KABARBURSA.COM – Initial Public Offering (IPO) yang ditargetkan Bursa Efek Indonesia (BEI) di sepanjang 2025 tidak mencapai target. Dari target awal yang sempat dipatok 66 perusahaan, lalu direvisi menjadi 45 emiten, realisasinya berhenti di angka 26 IPO.
Penurunan ini lebih pada faktor realitas siklus pasar sepanjang 2025. Kondisi global masih diwarnai suku bunga tinggi, ketidakpastian geopolitik, serta selektivitas investor yang membuat perusahaan menahan diri untuk melantai di bursa.
Karena bagi sebuah perusahaan, IPO bukan sekadar soal tercatat tetapi juga soal valuasi yang layak dan keberhasilan penyerapan saham oleh pasar. Keputusan menunda IPO dianggap sikap rasional, bukan kegagalan struktural pasar modal.
Di sisi lain, nilai dana yang berhasil dihimpun menjadi Rp18 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa IPO yang benar-benar masuk ke pasar Adalah dengan skala dan kualitas yang relatif lebih besar. Investor pun cenderung hanya menyerap emiten dengan fundamental kuat, model bisnis jelas, dan prospek jangka panjang yang kredibel.
Kemudian, BEI juga berhasil melampaui target IPO perusahaan mercusuar, yaitu enam emiten berkapitalisasi di atas Rp3 triliun, lebih tinggi dari target lima perusahaan. Hal ini menegaskan bahwa pasar modal Indonesia tahun ini lebih condong pada quality over quantity.
Jika dilihat dari perspektif struktur pasar, pergeseran ini penting. IPO dengan kapitalisasi besar biasanya membawa free float yang lebih signifikan, likuiditas yang baik, dan daya tarik yang lebih kuat bagi investor institusi, baik domestik maupun asing.
Dampaknya bukan hanya pada dana IPO itu sendiri, tetapi juga pada kedalaman pasar, komposisi indeks, dan stabilitas transaksi harian. Dengan kata lain, meskipun jumlah emiten baru lebih sedikit, kontribusinya terhadap kualitas pasar justru lebih terasa.
Fundraise Pasar Modal Sentuh Rp278 Triliun
Terkait dengan fundraise pasar modal, BEI menyebut angkanya menembus Rp278 triliun. Angka tersebut jauh di atas rata-rata historis sekitar Rp200 triliun per tahun. Sekali lagi, hal ini menandakan bahwa aktivitas pasar modal tidak melambat, melainkan bergeser bentuknya.
Jika IPO saham melambat secara jumlah, penghimpunan dana melalui instrumen lain seperti obligasi, sukuk, right issue, dan aksi korporasi lanjutan justru menguat. Ini menunjukkan bahwa korporasi tetap aktif memanfaatkan pasar modal, hanya saja dengan instrumen yang dianggap lebih sesuai dengan kondisi pasar.
Untuk 2026, target dipatok di angka 50 IPO, disertai lonjakan target efek tercatat menjadi 555 instrumen baru. Alih-alih mengejar kuantitas semata, fokusnya terlihat bergeser pada perluasan kedalaman pasar secara keseluruhan.
Jika pembenahan regulasi, termasuk rencana kenaikan batas minimal free float, berjalan paralel dengan pemulihan sentimen global, maka pipeline IPO berpotensi kembali menguat, baik dari sisi jumlah maupun kualitas.
Dengan demikian, IPO BEI 2025 memang tidak mencapai target secara numerik, tetapi sulit disebut gagal secara substansi. Pasar justru menunjukkan proses seleksi alam yang sehat, di mana hanya emiten dengan skala dan kualitas tertentu yang berhasil masuk dan diserap investor.
Ini bukan tanda pasar melemah, melainkan tanda pasar yang semakin dewasa dan disiplin dalam menilai risiko serta prospek jangka panjang.(*)