Logo
>

Lapangan Kerja AS Tersendat, Ekonomi Tumbuh tapi Perekrutan Jalan di Tempat

Data ketenagakerjaan AS menunjukkan perekrutan melambat meski ekonomi tetap tumbuh, memunculkan dilema baru bagi The Fed dan pasar global.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Lapangan Kerja AS Tersendat, Ekonomi Tumbuh tapi Perekrutan Jalan di Tempat
Perekrutan tenaga kerja AS melambat di akhir 2025 meski ekonomi tumbuh, memicu dilema kebijakan suku bunga The Fed dan perhatian pasar global. Foto: Dok. Brookings.edu

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM — Perekrutan tenaga kerja yang tersendat pada Desember menutup satu tahun penuh capaian ketenagakerjaan yang lemah. Tahun yang membuat banyak pencari kerja kehabisan kesabaran, meski gelombang pemutusan hubungan kerja dan tingkat pengangguran tetap relatif rendah.

    Pada Desember, pemberi kerja di Amerika Serikat hanya menambah 50.000 lapangan kerja. Angka itu nyaris tak bergerak dibandingkan revisi penambahan 56.000 pekerjaan pada November, menurut laporan Departemen Tenaga Kerja AS yang dirilis Jumat. Tingkat pengangguran justru turun ke 4,4 persen, penurunan pertama sejak Juni, dari sebelumnya 4,5 persen pada November yang juga direvisi lebih rendah.

    Data ini mengisyaratkan satu hal yang semakin terasa. Dunia usaha enggan menambah tenaga kerja, meski laju pertumbuhan ekonomi mulai menguat. Banyak perusahaan sudah merekrut besar-besaran setelah pandemi dan kini tak lagi merasa perlu membuka banyak posisi baru. Sebagian lainnya memilih menahan diri, tertekan oleh ketidakpastian luas akibat kebijakan tarif Donald Trump yang berubah-ubah, inflasi yang masih tinggi, serta meluasnya penggunaan kecerdasan buatan yang berpotensi mengubah, bahkan menggantikan sejumlah jenis pekerjaan.

    Meski begitu, para ekonom di negeri Paman Sam tetap menyambut positif turunnya tingkat pengangguran, setelah sebelumnya naik dalam empat laporan berturut-turut. Pelemahan pasar kerja sempat membunyikan alarm di Federal Reserve, yang pada tahun lalu memangkas suku bunga acuannya sebanyak tiga kali.

    “Pasar tenaga kerja tampaknya telah stabil, tetapi dengan laju pertumbuhan lapangan kerja yang lebih lambat,” ujar Blerina Uruci, kepala ekonom di T. Rowe Price, dikutipdari AP di Jakarta, Sabtu, 10 Januari 2026. “Untuk saat ini, tidak ada urgensi bagi The Fed untuk kembali memangkas suku bunga.”

    Di internal bank sentral AS sendiri, perbedaan pandangan masih mengemuka. Sejumlah pejabat Federal Reserve khawatir inflasi tak kunjung membaik sejak 2024 dan masih berada di atas target tahunan 2 persen. Mereka mendukung suku bunga tetap dipertahankan di level saat ini demi menekan inflasi. Namun, kelompok lain mulai cemas karena perekrutan nyaris berhenti dan mendukung penurunan biaya pinjaman guna mendorong belanja dan pertumbuhan ekonomi.

    Revisi data ketenagakerjaan bulan-bulan sebelumnya mempertegas perlambatan tersebut. Penambahan lapangan kerja November direvisi turun dari 64.000 menjadi 56.000. Sementara Oktober kini mencatat penurunan yang jauh lebih dalam, yakni kehilangan 173.000 pekerjaan, lebih besar dari estimasi sebelumnya yang menunjukkan penurunan 105.000. Pemerintah AS memang rutin merevisi data ini seiring masuknya respons survei tambahan dari pelaku usaha.

