Logo
>

Krisis Venezuela: Tekanan Ekonomi Gantikan Serangan

Ekspor minyak Venezuela anjlok akibat blokade dan krisis politik. Dunia mengecam intervensi AS yang dinilai sebagai bentuk premanisme global baru.

Ditulis oleh Desty Luthfiani
Krisis Venezuela: Tekanan Ekonomi Gantikan Serangan
Ilustrasi harga minyak dunia usai serangan AS ke Venezuela. Foto: freepik.

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM – Di balik eskalasi politik dan militer yang terjadi di Venezuela, tekanan paling cepat dan nyata justru bekerja melalui jalur ekonomi. Gangguan pada distribusi minyak, pengapalan, dan arus devisa menunjukkan bagaimana krisis geopolitik dapat berfungsi sebagai senjata ekonomi yang melumpuhkan tanpa harus menghancurkan infrastruktur produksi secara langsung.

    Dampak ekonomi dari eskalasi ini paling cepat tercermin di sektor minyak, yang selama ini menjadi tulang punggung devisa Venezuela. Meski fasilitas produksi dan pengilangan milik PDVSA dilaporkan tidak mengalami kerusakan berarti, tekanan justru muncul pada sisi distribusi dan pengapalan.

    Sejak Desember 2025, blokade terhadap tanker serta penyitaan kargo telah memangkas ekspor minyak Venezuela hingga sekitar separuh dari level 950.000 barel per hari yang tercatat pada November.

    Situasi tersebut diperparah oleh sikap perusahaan pelayaran internasional yang menghindari perairan Venezuela, menyebabkan penumpukan stok minyak di pelabuhan dan anjloknya aktivitas ekspor.

    Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan ekonomi tidak selalu diwujudkan melalui kerusakan fisik. “Gangguan logistik dan kepastian pengapalan sudah cukup untuk melumpuhkan devisa,” kata Syafruddin dalam keterangannya, Senin, 5 Januari 2026.

    Tekanan dari luar tersebut kemudian menimpa kondisi moneter domestik yang sejak awal berada dalam posisi rapuh. Data menunjukkan uang beredar luas atau M2 tumbuh sekitar 382 persen secara tahunan pada November 2025, sementara basis uang atau M0 melonjak sekitar 521 persen. 

    Pada saat yang sama, suku bunga kredit bank komersial berada di kisaran 58 persen, inflasi konsumen mencapai 23,6 persen, dan cadangan devisa bank sentral hanya sekitar USD 13,6 miliar.

    Dengan struktur ekonomi seperti itu, guncangan dari sisi eksternal dengan mudah diterjemahkan menjadi tekanan terhadap harga dan nilai tukar.

    “Guncangan devisa mudah memicu kenaikan harga dan mempercepat pelarian ke mata uang asing,” ujarnya. Ia menilai, dalam krisis yang berkepanjangan, fungsi uang domestik sebagai penyimpan nilai semakin tergerus.

    Dari sisi diplomasi, Rusia dan China secara terbuka menolak tindakan Amerika Serikat dan menyebutnya sebagai preseden berbahaya. Dewan Keamanan PBB dijadwalkan membahas serangan tersebut setelah Kolombia mengajukan permintaan resmi dengan dukungan kedua negara itu. Sekretaris Jenderal PBB juga menilai aksi tersebut mengancam prinsip dasar Piagam PBB, khususnya terkait kedaulatan dan non-intervensi.

    Menurut Syafruddin, sikap Rusia dan China menegaskan bahwa persoalan Venezuela melampaui isu pergantian rezim semata. “Ini ujian apakah norma non-intervensi masih punya daya paksa,” katanya.

    Kritik turut muncul dari dalam Amerika Serikat. Sejumlah anggota Kongres menilai Presiden Trump melanggar Konstitusi karena melancarkan serangan tanpa otorisasi legislatif.

    Syafruddin menilai kritik tersebut penting karena menunjukkan bahwa dampak premanisme global tidak hanya dirasakan oleh negara sasaran. “Premanisme global juga menggerus tata kelola demokrasi di negara pelaku,” ujarnya.

    Dalam jangka panjang, pola premanisme global menciptakan biaya ekonomi tambahan melalui meningkatnya ketidakpastian dan terganggunya tata kelola.

    Serangan siber yang mengacaukan sistem administrasi PDVSA memaksa perusahaan beralih ke proses manual, mendorong kenaikan biaya transaksi, serta mengacaukan perencanaan ekspor.

    Syafruddin menegaskan bahwa dunia tidak boleh membiarkan praktik intervensi sepihak menjadi sesuatu yang lazim. “Intervensi sepihak tidak boleh dinormalisasi,” kata dia.

    Bagi Indonesia, menurutnya, krisis Venezuela membawa pesan strategis yang jelas. “Perkuat ketahanan energi dan pangan, diversifikasi devisa, dan bangun kredibilitas institusi ekonomi,” ucap dia. Dengan fondasi yang kuat, tekanan geopolitik global tidak mudah berubah menjadi krisis domestik.(*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Desty Luthfiani

    Desty Luthfiani seorang jurnalis muda yang bergabung dengan KabarBursa.com sejak Desember 2024 lalu. Perempuan yang akrab dengan sapaan Desty ini sudah berkecimpung di dunia jurnalistik cukup lama. Dimulai sejak mengenyam pendidikan di salah satu Universitas negeri di Surakarta dengan fokus komunikasi jurnalistik. Perempuan asal Jawa Tengah dulu juga aktif dalam kegiatan organisasi teater kampus, radio kampus dan pers mahasiswa jurusan. Selain itu dia juga sempat mendirikan komunitas peduli budaya dengan konten-konten kebudayaan bernama "Mata Budaya". 

    Karir jurnalisnya dimulai saat Desty menjalani magang pendidikan di Times Indonesia biro Yogyakarta pada 2019-2020. Kemudian dilanjutkan magang pendidikan lagi di media lokal Solopos pada 2020. Dilanjutkan bekerja di beberapa media maenstream yang terverifikasi dewan pers.

    Ia pernah ditempatkan di desk hukum kriminal, ekonomi dan nasional politik. Sekarang fokus penulisan di KabarBursa.com mengulas informasi seputar ekonomi dan pasar modal.

    Motivasi yang diilhami Desty yakni "do anything what i want artinya melakukan segala sesuatu yang disuka. Melakukan segala sesuatu semaksimal mungkin, berpegang teguh pada kebenaran dan menjadi bermanfaat untuk Republik".