KABARBURSA.COM – Harga logam mulia bergerak melemah pada Senin, 29 Desember 2025 waktu Amerika Serikat (AS).
Harga perak terkoreksi setelah sebelumnya menembus level USD80 per ounce, sementara emas turun dari posisi mendekati rekor tertinggi, seiring aksi ambil untung investor dan meredanya dorongan geopolitik yang menurunkan permintaan aset safe haven.
Seperti dilaporkan Reuters, harga emas spot turun 1,7 persen ke USD4.455,34 per ounce, setelah mencetak rekor tertinggi USD4.549,71 pada Jumat lalu. Kontrak berjangka emas Amerika Serikat pengiriman Februari melemah 1,2 persen ke USD4.500,30 per ounce.
Harga perak spot turun 4,6 persen ke USD75,47 per ounce, menjauh dari rekor tertinggi sepanjang masa USD83,62 yang sempat dicapai lebih awal pada sesi perdagangan.
“Kombinasi aksi ambil untung dan pembicaraan yang tampak produktif antara Trump dan Zelenskiy terkait potensi kesepakatan damai membuat emas dan perak berada di bawah tekanan,” ujar Chief Market Analyst KCM Trade, Tim Waterer.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pada Minggu bahwa dirinya dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy “semakin mendekati, bahkan mungkin sangat dekat” dengan kesepakatan untuk mengakhiri perang di Ukraina.
Sepanjang tahun berjalan, harga perak telah melonjak 181 persen, melampaui kinerja emas. Kenaikan tersebut didorong penetapan perak sebagai mineral kritis di Amerika Serikat, keterbatasan pasokan, serta rendahnya tingkat persediaan di tengah meningkatnya permintaan industri dan investasi.
Sementara itu, kenaikan harga emas ditopang oleh berbagai faktor, mulai dari ekspektasi pemangkasan suku bunga lanjutan di Amerika Serikat, ketegangan geopolitik, permintaan kuat dari bank sentral, hingga meningkatnya kepemilikan emas dalam produk exchange-traded fund (ETF).
Waterer menilai level USD5.000 per ounce menjadi target yang realistis bagi emas pada tahun depan, dengan catatan Ketua Federal Reserve berikutnya mengambil sikap kebijakan moneter yang lebih dovish.
“Pemangkasan suku bunga serta berlanjutnya permintaan industri yang kuat, dikombinasikan dengan keterbatasan pasokan, berpotensi mendorong perak menuju level USD100 per ounce pada 2026,” kata Waterer.
Pelaku pasar masih memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga Amerika Serikat tahun depan, sambil menanti rilis risalah rapat Federal Reserve bulan Desember untuk petunjuk arah kebijakan lebih lanjut.
Aset tanpa imbal hasil, seperti emas dan perak, umumnya berkinerja lebih baik dalam lingkungan suku bunga rendah.
Di sisi lain, harga platinum spot turun 6,2 persen ke USD2.298,45 per ounce setelah sebelumnya melonjak ke rekor tertinggi USD2.478,50. Harga palladium anjlok lebih dalam, turun 11,4 persen ke USD1.705,15 per ounce. (*)