KABARBURSA.COM – Pergerakan harga emas dunia di sepanjang 2025, sangat luar biasa. Emas melesat hingga lebih dari 60 persen dan menembus rekor di atas USD4.549 per ons. Ini bukan reli biasa, melainkan performa tahunan terbesar sejak 1979.
Menutup tahun, pada perdagangan Rabu waktu setempat, 31 Desember 2025, harga emas turun di level USD4.330 per ons. Koreksi ini tepat dibaca sebagai fase pendinginan setelah reli vertikal. Dalam konteks historis, reli emas selalu diikuti oleh volatilitas tinggi.
Namun, emas sepanjang tahun ini tidak hanya berfungsi sebagai aset spekulatif, tetapi kembali menegaskan perannya sebagai jangkar nilai di tengah ketidakpastian global.
Pendorong utama reli emas adalah ekspektasi kebijakan moneter. Pasar memproyeksikan bahwa Federal Reserve akan kembali memangkas suku bunga pada 2026. Sebab, pemangkasan suku bunga menjadi daya tarik bagi emas untuk menguat. Alasannya, opportunity cost memegang aset tanpa imbal hasil menjadi rendah.
Narasi ini diperkuat oleh pembelian emas besar-besaran oleh bank sentral dunia. Bank sentral menambah ratusan ton emas ke cadangan devisa global sepanjang tahun. Hal ini menandakan adanya pergeseran strategis, dari ketergantungan pada aset berbasis dolar ke lindung nilai yang lebih netral dan tahan gejolak geopolitik.
Emas Akan Terkoreksi di 2026
Di saat yang sama, ketidakpastian global menjadi katalis yang konsisten. Ketagangan geopolitik, beban utang yang tinggi di AS dan Eropa, hingga kekhawatiran gelembung kecerdasan buatan, menciptakan lingkungan baru bagi emas.
Namun, reli tajam ini membawa konsekuensi. Emas saat ini berada di level harga yang sangat padat kepemilikan. Sejumlah analis mengingatkan bahwa emas rentan mengalami koreksi di 2026.
Risiko koreksi bukan berasal dari melemahnya fundamental, tetapi dari sifat pasar itu sendiri. Saat investor membutuhkan likuiditas di tengah tekanan pasar, maka aset yang paling mudah dijual dan punya keuntungan besar adalah emas.
Meski demikian, banyak pula analis yang memperkirakan emas tetap berpotensi melanjutkan kenaikannya pada 2026. Namun, lajunya lebih stabil dibandingkan lonjakan ekstrem 2025. Artinya, performa emas ke depan kemungkinan akan lebih ditentukan oleh konsistensi faktor struktural. Misalnya saja arah kebijakan suku bunga global, dinamika inflasi, serta strategi diversifikasi cadangan bank sentral.
Pergerakan perak yang melonjak lebih dari 140 persen sepanjang tahun memberi konteks tambahan bagi emas. Jika emas digerakkan oleh kebijakan moneter dan sentimen lindung nilai, perak mendapat dorongan tambahan dari sisi fundamental industri.
Pembatasan ekspor perak oleh China, yang merupakan produsen besar dunia, memperketat pasokan global di saat permintaan industri tetap tinggi. Kondisi ini memperkuat narasi bahwa reli logam mulia bukan hanya fenomena moneter, tetapi juga persoalan keseimbangan supply-demand.
Dengan demikian, performa harga emas dunia sepanjang 2025 dapat dinilai sangat kuat secara fundamental, meski disertai risiko volatilitas yang tinggi. Koreksi jangka pendek bukan sinyal kegagalan tren, melainkan bagian dari proses penyesuaian setelah reli historis.
Memasuki 2026, emas berada di persimpangan antara konsolidasi sehat dan kelanjutan tren naik yang lebih terukur, menjadikannya tetap relevan sebagai barometer ketidakpastian global dan kebijakan moneter dunia.(*)