Logo
>

Ketika Forum WEF Davos Bicara Ketahanan di Tengah Kegaduhan Trump

Para pemimpin ekonomi dunia di WEF Davos menilai ekonomi global masih tangguh, namun mengingatkan risiko utang dan ketimpangan di tengah riuh politik dan perang tarif.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Ketika Forum WEF Davos Bicara Ketahanan di Tengah Kegaduhan Trump
Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva, menghadiri Pertemuan Tahunan World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, Jumat, 23 Januari 2026. Foto: Getty Images.

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM — Di tengah hiruk-pikuk politik global yang kembali memanas, para pembuat kebijakan ekonomi dunia justru menyuarakan pesan yang bertolak belakang dengan suasana gaduh. Dari panggung World Economic Forum (WEF) Davos, mereka meminta negara dan pelaku usaha untuk tidak larut dalam konflik politik—terutama drama seputar pemerintahan Donald Trump—dan kembali fokus pada agenda yang lebih mendasar: pertumbuhan ekonomi dan pengurangan ketimpangan.

    Dalam diskusi panel pada Jumat, 23 Januari 2026, pimpinan bank sentral, lembaga keuangan, dan organisasi perdagangan dunia sepakat bahwa ekonomi global menunjukkan daya tahan yang tak terduga. Ketua Bank Sentral Eropa Christine Lagarde, Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva, dan Direktur Jenderal WTO Ngozi Okonjo-Iweala menilai bahwa di balik kebisingan politik, fondasi ekonomi dunia belum runtuh.

    Namun, mereka juga mengingatkan bahwa bertahan saja tidak cukup. Resiliensi itu tetap terjadi meski dunia diguncang kebijakan perdagangan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump.

    Sepanjang forum Davos, Trump sempat mengancam akan mengenakan tarif terhadap negara-negara yang mendukung Greenland menghadapi upaya pengambilalihan oleh AS—ancaman yang kemudian ditarik kembali. Episode itu menambah panjang daftar ketidakpastian, tetapi menurut para panelis, tidak sampai mematikan arus perdagangan global.

    Masalah sesungguhnya, kata mereka, justru terletak pada utang pemerintah yang menggunung dan ketimpangan yang makin menganga. Pertumbuhan ekonomi yang ada dinilai belum cukup kuat untuk menjawab dua tantangan besar itu.

    Kristalina Georgieva menyinggung proyeksi terbaru IMF yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi global tahun ini sebesar 3,3 persen. Angka itu, menurutnya, terlihat menjanjikan—namun berbahaya jika membuat dunia terlena.

    “Ini indah, tapi tidak cukup… jangan jatuh dalam rasa puas diri,” kata Georgieva, dikutip dari AP, Sabtu, 24 Januari 2026.

    Ia menegaskan bahwa tingkat pertumbuhan tersebut belum mampu mengikis beban utang global yang terus menghantui banyak negara. Pemerintah, ujarnya, juga tidak boleh menutup mata terhadap kelompok masyarakat yang tertinggal.

    “Pertumbuhan itu tidak cukup untuk menggerus ‘utang yang menggantung di leher kita’,” katanya. Pemerintah, lanjutdia, harus memastikan perlindungan bagi “mereka yang terjatuh dari gerbong” pembangunan.

    Christine Lagarde menambahkan, dunia kini perlu bersiap menghadapi berbagai skenario. Menurutnya, kegaduhan politik yang terjadi selama sepekan di Davos justru menuntut kejernihan berpikir. “Kita harus melihat ke Rencana B, atau Rencana B-B lainnya,” kata Lagarde.

    “Saya kira minggu ini penuh kebisingan… dan kita perlu membedakan antara sinyal dan kebisingan… kita seharusnya berbicara soal alternatif,” imbuhnya.

    Lagarde juga menanggapi kritik tajam terhadap Eropa yang mengemuka di forum tersebut. Alih-alih defensif, ia justru menyambutnya sebagai cambuk. “Kita seharusnya berterima kasih kepada para pengkritik,” ujarnya, karena kritik itu menegaskan kebutuhan Eropa untuk memperbaiki iklim investasi dan mendorong inovasi.

    Ia juga meredam dampak pidato kontroversial Perdana Menteri Kanada Mark Carney, yang menyebut pendekatan Trump sebagai sebuah “rupture” atau retakan terhadap tatanan internasional berbasis aturan, perdagangan, dan kerja sama—seraya menyatakan bahwa model lama itu “tidak akan kembali”.

    Adapun Lagarde memilih menekankan saling ketergantungan global. “Dari sudut pandang ekonomi dan bisnis, kita saling bergantung satu sama lain,” katanya.

    Sementara itu, Ngozi Okonjo-Iweala mengingatkan meskipun dunia dilanda apa yang ia sebut sebagai gangguan terbesar dalam 80 tahun, sistem perdagangan global belum runtuh. Data WTO menunjukkan bahwa 72 persen perdagangan dunia masih berlangsung di bawah aturan WTO, di mana negara-negara sepakat mengenakan tarif yang sama kepada semua mitra dagang.

    “Ketahanan sudah tertanam dalam sistem, dan itu kini terlihat,” ujar Okonjo-Iweala. Meski begitu, ia mengakui, “Saya tidak berpikir kita akan kembali ke kondisi seperti sebelumnya.”

    Georgieva menutup dengan refleksi historis yang bernuansa filosofis. Menurutnya, perdagangan global tidak pernah benar-benar berhenti, tapi hanya berubah bentuk.

    “Kita selalu berdagang dan akan selalu berdagang. Perdagangan itu seperti sungai, seperti air. Anda pasang penghalang, ia akan mengalir mengitarinya. Ya, bentuknya akan berbeda, tapi akan selalu ada kebutuhan akan peran Dr. Ngozi untuk menjaga perdagangan dunia,” katanya.

    Namun perubahan itu, kata Georgieva, bersifat permanen. “Berapa banyak dari Anda yang pernah menonton film The Wizard of Oz?… Kita sudah tidak lagi berada di Kansas.”

    Pesan dari Davos pun menjadi jelas bahwa dunia tidak sedang runtuh, tetapi juga tidak bisa kembali ke masa lalu. Di tengah kegaduhan geopolitik, ekonomi global dituntut beradaptasi agar lebih inklusif, lebih produktif, dan lebih sadar bahwa stabilitas tanpa pertumbuhan yang adil hanyalah ilusi.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Moh. Alpin Pulungan

    Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

    Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).