KABARBURSA.COM – Indonesia berada di persimpangan struktural industri nikel seiring masifnya ekspansi fasilitas High Pressure Acid Leaching (HPAL) untuk bahan baku baterai. Hal ini terjadi di tengah arah teknologi baterai global yang kian terdiversifikasi.
Ketidaksinkronan ini memunculkan risiko oversupply nikel kelas baterai dalam beberapa tahun ke depan.
Pengamat Komoditas dan Founder Traderindo, Wahyu Tribowo Laksono, menilai ekspansi kapasitas nikel baterai, khususnya melalui jalur HPAL, dibangun dengan asumsi pertumbuhan permintaan yang terlalu agresif.
“Ada risiko oversupply struktural. Ekspansi kapasitas HPAL (High-Pressure Acid Leaching) di Indonesia dibangun berdasarkan ekspektasi pertumbuhan EV yang sangat tinggi,” kata Wahyu kepada KabarBursa.com, Selasa, 6 Januari 2025.
Ia menjelaskan, struktur konsumsi nikel global hingga saat ini masih didominasi oleh sektor non-baterai. Stainless steel menyerap sekitar 65–70 persen konsumsi nikel global.
Sementara kebutuhan baterai EV baru berada di kisaran 10–15 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa permintaan nikel baterai belum menjadi penopang utama pasar secara keseluruhan.
Di sisi pasokan, Indonesia telah mengumumkan dan mengembangkan lebih dari 15 proyek HPAL hingga 2025–2026, dengan tambahan kapasitas diperkirakan mencapai lebih dari 600 ribu ton nikel setara.
Menurut Wahyu, skala ekspansi ini berpotensi tidak sejalan dengan arah teknologi baterai global yang tidak lagi sepenuhnya bergantung pada nikel.
“Jika Na-ion dan LFP mengambil pangsa pasar lebih besar dari perkiraan, pasar nikel kelas 1 (bahan baku baterai) bisa mengalami tekanan harga jangka panjang,” ujarnya.
Ia menambahkan, meskipun nikel masih digunakan pada baterai kendaraan listrik jarak jauh dan berperforma tinggi, pertumbuhan permintaannya tidak lagi secepat proyeksi sebelumnya.
“Pertumbuhan permintaan nikel untuk baterai tetap akan positif karena penetrasi EV global yang meningkat secara total, namun kemiringan kurva pertumbuhannya akan melandai dibanding proyeksi agresif tiga tahun lalu,” kata Wahyu.
Sebelumnya, lembaga riset Wood Mackenzie juga memperingatkan potensi oversupply nikel kelas baterai mulai 2025, seiring bertambahnya pasokan dari Indonesia dan melambatnya laju pertumbuhan permintaan akibat diversifikasi kimia baterai.
Menurut Wahyu, kondisi ini membuat tekanan harga nikel tidak bisa dibaca semata sebagai siklus komoditas biasa.
“Tanpa narasi EV, nikel hanyalah komoditas siklikal biasa, bukan komoditas pertumbuhan (growth commodity),” ujarnya.
Ia menilai, investasi besar Indonesia pada jalur nikel sulfat menjadikan industri domestik lebih sensitif terhadap perubahan teknologi baterai global.
“Indonesia cukup rentan karena investasi besar-besaran telah dialokasikan ke jalur nikel sulfat (jalur baterai). Jika teknologi bergeser ke non-nikel, return on investment (ROI) dari pabrik HPAL yang mahal akan melambat,” kata Wahyu.
Dengan struktur konsumsi yang masih berat ke stainless steel dan pasokan baterai yang terus bertambah, Wahyu menilai risiko industri nikel Indonesia kini lebih bersifat struktural.
“Sejarah menunjukkan bahwa teknologi baru jarang menghapus komoditas lama secara total, melainkan menciptakan segmentasi,” ujarnya.
“Masalahnya, kapasitas yang dibangun terlalu terkonsentrasi pada satu asumsi pertumbuhan,” sambung dia. (*)