KABARBURSA.COM – Gejolak geopolitik dunia kembali bergerak, kali ini lewat dinamika panas antara Amerika Serikat dan Venezuela. Meski jauh dari Jakarta, riaknya tetap terasa hingga ke meja-meja pengambil kebijakan di Tanah Air. Peristiwa ini dibaca bukan sebagai tontonan luar negeri, melainkan sebagai alarm dini yang tak boleh diabaikan.
Anggota Komisi XI DPR RI, Amin Ak, mengingatkan konflik global semacam ini selalu membawa konsekuensi ekonomi yang menjalar. Indonesia memang tidak terlibat langsung, namun dampak ikutannya bisa masuk lewat jalur yang tak kasat mata. Harga minyak dunia berpotensi bergejolak, nilai tukar bisa tertekan, dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara menghadapi risiko tambahan, terutama pada pos subsidi dan kompensasi energi.
Amin mengatakan di era ekonomi global yang saling terhubung, satu titik api geopolitik bisa memantik reaksi berantai di pasar keuangan. Persepsi risiko meningkat, pelaku pasar bersikap defensif, dan harga komoditas strategis seperti minyak kerap menjadi sasaran pertama fluktuasi.
Bagi Indonesia yang masih berstatus sebagai net importir minyak, situasi ini menuntut kewaspadaan ekstra. Namun Amin mengingatkan agar kehati-hatian itu tidak berubah menjadi kepanikan publik. Kebijakan perlu disiapkan secara matang dan tenang, tanpa memantik kecemasan yang tak perlu.
"Pemerintahan Prabowo telah mengambil langkah yang tepat dengan menjaga stabilitas makroekonomi dan disiplin fiskal. Namun, dinamika global yang semakin kompleks menuntut antisipasi yang lebih sistematis dan terukur, agar gejolak eksternal tidak mengganggu agenda pembangunan nasional," katanya dalam keterangan tertulis yang diterima KabarBursa.com, Selasa, 6 Januari 2026.
Amin menilai konflik Venezuela juga tidak bisa dilihat secara terpisah. Keterlibatan kepentingan negara-negara besar seperti China dan Rusia menunjukkan bahwa persoalan ini sudah masuk ke arena rivalitas global. Ketika kekuatan besar saling berhadapan, ketidakpastian pasar cenderung meluas. Negara berkembang seperti Indonesia bisa ikut terdampak, meski hanya sebagai penonton, lewat jalur harga energi, arus modal asing, dan pergerakan nilai tukar.
"Dalam konteks ini, ketahanan APBN menjadi kunci utama. Asumsi makro, terutama harga minyak dan kurs, harus terus dievaluasi dengan pendekatan manajemen risiko yang kuat," jelas Amin.
Menurutnya, APBN harus cukup lentur untuk menyerap guncangan dari luar tanpa mengorbankan belanja-belanja yang bersentuhan langsung dengan rakyat. Pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial tak boleh tergeser oleh tekanan eksternal. Apalagi Indonesia masih berjibaku memulihkan kondisi sosial ekonomi dan infrastruktur pasca bencana alam, khususnya di wilayah Sumatera.
Isu global ini, kata Amin, sekaligus menegaskan kembali satu hal mendasar. Menjaga daya beli masyarakat adalah kewajiban negara. Pengelolaan subsidi energi yang berbasis harga global harus dilakukan secara hati-hatimkarena jika salah langkah justru membuat APBN semakin rapuh.
Ke depan, arah subsidi perlu makin diperjelas. Bantuan negara harus lebih tepat sasaran, benar-benar menyentuh kelompok masyarakat yang membutuhkan, sejalan dengan upaya menjaga keberlanjutan fiskal jangka panjang. "Stabilitas nilai tukar, pengendalian inflasi, serta kepercayaan pasar harus terus dijaga melalui kebijakan yang kredibel dan konsisten," ujar Amin.
Ia menambahkan, politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif tidak boleh berdiri sendirian. Sikap netral dalam konflik global harus dibarengi dengan fondasi ekonomi domestik yang kuat. Netralitas bukan berarti menutup mata terhadap risiko, melainkan memastikan Indonesia cukup tangguh untuk berdiri di atas kakinya sendiri.
Ketahanan energi dan ketahanan fiskal, menurut Amin, adalah prasyarat utama agar Indonesia tetap mampu menjalankan kepentingan nasional secara mandiri di tengah dunia yang makin bergejolak.
Pada akhirnya, setiap kebijakan ekonomi dituntut berjalan dengan penuh kehati-hatian. Langkah-langkah antisipatif harus disiapkan lebih awal dengan keberpihakan yang jelas kepada kepentingan rakyat. "Dengan langkah yang tenang dan terukur, Indonesia diyakini mampu menjaga stabilitas ekonomi di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian," pungkasnya.
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.