Logo
>

Harga Nikel Dunia Menguat Usai Sinyal Pengetatan Produksi di RI

Harga nikel LME naik 2,2 persen dipicu sinyal pengetatan produksi Indonesia dan ketidakpastian kuota tambang melalui RKAB 2026.

Ditulis oleh Citra Dara Vresti Trisna
Harga Nikel Dunia Menguat Usai Sinyal Pengetatan Produksi di RI
Ilustrasi kenaikan harga nikel dunia. Foto: dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM – Harga nikel dunia menguat setelah pasar merespons sinyal pengetatan produksi tambang di Indonesia. Hingga kini, pelaku industri global masih menunggu kepastian final kuota produksi nasional melalui mekanisme Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.

Dilansir dari Reuters, harga kontrak nikel tiga bulan di London Metal Exchange (LME) naik sekitar 2,2 persen menjadi USD17.880 per ton dan sempat menyentuh USD17.980 per ton, level tertinggi sejak akhir Januari. Kenaikan ini memperpanjang reli harga nikel dalam beberapa hari terakhir.

Penguatan harga terjadi setelah muncul laporan bahwa izin produksi PT Weda Bay Nickel di Indonesia untuk 2026 ditetapkan sebesar 12 juta wet metric tons, turun dibandingkan izin awal 2025 yang mencapai 32 juta ton dan sempat direvisi naik hingga 42 juta ton.

Pasar membaca perkembangan tersebut sebagai sinyal potensi pengetatan suplai dari Indonesia, produsen nikel terbesar dunia sekaligus pemasok utama bahan baku industri baja tahan karat dan baterai kendaraan listrik.

Reuters juga menyoroti laporan media di Indonesia yang menyebut persetujuan RKAB produksi nikel nasional 2026 mengerucut di kisaran 260–270 juta ton, lebih rendah dibanding kuota produksi 2025 yang mencapai sekitar 379 juta ton.

Meski demikian, pemerintah Indonesia menegaskan pembahasan kuota produksi masih berlangsung. Juru bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), seperti disitat Reuters, menyatakan bahwa seluruh RKAB masih dalam tahap pembahasan, termasuk kemungkinan penyesuaian produksi sejumlah komoditas mineral dan batu bara.

“Seluruh RKAB masih dalam pembahasan, termasuk penyesuaian produksi beberapa komoditas mineral dan batu bara,” ujar perwakilan ESDM, seperti dilansir Reuters.

Sementara itu, perusahaan tambang Prancis Eramet, mitra dalam proyek Weda Bay Nickel, menyatakan akan mengajukan peninjauan ulang kuota produksi. Perusahaan tersebut, dikutip Reuters, menyebut pihaknya akan segera mengajukan permohonan revisi kenaikan volume produksi.

Media komoditas Argus turut melaporkan pelaku pasar masih menunggu kejelasan implementasi kebijakan tersebut, termasuk waktu efektif pemberlakuan kuota baru, mengingat mekanisme RKAB masih memungkinkan adanya penyesuaian lanjutan.

Media lokal yang berbasis di London itu juga menyebut implementasi penuh kebijakan kuota produksi baru diperkirakan berjalan setelah proses administrasi RKAB selesai, sehingga pasar global masih mencermati perkembangan keputusan final pemerintah Indonesia.

Media industri pertambangan, disitat dari laporan internasional, menilai mekanisme izin produksi tahunan Indonesia melalui RKAB menjadi faktor penting dalam menentukan keseimbangan suplai global, mengingat posisi Indonesia sebagai pemasok utama bijih nikel dunia.

Perkembangan pembahasan RKAB tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena perubahan kuota produksi Indonesia kerap memengaruhi ekspektasi pasokan global, yang pada akhirnya tercermin dalam pergerakan harga nikel di pasar internasional.

Indonesia selama ini menjadi penentu utama dinamika pasar nikel global, sehingga setiap perubahan kebijakan produksi di dalam negeri langsung mendapat respons dari pasar komoditas dunia yang kini masih menunggu kepastian kuota produksi final untuk tahun depan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Citra Dara Vresti Trisna

Citra Dara Vresti Trisna adalah Asisten Redaktur KabarBursa.com yang memiliki spesialisasi dalam analisis saham dan dinamika pasar modal. Dengan ketelitian analitis dan pemahaman mendalam terhadap tren keuangan, ia berperan penting dalam memastikan setiap publikasi redaksi memiliki akurasi data, konteks riset, dan relevansi tinggi bagi investor serta pembaca profesional. Gaya kerjanya terukur, berstandar tinggi, dan berorientasi pada kualitas jurnalistik berbasis fakta.