KABARBURSA.COM - Penguatan ekosistem halal tidak lagi dipandang sebatas urusan sertifikasi produk.
Dalam perkembangan ekonomi modern, halal terus berkembang menjadi fondasi kepercayaan yang mencakup etika bisnis, kualitas layanan, keberlanjutan, hingga tata kelola ekonomi yang memberikan rasa aman untuk masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Staf Ahli Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Noviar Rahmat dalam Forum Ekonomi Regional Jawa 2026 yang mengusung tema "Penguatan Ekosistem Halal untuk Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Syariah yang Inklusif dan Berkelanjutan".
Noviar mengatakan bahwa tema forum yang mengangkat halal sebagai ekosistem gaya hidup dan industri masa depan, memiliki makna strategis di tengah perkembangan ekonomi global.
Menurutnya, halal saat ini telah tumbuh menjadi bahasa kepercayaan dalam kehidupan ekonomi modern yang melampaui aspek jaminan produk semata.
“Halal bukan hanya berkaitan dengan jaminan produk melainkan juga dengan nilai kejujuran, etika usaha, keberlanjutan, kualitas layanan, serta tata ekonomi yang memberi rasa aman dan selamat bagi publik,” ujar Noviar dalam forum yang digelar di kampus UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Kamis 4 Juni 2026.
Ia menjelaskan, konsep halal kini bergerak menjadi ekosistem nilai yang menghubungkan berbagai sektor ekonomi, mulai dari produksi, konsumsi, inovasi, pembiayaan, pariwisata, industri kreatif hingga gaya hidup masyarakat.
Dalam konteks ekonomi global, industri halal telah berkembang menjadi salah satu sektor strategis dengan potensi pertumbuhan yang terus meningkat.
Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, atau sebanyak lebih dari 242 juta orang, memiliki peluang besar untuk mengambil peran penting dalam penguatan ekosistem halal internasional.
Meski demikian, Noviar menilai peluang tersebut tidak dapat diwujudkan tanpa kolaborasi berbagai pihak.
Ia menekankan pentingnya dukungan regulasi, penguatan daya saing pelaku usaha, peningkatan kapasitas UMKM, kontribusi perguruan tinggi dalam pengembangan pengetahuan, peran media dalam edukasi publik, serta peningkatan literasi ekonomi syariah di masyarakat.
“Namun peluang itu perlu kerja bersama berupa regulasi yang mendukung, industri yang adaptif, UMKM berdaya saing, perguruan tinggi yang melahirkan pengetahuan, media yang mencerdaskan, serta masyarakat yang memiliki literasi ekonomi syariah secara memadai,” jelasnya.
Lebih lanjut, Noviar memandang forum tersebut sebagai ruang untuk menyambungkan gagasan dan membangun kolaborasi yang lebih luas.
“Karena itu saya memandang forum ini bukan sebagai ruang pertemuan, melainkan ruang penyambung gagasan. Di sini lah pemerintah, akademisi, komunitas, pelaku usaha, media dan generasi muda bertemu dalam percakapan besar tentang bagaimana menjadikan halal sebagai jalan pertumbuhan ekonomi inklusif, kolaboratif, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Dalam paparannya, Noviar turut menyoroti posisi strategis Yogyakarta dalam pengembangan ekonomi halal nasional. Sebagai kota pendidikan, budaya, dan pusat kreativitas, Yogyakarta dinilai memiliki modal sosial yang kuat untuk mempertemukan pengetahuan dengan kewirausahaan.
Menurutnya, ekosistem tersebut memungkinkan lahirnya berbagai inovasi sekaligus menjadi ruang pengembangan bagi UMKM agar naik kelas dan terhubung dengan rantai nilai industri halal yang luas.
“Yogyakarta memiliki posisi yang khas dalam agenda ini sebagai kota pendidikan, budaya dan kota kreatif dan ruang tumbuh bagi komunitas. Yogyakarta memiliki modal sosial yang kuat untuk mempertemukan nilai pengetahuan dan kewirausahaan. Di sini gagasan dapat diuji, inovasi dapat dilahirkan, dan UMKM dapat didampingi,” tutur Noviar.
Ia menambahkan, pengembangan ekonomi halal juga memiliki relevansi dengan nilai-nilai budaya lokal. Dalam falsafah Jawa dikenal ajaran Memayu Hayuning Bawana, yakni upaya menjaga dan menyejahterakan kehidupan secara menyeluruh.
Menurut Noviar, prinsip tersebut sejalan dengan semangat ekonomi halal yang sebaiknya tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi semata.
“Dalam ekonomi halal, ajaran ini menemukan relevansinya sebab ekonomi tidak boleh hanya mengejar pertumbuhan angka, tapi menjaga keberkahan proses, distribusi, kelestarian lingkungan dan martabat manusia di dalamnya,” katanya.
Ia lalu menilai, kepercayaan menjadi aset paling penting dalam pembangunan ekonomi halal yang berkelanjutan.
“Halal dengan demikian adalah tentang kepercayaan, dalam ekonomi modern kepercayaan adalah modal yang sangat mahal. UMKM yang jujur, industri yang transparan, layanan keuangan yang adil, serta pariwisata yang ramah dan bermartabat. Semuanya adalah bagian dari bangunan ekonomi halal yang sesungguhnya,” ujar Noviar.
Penyelenggaraan Forum Ekonomi Regional Jawa, diharapkan mampu melahirkan solusi yang dapat memperkuat literasi masyarakat, membuka peluang kolaborasi lintas sektor, serta memperkuat peran Yogyakarta dan Indonesia dalam ekonomi halal.
“Saya berharap Forum Ekonomi Regional Jawa ini dapat melahirkan rekomendasi yang konkret, memperkuat literasi masyarakat, membuka ruang kolaborasi, serta mendorong Yogyakarta dan Indonesia mengambil peran yang lebih bermakna dalam pengembangan ekonomi syariah dan industri halal masa depan,” pungkas Noviar.(*)