KABARBURSA.COM – Kementerian Energi dan Sumber Daya Manusia (ESDM) mengklaim arus investasi di sektor energi cukup besar dalam beberapa tahun terakhir. Namun, besaran modal yang masuk itu tidak berbanding lurus dengan penciptaan lapangan kerja.
Mengacu data Kementerian ESDM, pada 2025, realisasi investasi sektor ESDM tercatat mencapai sekitar USD31,7 miliar. Angka ini kembali naik setelah sempat turun pada 2024.
Secara historis, investasi ESDM bergerak fluktuatif sejak 2019, dengan tekanan terlihat jelas pada 2020 saat pandemi, lalu relatif stabil pada 2021–2022 sebelum kembali meningkat pada 2023.
Jika ditarik lebih panjang, realisasi investasi ESDM pada 2019 berada di kisaran USD32,3 miliar. Nilainya turun menjadi USD26,3 miliar pada 2020, kemudian bergerak di kisaran USD27 miliar pada 2021–2022. Pada 2023, investasi melonjak ke sekitar USD33,2 miliar, sebelum turun lagi menjadi USD29,9 miliar pada 2024 dan naik kembali pada 2025.
Mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah tenaga kerja di sektor ESDM yang dihitung dari kategori pertambangan dan penggalian serta pengadaan listrik dan gas, jumlah pekerja di sektor ini naik dari sekitar 1,62 juta orang pada 2019 menjadi lebih dari 2,09 juta orang pada 2025.
Kenaikan terlihat lebih nyata sejak 2022, seiring pulihnya aktivitas ekonomi dan berjalannya proyek-proyek energi serta pertambangan. Tapi, ketika menyandingkan kedua data BPS dan Kementerian ESDM mulai muncul fakta berbeda.
Rasio investasi per tenaga kerja menurun signifikan jika dibandingkan dengan sebelum pandemi. Pada 2019, rasio ini berada di kisaran USD19,9 ribu per pekerja. Angkanya turun menjadi sekitar USD14,6 ribu pada 2022, sempat naik ke USD16,7 ribu pada 2023, lalu kembali turun pada 2024 dan hanya naik tipis ke sekitar USD15,1 ribu pada 2025.
Artinya, data tambahan investasi tidak selalu menunjukkan tambahan penyerapan tenaga kerja dalam skala yang sebanding. Investasi ESDM tetap besar jumlahnya, tetapi karakter proyek yang dijalankan cenderung membutuhkan modal tinggi dengan basis pekerja yang relatif terbatas.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE), Mohammad Faisal mengungkapkan bahwa ada banyak catatan terkait dengan kualitas investasi di sektor ESDM.
“Yang jelas dari sisi kualitas investasi banyak hal yang perlu diperbaiki, termasuk bukan hanya seberapa besar nilai tambah yang diciptakan dari investasi,” ujar Faisal kepada KabarBursa.com, Selasa, 13 Januari 2026.
Faisal menggaris bawahi, beberapa hal yang harus sesuai berbarengan dengan jumlah investasi adalah dampak bagi masyarakat secara sosial, lingkungan dan persoalan tata kelola, terutama pemberian izin pengelolaan tambang kepada ormas.
Kondisi ini, lanjut dia, mencerminkan tantangan kualitas investasi di sektor ESDM. Menurutnya, ukuran investasi tidak bisa hanya dilihat dari nilai nominal, tetapi juga dari dampaknya terhadap penciptaan nilai tambah dan lapangan kerja.
“Karena dari evaluasi pada 2025, investasi itu walaupun investasi asing secara umum meningkat. Tapi, investasi asing untuk logam dasar, ya yang kaitannya dengan mineral itu meningkat dan PMDN itu juga meningkat. Tapi, semuanya rata-rata penyerapan lapangan pekerjaannya turun. Jadi artinya dari sisi itu, PR-nya besar,” jelas Faisal.
Peningkatan tenaga kerja ESDM yang tercatat dalam data BPS lebih mencerminkan ekspansi aktivitas di lapangan dan pemulihan ekonomi pascapandemi. Namun, kenaikan tersebut belum mampu mengimbangi besarnya nilai investasi yang masuk, sehingga rasio investasi per pekerja tetap berada di bawah level sebelum 2020.
Di lain pihak, Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia menyebut, total investasi di sektor ESDM mencapai USD31,7 miliar. Hal itu disampaikan Bahlil dalam Konferensi Pers Capaian Kinerja Sektor ESDM Tahun 2025 di Jakarta, Kamis, 8 Januari 2026.
Politisi dari Partai Golkar ini juga menambahkan bahwa Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor ESDM melampaui target APBN 2025, dengan realisasi mencapai Rp138,37 triliun atau 108,56 persen dari target yang ditetapkan. Selain itu, Bahlil juga mengungkapkan bahwa pihaknya juga sedang fokus dalam penciptaan lapangan kerja.
“Penciptaan tenaga kerja menjadi salah satu fokus pemerintah di sektor ESDM,” kata Bahlil.