KABARBURSA.COM — Kekhawatiran geopolitik ternyata belum cukup kuat untuk mengubah arah pasar minyak dunia. International Energy Agency (IEA) menilai pasar minyak global justru akan memasuki fase surplus besar pada kuartal pertama 2026, seiring pasokan yang melimpah menutupi risiko gangguan produksi akibat konflik geopolitik.
Dalam laporan bulanan terbarunya yang dikutip Jumat, 23 Januari 2026, IEA memproyeksikan pasokan minyak global akan melampaui permintaan sebesar 4,25 juta barel per hari pada kuartal I 2026. Surplus sebesar itu setara dengan sekitar 4 persen dari total permintaan dunia, dan lebih besar dibandingkan proyeksi lembaga lain.
Kondisi ini terjadi meski harga minyak sempat naik sekitar 6 persen sejak awal tahun, didorong kekhawatiran pasar terhadap geopolitik dan potensi gangguan pasokan. Pada Rabu siang waktu GMT, patokan global Brent diperdagangkan di level USD65,02 per barel (sekitar Rp1,10 juta per barel), naik tipis 10 sen dibanding hari sebelumnya.
Sejumlah peristiwa global sebenarnya sempat mengangkat sentimen risiko. Amerika Serikat menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro di awal bulan dan mendorong perusahaan minyak untuk kembali berinvestasi di Venezuela guna mendongkrak produksi. Namun dalam jangka pendek, langkah ini justru mengganggu pasokan minyak dari negara tersebut.
Ancaman potensi serangan Amerika Serikat ke Iran juga memunculkan kekhawatiran penurunan pasokan. Di Kazakhstan, serangan drone dan masalah teknis turut menekan produksi. Meski begitu, IEA menilai gangguan tersebut belum cukup besar untuk membalikkan keseimbangan pasar.
“Dengan tidak adanya gangguan signifikan terhadap pasokan dari Iran, Venezuela, atau pemangkasan tambahan dari produsen lain, surplus yang besar kemungkinan akan kembali muncul pada kuartal pertama 2026,” kata IEA, dikutip dari Reuters.
“Untuk saat ini, kondisi neraca pasokan yang gemuk memberi kenyamanan bagi pelaku pasar dan menahan kenaikan harga,” imbuh mereka.
OPEC+ Rem Dulu, tapi Produksi Sudah Terlanjur Naik
Lonjakan pasokan terjadi karena produksi meningkat lebih cepat dibandingkan pertumbuhan permintaan. Faktor utamanya datang dari OPEC+, yang mulai menaikkan produksi sejak April 2025 setelah bertahun-tahun melakukan pemangkasan.
Selain OPEC+, produsen lain seperti Amerika Serikat, Guyana, dan Brasil juga ikut menambah produksi. Meski demikian, OPEC+ memutuskan menghentikan sementara kenaikan produksi untuk kuartal pertama 2026.
Secara tahunan, IEA memperkirakan pasar minyak global akan mencatat surplus implisit sebesar 3,69 juta barel per hari pada 2026. Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan proyeksi bulan sebelumnya sebesar 3,84 juta barel per hari.
IEA sedikit menaikkan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global tahun ini sebesar 70 ribu barel per hari, menjadi 930 ribu barel per hari. Revisi ini didasarkan pada normalisasi kondisi ekonomi global setelah gejolak tarif tahun lalu, serta harga minyak yang lebih rendah dibandingkan setahun sebelumnya.
Namun, lembaga tersebut menegaskan masih terlalu dini untuk menilai dampak penuh seluruh perkembangan geopolitik terbaru terhadap pasar minyak. Salah satu yang sudah terlihat, blokade Amerika Serikat terhadap pengiriman minyak Venezuela telah memangkas ekspor negara itu sekitar 580 ribu barel per hari dari Desember hingga awal Januari.
Musim Perawatan Kilang Tambah Tekanan
Surplus diperkirakan paling terasa pada kuartal pertama karena bertepatan dengan musim perawatan kilang minyak global. Pada periode ini, banyak kilang melakukan penghentian operasi terencana sehingga permintaan minyak mentah ikut turun.
“Dengan dimulainya musim perawatan kilang yang menurunkan permintaan minyak mentah, pengurangan produksi minyak mentah lebih lanjut akan dibutuhkan,” kata IEA yang berbasis di Paris.
Pandangan IEA ini tidak sepenuhnya sejalan dengan OPEC. Kartel minyak tersebut memperkirakan pertumbuhan permintaan global akan lebih cepat, yakni 1,38 juta barel per hari tahun ini. Berdasarkan perhitungan Reuters atas data OPEC, pasar minyak pada 2026 justru mendekati keseimbangan antara pasokan dan permintaan, bukan surplus besar.
Dari sisi pasokan, IEA juga merevisi naik proyeksi pertumbuhan pasokan global tahun ini menjadi 2,5 juta barel per hari, dari sekitar 2,4 juta barel per hari pada Desember. Sekitar 52 persen pertumbuhan pasokan tersebut diperkirakan berasal dari produsen di luar OPEC+.
Walhasil, meski geopolitik global memanas, pasar minyak dunia masih dibayangi limpahan pasokan. Selama gangguan besar tidak benar-benar terjadi, harga minyak berpotensi tetap tertahan—bahkan ketika ketegangan politik terus mengisi headline global.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.