Logo
>

Kabar dari Iran dan Venezuela Membuat Harga Minyak Semakin Panas

Harga minyak menguat ditopang ketegangan Iran–Venezuela dan eskalasi Rusia-Ukraina. Namun, surplus pasokan global masih membayangi, membuat reli lebih didorong premi risiko ketimbang kekuatan fundamental permintaan.

Ditulis oleh Yunila Wati
Kabar dari Iran dan Venezuela Membuat Harga Minyak Semakin Panas
Ilustrasi: Alat pengangkat minyak dari dalam tanah. (Foto: AI untuk KabarBursa)

KABARBURSA.COM – Pergerakan harga minyak global di akhir pekan ini semakin panas. Ada tarik menarik antara risiko geopolitik yang semakin intens dengan realitas fundamental yang berfokus pada surplus pasokan. Belum lagi kabar dari Iran dan Venezuela yang membuat minyak semakin bergejolak.

Brent ditutup di kisaran USD62–63 per barel, sementara WTI berada di area USD58–59. Secara mingguan, Brent menguat sekitar 4,5 persen dan WTI naik 3,5 persen. Kenaikan ini bukan karena membaiknya permintaan global, melainkan meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan.

Faktor dominan datang dari dua titik panas, yaitu Iran dan Venezuela. Di Iran, protes yang meluas akibat tekanan ekonomi meningkatkan kecemasan pasar soal stabilitas produksi. Laporan pemadaman internet nasional memperkuat persepsi bahwa situasi sosial-politik sedang memburuk, dan pasar secara refleks mempricing risiko ini ke dalam harga. 

Iran adalah salah satu produsen utama OPEC, sehingga setiap sinyal gangguan produksi langsung diterjemahkan sebagai risiko pasokan global.

Di saat yang sama, eskalasi konflik Rusia-Ukraina kembali menjadi katalis. Penggunaan rudal hipersonik Oreshnik oleh Rusia terhadap target infrastruktur energi Ukraina bukan hanya sinyal militer.

Aksi ini memunculkan pesan bahwa aset energi kembali menjadi bagian dari medan konflik. Ini membuat pasar semakin sensitif terhadap headline geopolitik, meskipun secara faktual belum ada gangguan langsung pada pasokan global.

Namun, drama terbesar saat ini tetap berada di Venezuela. Setelah Presiden Nicolas Maduro ditangkap, pemerintahan Trump secara terbuka menyatakan niat untuk mengambil alih kendali sektor minyak Venezuela secara tidak terbatas. 

Washington bahkan berencana menjual hingga 50 juta barel minyak yang saat ini tersimpan di PDVSA. Pernyataan ini memunculkan paradoks besar di pasar. 

Di satu sisi, langkah ini berpotensi menambah pasokan fisik ke pasar global. Tapi di sisi lain, ketidakpastian mengenai mekanisme penjualan, jalur distribusi, dan siapa yang akan mengontrol arus minyak ini, meningkatkan premi risiko.

Persaingan antara Chevron, Vitol, dan Trafigura untuk mendapatkan kontrak ekspor ini menunjukkan bahwa minyak Venezuela kini bukan sekadar komoditas, melainkan instrumen geopolitik. Pasar tidak hanya bertanya berapa banyak minyak yang akan keluar, tetapi siapa yang mengontrolnya, ke mana dialirkan, dan dengan skema apa. 

Ketidakpastian inilah yang membuat harga justru naik, bukan turun.

OPEC Mulai Turunkan Produksi

Dari sisi data pasokan, OPEC memproduksi sekitar 28,40 juta barel per hari pada bulan lalu, turun sekitar 100.000 barel dari bulan sebelumnya. Penurunan ini terutama berasal dari Iran dan Venezuela, dua negara yang saat ini berada di pusat badai geopolitik. 

Ini memberikan legitimasi pada reli harga, karena bukan hanya spekulasi, tetapi sudah mulai tercermin dalam angka produksi.

Namun, pasar tidak sepenuhnya bullish. Persediaan minyak global terus meningkat, dan ini menjadi rem struktural bagi kenaikan harga. Surplus pasokan masih menjadi cerita utama dalam jangka menengah. 

Selama tidak ada gangguan fisik yang signifikan—misalnya, produksi Iran benar-benar lumpuh atau ekspor Venezuela terhenti total—maka reli ini berpotensi rapuh.

Komentar analis yang menyebut bahwa rebound ini “terbatas dan sulit berkelanjutan” mencerminkan pandangan mayoritas pelaku pasar. Harga naik karena ketakutan, bukan karena kekuatan permintaan. Ini adalah reli berbasis risiko, bukan reli berbasis fundamental.

Dengan kata lain, pasar minyak saat ini sedang berada dalam fase headline-driven. Setiap kabar tentang protes, embargo, serangan, atau pernyataan politik bisa menggerakkan harga lebih kuat daripada laporan inventori atau data konsumsi. 

Ini menjelaskan mengapa harga bisa melonjak 2–3 persen hanya dalam satu sesi, meskipun stok global terus bertambah.

Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada dua hal: bagaimana minyak Venezuela yang tersimpan akan dilepas ke pasar, dan apakah ketegangan di Iran benar-benar mengganggu produksi. Jika salah satu dari dua faktor ini berubah menjadi gangguan pasokan nyata, reli bisa berlanjut. 

Tetapi jika tidak, maka pasar akan kembali dihadapkan pada realitas yang sama: dunia masih kebanjiran minyak.

Dalam konteks ini, kenaikan harga saat ini lebih tepat dibaca sebagai risk premium, bukan awal dari siklus bullish baru. Selama surplus pasokan global belum terpecahkan, reli semacam ini cenderung cepat, emosional, dan mudah patah. Pasar sedang tegang, bukan kuat.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79