KABARBURSA.COM - Anggota Komisi V DPR RI, Ruslan M. Daud, melontarkan desakan keras kepada pemerintah pusat agar segera mengambil langkah konkret menangani tujuh jembatan kritis di jalur lintas tengah Aceh. Infrastruktur tersebut dinilai tak lagi layak fungsi setelah diterjang banjir dan longsor, sementara kelambanan penanganan berisiko memutus jalur nasional sekaligus mengurung kawasan tengah Aceh dari akses vital.
Jalur ini bukan sekadar penghubung. Ia adalah nadi. Ruslan mengingatkan, gangguan sekecil apa pun dapat memantik dampak berantai yang luas, dari terisolasinya warga hingga melonjaknya harga kebutuhan pokok. “Ini jalur utama nasional lintas tengah. Ketika akses terganggu, konsekuensinya dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujar Ruslan di Jakarta, Selasa 30 Desember 2025.
Politikus Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu menegaskan, pembangunan ulang jembatan tidak boleh dilakukan secara serampangan. Diperlukan perencanaan komprehensif dengan skema yang presisi. Salah satu alternatif yang patut dikaji adalah relokasi titik jembatan dari posisi lama, dengan menimbang kondisi geomorfologi, alur sungai, serta aspek keselamatan jangka panjang.
Tujuh jembatan yang masuk radar perhatian berada di jalur lintas tengah, yakni Jembatan Teupin Mane KM 10, Wehni Kulus KM 47, Enang-Enang KM 50, Krung Rongka KM 60, Tenge Besi KM 62, Timang Gajah KM 65, Jembatan Jamur Ujung KM 80, ditambah satu box culvert di Lampahan KM 73.
Selama ini, ruas tersebut menjadi tulang punggung mobilitas manusia dan distribusi logistik di wilayah tengah Aceh. Karena itu, Ruslan menilai spesifikasi dan desain jembatan pengganti harus mempertimbangkan tingkat kerawanan bencana, terutama longsor yang kerap berulang.
“Wilayah tengah memiliki kerentanan bencana yang tinggi. Jembatan yang dibangun ulang harus benar-benar andal dan aman, agar tidak kembali kolaps saat bencana datang,” tegas legislator dari daerah pemilihan Aceh itu.
Ia juga mendorong Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Bina Marga untuk melakukan kalkulasi risiko secara cermat dalam menentukan desain. Ruslan menekankan, jalur Bireuen merupakan koridor strategis yang menghubungkan dataran tinggi Gayo dan kawasan tengah Aceh menuju Medan maupun Banda Aceh.
“Ini menyangkut keberlanjutan hidup masyarakat dan denyut ekonomi daerah. Jalur lintas tengah harus segera dipastikan aman, layak, dan berfungsi optimal,” tutup Ruslan.(*)