    Hampir seluruh lapangan kerja yang tercipta pada Desember berasal dari sektor kesehatan serta restoran dan hotel. Sektor kesehatan menambah 38.500 pekerjaan, sementara restoran dan hotel menciptakan 47.000 posisi baru. Pemerintah, terutama di tingkat negara bagian dan lokal, menambah 13.000 pekerjaan.

    Sebaliknya, sektor manufaktur, konstruksi, dan ritel justru memangkas tenaga kerja. Peritel mengurangi sekitar 25.000 posisi, sinyal bahwa perekrutan musiman jelang liburan lebih lemah dibanding tahun-tahun sebelumnya. Industri manufaktur bahkan telah memangkas pekerjaan setiap bulan sejak April, saat Trump mengumumkan tarif besar-besaran yang dimaksudkan untuk menghidupkan kembali sektor manufaktur.

    Laporan Jumat ini menjadi sorotan Wall Street dan Washington karena dianggap sebagai pembacaan pasar tenaga kerja yang paling “bersih” dalam tiga bulan terakhir. Pemerintah tidak merilis laporan Oktober akibat penutupan pemerintahan selama enam minggu, sementara data November terdistorsi oleh dampak penutupan yang berlangsung hingga 12 November.

    Sepanjang 2025, penambahan lapangan kerja memang bergerak lambat, terutama setelah pengumuman tarif “hari pembebasan” oleh Trump pada April. Sepanjang tahun itu, ekonomi AS hanya menambah 584.000 pekerjaan, anjlok tajam dibanding lebih dari 2 juta pekerjaan yang tercipta pada 2024. Ini menjadi kenaikan tahunan terendah sejak pandemi COVID-19 menghancurkan pasar tenaga kerja pada 2020. Di luar masa resesi, ini merupakan pertumbuhan lapangan kerja tahunan terlemah sejak 2003.

    Meski demikian, Trump tetap membanggakan capaian tersebut. Dalam unggahan media sosial pada Kamis malam, ia menyebut bahwa sejak Januari, seluruh pekerjaan baru berasal dari sektor swasta, sementara pekerjaan pemerintah justru menyusut. Namun, angka yang ia gunakan sudah memasukkan data Desember serta revisi bulan-bulan sebelumnya, yang memang telah diterima Gedung Putih pada Kamis sore sebelum diumumkan ke publik.

    Dalam unggahannya di Truth Social, Trump menyatakan bahwa sektor swasta menambah 654.000 pekerjaan sejak Januari, sementara pekerjaan pemerintah berkurang 181.000. Karena itu, publik tidak langsung mengetahui bahwa unggahan tersebut memuat informasi baru dari data Desember. Padahal, data ketenagakerjaan biasanya dijaga ketat karena dapat menggerakkan pasar keuangan.

    Perlambatan perekrutan ini bukan semata karena perusahaan enggan menambah pegawai. Dengan populasi yang menua dan penurunan tajam imigrasi, perekonomian AS tidak lagi membutuhkan penciptaan lapangan kerja sebanyak masa lalu untuk menjaga tingkat pengangguran tetap stabil. Dalam konteks ini, penambahan 50.000 pekerjaan tidak serta-merta menjadi sinyal pelemahan separah yang mungkin terlihat pada tahun-tahun sebelumnya.

    Di sisi lain, tingkat PHK masih rendah, tanda bahwa perusahaan belum memangkas tenaga kerja secara agresif seperti yang lazim terjadi saat resesi. Pasar kerja dengan karakter “perekrutan rendah, pemecatan rendah” ini memang memberi rasa aman bagi pekerja yang sudah memiliki pekerjaan, namun sekaligus membuat pencari kerja kesulitan menemukan peluang baru.

    Ernesto Castro, 44 tahun, merasakan dampak itu secara langsung. Sejak meninggalkan pekerjaannya pada Mei, warga Los Angeles ini telah melamar ratusan pekerjaan. Namun, ia hanya mendapat tiga wawancara awal, dan satu wawancara lanjutan, yang kemudian berakhir tanpa kabar.

