KABARBURSA.COM – HSBC Global Research menilai perbaikan ekonomi Indonesia di akhir 2025 masih menyisakan risiko struktural yang perlu dicermati. Hal ini terjadi karena dorongan konsumsi domestik lebih banyak bersumber dari penarikan tabungan masyarakat, bukan dari peningkatan upah dan penciptaan lapangan kerja yang berkelanjutan.
HSBC menggaris bawahi, ekspor tidak selalu berperan dominan terhadap ekonomi, tetapi juga konsumsi dalam negeri yang tumbuh cukup cepat, khususnya dalam tiga bulan terakhir tahun tersebut.
Managing Director, Chief India Economist and Macro Strategist, ASEAN Economist dari HSBC Global Research, Pranjul Bhandari melihat Indonesia mengalami pertumbuhan yang membaik dari waktu ke waktu sepanjang 2025.
"Kami juga melihat sinyal serupa pada pertumbuhan kredit. Pada awal 2025, pertumbuhan kredit masih sangat lemah, namun seiring berjalannya waktu, pertumbuhan kredit mulai meningkat," kata Pranjul dalam keterangannya, Senin, 12 Januari 2026.
Meski demikian, peningkatan ini tidak merata di semua sektor. Pertumbuhan kredit justru paling terlihat pada investasi usaha kecil, yang menunjukkan kenaikan cukup signifikan.
Selain itu, sejumlah indikator kepercayaan konsumen dalam catatan HSBC juga terpantau meningkat. "Secara umum, saya menilai bahwa tahun 2025 ditutup dengan kinerja yang cukup baik. Namun demikian, terdapat beberapa kelemahan yang perlu dicermati. Salah satu kelemahan tersebut adalah pola konsumsi masyarakat yang sebagian besar didorong oleh penarikan tabungan," terang Pranjul.
Kondisi tersebut mencerminkan bahwa masyarakat cukup agresif untuk mengurangi tabungan di bank demi membiayai konsumsi atau kebutuhan sehari-hari.
Catatan tersebut perlu dicermati. Sebab mengikisnya tabungan masyarakat adalah pertanda pelemahan ekonomi. Hal ini harus diselesaikan pemerintah dan berbagai pihak.
"Dalam jangka pendek, konsumsi yang tinggi memang positif, tetapi dalam jangka menengah dan panjang, konsumsi idealnya ditopang oleh peningkatan upah dan lapangan kerja, bukan oleh pengurangan tabungan," sebut Pranjul.
HSBC Global Research menambahkan, tantangan ini lah yang berikutnya harus dicari jalan keluarnya untuk ekonomi Indonesia 2026.
"Yaitu bagaimana meningkatkan pertumbuhan jangka menengah agar dapat menciptakan pekerjaan yang lebih baik dan pendapatan yang lebih tinggi," pungkas Pranjul.(*)