Logo
>

Kosdaq Melonjak 1,32 Persen, Bursa Asia Dibuka Semringah

Bursa Asia mengawali 2026 dengan pergerakan selektif di tengah libur regional, data ekonomi Singapura yang kuat, serta peluang lanjutan penguatan IHSG meski dibayangi aksi jual asing.

Ditulis oleh Yunila Wati
Kosdaq Melonjak 1,32 Persen, Bursa Asia Dibuka Semringah
Ilustrasi pasar saham Asia. (Foto: Adobe Stock)

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM – Memasuki hari pertama perdagangan 2026, bursa Asia Jumat pagi, 2 Januari 2026, dibuka melambat. Sebagian pasar masih belum aktif karena libur Tahun Baru, yaitu Jepang dan China Daratan. Sementara Korea Selatan membuka perdagangan satu jam lebih lambat.

    Meski demikian, tone pasar tidak sepenuhnya defensif. Pelaku pasar Asia mencoba mengawali 2026 dengan melepaskan bayang-bayang pelemahan indeks acuan Wall Street pada penutupan perdagangan akhir 2025. 

    Pergerakan yang cenderung variatif mencerminkan upaya pasar mencari pijakan baru, dengan katalis regional mulai memainkan peran lebih dominan dibandingkan sentimen global jangka pendek.

    Salah satu sorotan utama datang dari Singapura. Ekonomi negeri tersebut mencatat pertumbuhan 5,7 persen secara tahunan pada kuartal IV-2025. Persentase tersebut melampaui capaian kuartal sebelumnya yang direvisi sebesar 4,3 persen. 

    Lonjakan ini terutama didorong oleh performa kuat sektor manufaktur, yang kembali menjadi mesin utama pertumbuhan. Sepanjang 2025, ekonomi Singapura tumbuh 4,8 persen, lebih tinggi dari perkiraan awal. Begitu disampaikan Perdana Menteri Lawrence Wong dalam pesan Tahun Baru. 

    Data ini memberi sinyal bahwa permintaan regional dan aktivitas industri masih cukup solid. Hal ini menjadi sentimen positif bagi Asia Tenggara di awal tahun.

    Di Australia, indeks ASX 200 juga membuka sesi dengan pergerakan mendatar sebelum beranjak naik tipis 0,02 persen ke level 8.715,90 pada pukul 8.15 WIB. Investor sepertinya masih wait and see, terutama di tengah absennya sebagian besar bursa Asia dan belum adanya katalis global baru yang cukup kuat untuk mendorong arah pasar secara agresif.

    Korea Selatan justru menampilkan cerita yang lebih kuat. Indeks Kospi, meski dibuka lebih lambat, berhasil mencetak rekor tertinggi baru di level 4.239,88 sebelum menguat 0,21 persen. Di saat yang sama, Kosdaq melonjak 1,32 persen.

    Sepertinya, minat risiko terhadap saham-saham pertumbuhan dan teknologi masih cukup tinggi. Kinerja ini menunjukkan bahwa pasar Korea memasuki 2026 dengan momentum yang relatif solid, yang ditopang oleh ekspektasi pemulihan laba dan sentimen domestik yang kondusif.

    Untuk kawasan regional, perhatian pasar juga tertuju pada Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan cenderung menguat setelah menutup 2025 naik tipis 0,03 persen di level 8.646. Konfirmasi sentimen positif terlihat dari pergerakan iShares MSCI Indonesia ETF di New York Stock Exchange yang menguat 0,16 persen ke USD18,70. 

    Sejumlah analis menilai, IHSG masih memiliki peluang melanjutkan tren penguatan, meski dibayangi potensi aksi jual asing yang berlanjut. Optimisme awal tahun kerap menjadi katalis psikologis yang mendorong minat beli, terlebih tidak terlihat indikasi jenuh beli atau tekanan jual signifikan pada struktur teknikal. 

    Pembentukan pola bullish flag yang terbaca sejak akhir 2025 memberi indikasi bahwa awal 2026 berpotensi menjadi fase bullish continuation, selama dukungan likuiditas domestik tetap kuat.

    Pandangan Indo Premier memperkuat narasi tersebut. IHSG mencatatkan performa tahunan terbaik sejak 2014 dengan kenaikan sekitar 22 persen secara tahunan. Capaian ini terjadi di tengah derasnya arus keluar dana asing, yang sepanjang 2025 tercatat melakukan net sell sekitar Rp43,2 triliun di pasar reguler, lebih besar dibandingkan Rp29 triliun pada 2024. 

    Outflow tersebut terkonsentrasi pada saham-saham perbankan big cap, tercermin dari indeks Primbank10 yang turun 11 persen secara tahunan. Namun, tingginya partisipasi investor domestik terbukti mampu meredam tekanan tersebut dan menjaga stabilitas indeks secara keseluruhan.

    Menariknya, dinamika akhir 2025 juga menunjukkan adanya pergeseran minat ke kelompok saham tertentu. Grup Bakrie mencatatkan rata-rata kenaikan harga saham hingga sekitar 100 persen sepanjang Desember. 

    Jika merujuk pada pola historis, Januari kerap menjadi bulan yang kuat bagi emiten-emiten dalam grup ini. Fakta tersebut membuka spekulasi bahwa reli lanjutan masih mungkin terjadi di awal tahun, meski tentu akan sangat bergantung pada kesinambungan volume dan sentimen pasar.

    Secara keseluruhan, performa bursa Asia pada pagi ini menggambarkan fase transisi yang khas di awal tahun. Aktivitas masih selektif akibat libur sebagian pasar, namun data ekonomi regional yang kuat dan momentum teknikal di beberapa indeks utama memberi dasar optimisme yang terukur. 

    Asia memasuki 2026 bukan dengan euforia, melainkan dengan sikap hati-hati yang tetap membuka ruang bagi penguatan bertahap, seiring pasar menunggu konfirmasi arah dari likuiditas global dan dinamika domestik masing-masing negara.(*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Yunila Wati

    Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

    Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

    Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79