Logo
>

JP Morgan: AI tak Hancurkan Pasar, tapi Memisahkan Pemenang dan Pecundang

JP Morgan menilai AI tidak menghancurkan pasar saham, tetapi menciptakan disparitas kinerja antar emiten dan mendorong seleksi investor.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
JP Morgan: AI tak Hancurkan Pasar, tapi Memisahkan Pemenang dan Pecundang
JP Morgan sebut AI tak hancurkan pasar, tapi memisahkan saham unggulan dan tertinggal. Investor dituntut lebih selektif. Foto: Dok. Telkom Indonesia

Poin Penting :

KABARBURSA.COM — Ketakutan pasar terhadap kecerdasan buatan (AI) mulai mengarah pada satu kesimpulan baru. Kekhawatiran yang muncul di kalangan investor bukan kehancuran pasar, melainkan pergeseran medan permainan. Di tengah tekanan terhadap sektor teknologi, investor kini dihadapkan pada realitas yang lebih kompleks bahwa tidak semua saham akan bertahan.

Dalam laporan Global Investment Strategy Maret 2026, JP Morgan menilai era AI justru menciptakan fenomena “dispersi” alias ketimpangan kinerja antar perusahaan yang semakin lebar, alih-alih krisis pasar secara menyeluruh.

Tekanan terhadap sektor software menjadi salah satu sinyal paling nyata. Sejak puncaknya, sektor ini telah terkoreksi sekitar 30 persen. Penurunan ini bukan sekadar koreksi teknikal, melainkan refleksi dari kecemasan pasar terhadap potensi disrupsi AI terhadap model bisnis lama.

Namun, JP Morgan menolak melihat kondisi ini sebagai awal dari kehancuran sektor teknologi. “Kami melihat kisah sektor software ke depan bukan kehancuran, melainkan dispersi, perbedaan kinerja antar perusahaan akan semakin lebar,” tulis tim riset JP Morgan yang dikutip Selasa, 31 Maret 2026.

Alih-alih runtuh secara kolektif, sektor ini justru akan terfragmentasi. Perusahaan dengan fundamental kuat dan keunggulan kompetitif akan bertahan—bahkan unggul—sementara yang lain tertinggal.

Dari E-Commerce ke AI

JP Morgan menarik paralel historis dengan disrupsi sektor ritel akibat e-commerce pada periode 2016–2019. Saat itu, kejatuhan pemain ritel konvensional tidak menjalar menjadi krisis ekonomi yang lebih luas. Sebaliknya, terjadi rotasi menuju pemain baru yang lebih efisien.

Logika yang sama kini mulai terlihat di era AI. Disrupsi memang terjadi, tetapi sifatnya sektoral dan selektif, bukan sistemik. Ini menjelaskan mengapa pasar saham secara keseluruhan masih ditopang oleh pertumbuhan laba, meskipun terjadi tekanan di beberapa sektor.

Dalam konteks ini, strategi investasi ikut berubah. Jika sebelumnya investor bisa mengandalkan tren sektoral secara luas, kini pendekatannya harus lebih granular atau terpisah. JP Morgan secara eksplisit menekankan pentingnya selektivitas.

“Kami tetap selektif dalam software, dengan preferensi pada perusahaan yang memiliki data proprietary dan network effects,” tulis JP Morgan.

Artinya, perusahaan yang memiliki data eksklusif, efek jaringan (network effects), hambatan masuk tinggi, akan lebih tahan terhadap disrupsi AI. Sebaliknya, perusahaan dengan model bisnis yang mudah direplikasi oleh AI berisiko kehilangan relevansi.

Di sisi lain, arus modal mulai bergeser ke sektor yang justru diuntungkan oleh AI. JP Morgan mencatat peningkatan signifikan pada belanja modal (capex) untuk infrastruktur AI, termasuk semikonduktor dan energi. Kenaikan investasi ini bahkan mendorong revisi naik terhadap belanja teknologi global.

Implikasinya adalah semikonduktor dan hardware menjadi penerima manfaat utama, sementara software tradisional berada di bawah tekanan. Fenomena ini mempertegas bahwa AI bukan sekadar tren teknologi, tetapi juga penggerak rotasi besar dalam pasar modal.

Meskipun terjadi disrupsi di beberapa sektor, JP Morgan tetap mempertahankan pandangan konstruktif terhadap pasar secara keseluruhan. Pertumbuhan laba perusahaan masih menjadi penopang utama. Namun, kekuatan pasar ini tidak lagi merata.

Kinerja indeks bisa tetap naik, tetapi di bawah permukaan terjadi perbedaan tajam antara saham yang outperform dan underperform. Di sinilah konsep “dispersi” menjadi kunci memahami dinamika pasar saat ini.

Laporan ini pada akhirnya menggeser cara pandang investor terhadap AI. Risiko bukan lagi pada apakah pasar akan jatuh, melainkan pada kemampuan memilih saham yang tepat. Dalam lanskap baru ini, strategi “beli semua teknologi” tidak lagi relevan.

Investor dituntut untuk lebih tajam membaca fundamental, memahami posisi perusahaan dalam ekosistem AI, dan mengidentifikasi siapa yang benar-benar memiliki daya tahan jangka panjang. Karena di era AI, pasar tidak runtuh, tetapi terseleksi.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).