Logo
>

Krisis Minyak Picu Lonjakan Motor Listrik, Warga Pakistan Mulai Tinggalkan Bensin

Krisis energi akibat konflik Iran dorong lonjakan motor listrik di Pakistan, warga mulai beralih dari bensin ke listrik.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Krisis Minyak Picu Lonjakan Motor Listrik, Warga Pakistan Mulai Tinggalkan Bensin
Ilustrasi: Krisis minyak global picu lonjakan motor listrik di Pakistan, warga beralih dari bensin akibat harga naik dan kekhawatiran pasokan. Foto: Dok. White Star.

KABARBURSA.COM — Krisis energi global akibat konflik Iran justru melahirkan fenomena baru di Pakistan. Warga di sana mulai berbondong-bondong beralih ke motor listrik, didorong lonjakan harga BBM dan ketakutan akan kelangkaan pasokan. Gelombang ini muncul tak lama setelah Iran membatasi jalur pelayaran di Selat Hormuz—jalur vital distribusi energi dunia—menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel sejak akhir Februari.

Dampaknya terasa jauh hingga ke Pakistan. Di kota Rawalpindi, penjualan motor listrik melonjak drastis. Pelaku usaha konversi motor bensin ke listrik, Haseeb Bhatti, mencatat lonjakan penjualan hingga 70 persen pada Maret. Fenomena serupa juga dirasakan pelaku usaha lain. Ali Gohar Khan, pemilik jaringan ritel motor listrik, menyebut lonjakan permintaan kali ini sebagai yang terbesar sepanjang bisnisnya.

“Orang-orang punya ketakutan bahwa dalam waktu dekat mereka mungkin tidak akan mendapatkan bensin sama sekali,” ujarnya,’ dikutip dari Reuters, Selasa, 7 April 2026.

Lonjakan minat ini bukan tanpa sebab. Pakistan sangat bergantung pada impor minyak yang sebagian besar melewati Selat Hormuz. Ketika jalur itu terganggu, kekhawatiran soal pasokan langsung menyebar, meski pemerintah berupaya menenangkan publik.

Di sisi lain, tekanan ekonomi sudah lebih dulu menghantam masyarakat. Inflasi tinggi dan pemulihan pascapandemi yang belum stabil membuat kenaikan harga energi terasa semakin berat. Sekitar 40 persen konsumsi bensin di Pakistan digunakan oleh kendaraan roda dua dan becak motor. Dua kendaraan ini menjadi tulang punggung mobilitas di negara tersebut.

Kondisi ini membuat dampak kenaikan harga BBM terasa langsung ke kehidupan sehari-hari. Setelah harga bensin naik 18 persen pekan lalu, beban masyarakat semakin berat. Kini, rumah tangga dengan pendapatan rata-rata harus mengeluarkan sekitar 31 persen dari pendapatan harian hanya untuk membeli satu liter bensin.

“Gaji bulanan saya 30.000 rupee. Saya hampir tidak bisa menutupi kebutuhan keluarga saya yang berjumlah enam orang. Bagaimana saya bisa mengisi bensin motor saya?,” kata Zahoor Ahmed.

Di tengah tekanan itu, motor listrik mulai dilihat sebagai alternatif yang lebih hemat. Tahun lalu, penjualan kendaraan listrik melonjak hampir tiga kali lipat menjadi 90 ribu unit atau sekitar 5 persen dari total penjualan motor.

Tahun ini, untuk pertama kalinya, porsi kendaraan listrik menembus lebih dari 10 persen penjualan bulanan roda dua.

CEO perusahaan perencanaan logistik EV, Talha Khan, menilai tren ini akan semakin cepat. Biaya pengisian listrik bahkan bisa jauh lebih murah dibanding bensin dengan selisih hingga 10 kali lipat.

“Mempertimbangkan inflasi dan harga bahan bakar, saya mengambil keputusan sendiri dan membeli skuter listrik,” kata Mehvish Qureshi, seorang pengacara.

Subsidi dan Kredit Dorong Peralihan

Pemerintah Pakistan juga ikut mendorong transisi ini melalui program elektrifikasi kendaraan. Melalui skema PAVE, pemerintah memberikan subsidi sekitar 20 persen dari harga motor listrik dan pinjaman tanpa bunga untuk sisanya.

Saat ini, program tersebut sudah menerima sekitar 270 ribu pengajuan, hampir tujuh kali lipat dari target awal. Pemerintah menargetkan pembiayaan hingga 2 juta kendaraan listrik dalam lima tahun ke depan.

“Elektrifikasi hanya 2 juta kendaraan bisa menghasilkan penghematan hampir USD500 juta (Rp8,45 triliun) per tahun, karena kita tidak perlu mengimpor bahan bakar tersebut,” ujar penasihat Kementerian Keuangan, Adnan Pasha.

Selain itu, Pakistan juga memanfaatkan tren penggunaan panel surya yang sebelumnya berkembang pesat. Energi surya kini menjadi sumber listrik murah untuk pengisian kendaraan listrik.

“Menggunakan tenaga surya bisa mengurangi biaya listrik di stasiun pengisian dan membuat pengisian di rumah lebih terjangkau,” kata Pasha.

Di balik lonjakan ini, pemain asal China menjadi tulang punggung pasar motor listrik Pakistan. Merek seperti Yadea dan Jinpeng mendominasi, didukung komponen dari perusahaan seperti AIMA dan Sunra. Namun, di balik pertumbuhan pesat, tantangan masih membayangi.

Minimnya infrastruktur pengisian daya dan layanan purna jual menjadi risiko serius dalam jangka panjang. “Ketika pemain China membanjiri pasar, terlihat menjanjikan di atas kertas, tetapi tanpa infrastruktur layanan purna jual, mereka berisiko mengikis kepercayaan konsumen terhadap teknologi ini,” kata analis energi Ahtasam Ahmad.

Di sisi lain, kondisi jalan yang buruk juga menjadi tantangan tersendiri, karena kendaraan listrik lebih sensitif terhadap kerusakan. Dalam konteks yang lebih luas, lonjakan motor listrik di Pakistan menunjukkan satu hal. Krisis energi tidak hanya menciptakan tekanan, tetapi juga mempercepat perubahan.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).