    Dengan hampir satu dekade pengalaman di bidang dukungan pelanggan untuk perusahaan perangkat lunak, Castro semula yakin bisa segera mendapatkan pekerjaan baru, seperti yang ia alami di masa lalu. “Ini benar-benar mengerikan,” ujarnya.

    Ia khawatir semakin banyak perusahaan beralih ke kecerdasan buatan untuk membantu pelanggan mempelajari penggunaan perangkat lunak baru. Ia sering mendengar iklan perusahaan teknologi yang mendorong pemangkasan tenaga kerja seperti dirinya demi AI. Rekan-rekannya di industri juga mengatakan bahwa karyawan kini semakin enggan pindah kerja di tengah ketidakpastian, yang berarti semakin sedikit lowongan bagi orang lain.

    Kini, Castro mulai mempertimbangkan untuk mendirikan perusahaan perangkat lunaknya sendiri, sekaligus menjajaki peluang di bidang manajemen proyek.

    Perekrutan yang lesu menyoroti dilema utama perekonomian AS saat memasuki 2026. Pertumbuhan ekonomi membaik ke level yang sehat, tetapi penciptaan lapangan kerja justru melemah secara nyata.

    Ketidakpastian tarif membuat sejumlah perusahaan menunda perekrutan. Steve Heckeroth, CEO Renewables, Inc., mengaku kebijakan tarif memaksanya menunda penambahan tenaga kerja dalam beberapa bulan terakhir. Renewables adalah perusahaan rintisan berbasis di Santa Rosa, California, yang mengembangkan prototipe traktor listrik kecil untuk keperluan pertanian dan telah mengantongi ratusan pesanan awal.

    Heckeroth mengatakan rencana perekrutan untuk memproduksi traktor harus ditunda karena bea masuk baru mengubah struktur biaya komponen impor. Ia sempat melirik as dan transmisi dari India, hingga produk tersebut dikenai tarif 50 persen awal tahun ini. Banyak komponen elektronik berasal dari China, yang juga menghadapi serangkaian bea masuk yang sering berubah.

    “Ini menunda kami setidaknya enam bulan. Tarif itu, dan ketidakpastian soal berapa harga input kami nantinya,” kata Heckeroth.

    Sebagian besar ekonom memperkirakan perekrutan akan kembali meningkat tahun ini seiring pertumbuhan ekonomi yang solid, ditambah kebijakan pemotongan pajak Trump yang diperkirakan menghasilkan pengembalian pajak besar pada musim semi. Namun, mereka juga mengakui kemungkinan lain. Pertumbuhan lapangan kerja yang lemah bisa menekan ekonomi ke depan, atau perekonomian bisa terus tumbuh sehat sementara otomatisasi dan kecerdasan buatan mengurangi kebutuhan akan tenaga kerja tambahan.

    Produktivitas, yang diukur dari output per jam kerja, telah membaik dalam tiga tahun terakhir dan melonjak hampir 5 persen pada kuartal Juli–September. Artinya, perusahaan mampu memproduksi lebih banyak tanpa harus menambah tenaga kerja. Dalam jangka panjang, kondisi ini juga berpotensi meningkatkan upah pekerja.

    Meski penambahan pekerjaan begitu lambat, perekonomian AS tetap tumbuh. Laju pertumbuhan mencapai tingkat tahunan 4,3 persen pada kuartal Juli–September tahun lalu, yang merupakan capaian terbaik dalam dua tahun terakhir. Konsumsi rumah tangga yang kuat menjadi pendorong utama. Federal Reserve Bank of Atlanta memperkirakan pertumbuhan akan melambat menjadi 2,7 persen pada tiga bulan terakhir tahun lalu, angka yang masih tergolong solid.

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Moh. Alpin Pulungan

    Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

    Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).