartalan pada kuartal III 2025.

    Namun, di balik angka agregat itu, Amerika Serikat dan Eropa justru berjalan ke arah berbeda. Dibandingkan tahun 2024, harga acuan gas AS melonjak 44 persen pada kuartal III 2025 karena didorong permintaan LNG yang kuat. Sebaliknya, harga gas Eropa relatif stagnan.

    Lonjakan di awal tahun lalu dipicu kombinasi cuaca dingin dan turunnya produksi energi terbarukan di Eropa. Ke depan, harga gas diperkirakan bergerak divergen. Setelah melonjak sekitar 60 persen pada 2025, harga gas AS diproyeksikan naik lagi 11 persen pada 2026 sebelum stabil. Sementara itu, harga gas Eropa justru diperkirakan turun 11 persen pada 2026 dan 9 persen pada 2027 seiring pasokan LNG yang lebih longgar.

    Pertanian Melunak, Pupuk Justru Membara

    Harga komoditas pertanian cenderung melemah. Indeks harga pertanian Bank Dunia turun pada Oktober, melanjutkan penurunan kuartalan kedua berturut-turut. Panen musiman di belahan utara, pasokan gandum yang melimpah, serta membaiknya cuaca di wilayah penghasil kakao dan kopi menjadi penopang tren ini.

    Secara keseluruhan, harga pertanian diperkirakan stabil pada 2025 dan turun sekitar 2 persen pada 2026. Harga pangan dan bahan baku relatif datar, sementara harga minuman diperkirakan turun 7 persen tahun depan karena peningkatan produksi.

    Namun, cerita berbeda datang dari pupuk. Indeks harga pupuk melonjak hampir 14 persen secara kuartalan, naik lima kuartal berturut-turut, dan kini berada 28 persen lebih tinggi dibandingkan setahun lalu. Urea, TSP, dan DAP mencatat kenaikan tajam.

    “Kenaikan ini mencerminkan permintaan yang kuat, pembatasan perdagangan, dan kekurangan produksi, terutama untuk urea,” tulis mereka. Keudanya menambahkan, harga pupuk naik 21 persen pada 2025 sebelum melandai, meski tetap tinggi dibandingkan rata-rata sebelum pandemi.

    Logam Dasar Naik, Bijih Besi Tertinggal

    Harga logam dasar terus menguat seiring permintaan global yang relatif tangguh. Investasi besar pada energi terbarukan dan infrastruktur, khususnya di China, mendorong permintaan aluminium, tembaga, dan timah. Namun, lesunya sektor properti China masih menekan logam yang terkait konstruksi, seperti bijih besi.

    Secara keseluruhan, harga logam dasar naik 3 persen pada 2025, lalu diramalkan bakal relatif stabil pada 2026, dan naik tipis 2 persen pada 2027. Bijih besi justru turun 10 persen pada 2025, lalu melemah lagi pada 2026 dan 2027.

    Emas Bersinar di Tengah Ketidakpastian

    Di tengah pelemahan energi dan pangan, logam mulia menjadi pengecualian. Harga emas dan perak mencetak rekor tertinggi, didorong permintaan investasi, ketegangan geopolitik, dan ketidakpastian kebijakan. Pembelian bank sentral lebih dari dua kali lipat dibandingkan rata-rata 2015–2019.

    “Reli harga emas didorong oleh permintaan investasi yang kuat, ketegangan geopolitik, dan ketidakpastian kebijakan,” tulis laporan tersebut.

    Setelah melonjak 42 persen pada 2025, harga emas diperkirakan tetap naik 5 persen pada 2026 dan 6 persen pada 2027, meski dengan laju yang lebih moderat.

    Laporan Bank Dunia ini menegaskan satu hal. Dunia sedang memasuki fase harga komoditas yang lebih terkendali, tetapi tidak sepenuhnya jinak. Energi dan pangan melunak, logam industri bergerak selektif, pupuk tetap mahal, dan emas menjadi tempat berlindung baru.

    Bagi negara berkembang seperti Indonesia, lanskap ini menghadirkan paradoks. Harga energi dan pangan yang turun memberi ruang fiskal, tetapi lonjakan pupuk dan volatilitas logam menuntut kewaspadaan. Pasar boleh terlihat tenang, namun struktur risikonya sedang berubah.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Moh. Alpin Pulungan

    Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

    Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).