KABARBURSA.COM – Pasar modal Indonesia menunjukkan ketahanan yang solid pada awal Januari 2026. Di tengah memanasnya kondisi geopolitik penangkapan Presiden Venezuela Nicholas Maduro oleh Amerika Serikat (AS), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bertahan di level tertinggi.
Pada perdagangan Senin, 6 Januari 2026, IHSG bergerak stabil di level 8.861,84 atau menguat 2,65 poin setara 0,03 persen. Sepanjang sesi perdagangan, indeks bergerak dalam rentang 8.839 hingga 8.895 dengan nilai transaksi mencapai sekitar Rp7,95 triliun dan volume perdagangan mendekati 188 juta lot. Aktivitas investor asing juga masih mencatatkan pembelian bersih sekitar Rp38,87 miliar di seluruh pasar.
Ketahanan IHSG ini terjadi bersamaan dengan lonjakan tajam di pasar saham Venezuela. Bursa Caracas justru mencatat reli signifikan, dengan indeks utama Caracas Stock Exchange melonjak hampir 17 persen dalam satu hari setelah kabar penangkapan Maduro. Respons ini memperkuat pandangan bahwa pasar melihat peristiwa tersebut sebagai sumber kepastian politik, bukan ancaman eskalasi konflik.
Analis pasar modal dari Traderindo, Wahyu Tri Laksono, menilai sejak awal bahwa isu Venezuela tidak memiliki dampak sistemik bagi pasar keuangan global, termasuk Indonesia. “Jelas sekali Venezuela bukan isu global,” ujar Wahyu kepada KabarBursa.com pada Selasa, 6 Januari 2026.
Menurutnya, investor global mampu membedakan konflik regional dengan konflik yang berpotensi memicu gejolak lintas negara. Kasus Venezuela dinilai tidak sebanding dengan ketegangan geopolitik di kawasan strategis seperti Timur Tengah.
“Itu bukan Timur Tengah yg bisa memicu spill over dan eskalasi,” kata Wahyu.
Ia menambahkan bahwa peristiwa ini lebih tepat dipandang sebagai urusan domestik kawasan Amerika Latin, dengan implikasi yang sangat terbatas terhadap perdagangan dan arus modal global. “Ini bisa dianggap urusan domestik atau tetangga saja,” ujarnya.
Wahyu juga mengaitkan kondisi saat ini dengan preseden sejarah, ketika Amerika Serikat pernah menangkap pemimpin negara lain di kawasan tersebut tanpa memicu gejolak pasar global.
“Pernah terjadi dengan penangkapan pemimpin Panama,” kata Wahyu.
Dalam konteks geopolitik global, ia menegaskan bahwa situasi Venezuela sangat berbeda dengan krisis Kuba pada era Perang Dingin yang kala itu melibatkan kekuatan besar dunia. “Beda dengan Kuba, yg didukung Rusia, jaman Kennedy,” ujar Wahyu.
Lebih lanjut, Wahyu menilai ketangguhan IHSG juga tidak lepas dari dominasi sentimen domestik di awal tahun. Optimisme investor terhadap stabilitas ekonomi nasional, efek awal tahun atau January Effect, serta kepercayaan terhadap arah kebijakan pemerintah menjadi penopang utama pergerakan pasar.
“Kondisi pasar modal saat ini (awal Januari 2026) memang sangat menarik untuk dicermati,” kata Wahyu.
Ia menilai arus dana asing yang masih masuk ke pasar saham Indonesia mencerminkan keyakinan investor terhadap prospek jangka menengah, khususnya pada saham-saham berkapitalisasi besar di sektor perbankan dan komoditas. Dalam kondisi seperti ini, isu politik di Amerika Latin cenderung hanya menjadi noise jangka pendek.
Lantaran bertahannya IHSG di dekat level tertinggi sepanjang masa, pasar modal Indonesia menunjukkan kedewasaan dalam menyikapi isu global.
Investor tidak lagi bereaksi berlebihan terhadap headline geopolitik, melainkan lebih fokus pada fundamental ekonomi, likuiditas pasar, dan kepastian kebijakan domestik. Ketangguhan ini sekaligus menjadi sinyal bahwa pasar Indonesia semakin selektif dan rasional dalam membaca risiko global.(*)