Logo
>

Lifting Minyak Baru 570.000, Masih Jauh dari Target APBN 2026

Penurunan lifting nasional sudah terasa sejak awal tahun akibat masalah fasilitas permukaan (surface).

Ditulis oleh Gusti Ridani
Lifting Minyak Baru 570.000, Masih Jauh dari Target APBN 2026
Lifting Minyak Baru 570.000, Masih Jauh dari Target APBN 2026. Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Realisasi produksi minyak siap jual (lifting) nasional masih belum melampaui target yang dipatok dalam APBN. Di tengah ambisi mengejar target lifting sebesar 605.000 barel per hari (bph), realisasi hulu migas nasional hingga pertengahan tahun ini baru menyentuh angka 570.000 bph akibat serangkaian kendala teknis di blok-blok raksasa penopang negara.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto, mengakui adanya rapor merah produksi dari Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S) kelas berat, yakni PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) dan ExxonMobil Cepu Limited. Kinerja kedua blok andalan ini jeblok dan berada jauh di bawah target.

"Untuk Pertamina Hulu Rokan dan Cepu ini yang penurunannya belum mencapai target dari APBN. Dari target 163.000 bph, realisasinya hanya 130.000 bph atau sekitar 32.000 bph di bawah target (80 persen). Untuk Cepu, permasalahan ada di reservoir. Dari pemboran yang dilakukan, penurunan minyaknya begitu cepat dan yang keluar saat ini kebanyakan air dan gas," ungkap Djoko dalam RDP Komisi 12 DPR RI, dikutip Kamis, 4 Juni 2026.

Djoko membeberkan bahwa penurunan lifting nasional sudah terasa sejak awal tahun akibat masalah fasilitas permukaan (surface). 

Pada Januari, produksi sempat lumpuh total di 7 K3S gara-gara insiden pipa putus. Belum selesai perkara pipa, giliran masalah pemadam listrik (blackout) pada sistem kelistrikan PLN menghantam operasional Blok Rokan.

Penurunan makin diperparah oleh jadwal perawatan fasilitas hulu migas (maintenance) yang menumpuk di kuartal I dan kuartal II tahun ini.

"Memang maintenance pada kuartal 1 dan kuartal 2 ini dilakukan seluruhnya karena pada tahun lalu ada surat edaran untuk menahan maintenance demi mencapai target 605.000 bph pada tahun lalu," jelas Djoko.

Meskipun saat ini realisasi baru menyentuh 570.000 bph, SKK Migas masih memasang sikap optimis. Pihaknya memproyeksikan outlook akhir tahun 2026 mampu dikerek ke level 600.000 hingga 610.000 bph melalui program darurat Filling the Gap.

Strategi Triple 100, ditargetkan memberi tambahan 5.000 bph (saat ini baru terealisasi 200 bph). Optimalisasi Sumur Tua (Permen 14/2025), melibatkan koperasi dan UMKM dengan realisasi saat ini 1.500 bph dari potensi 20.000 bph. 

"Kita masih ada waktu 7 bulan ke depan untuk mencapai filling the gap ini. Kami juga memproyeksikan pada 2027 mendatang produksi bisa merangkak naik ke kisaran 610.000 sampai 615.000 bph," pungkas Djoko.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang