KABARBURSA.COM – Menjelang peninjauan indeks global oleh MSCI pada awal 2026, perhatian pelaku pasar kembali tertuju pada potensi pergeseran komposisi saham Indonesia di indeks tersebut. Agenda ini kerap menjadi katalis pergerakan dana asing, seiring investor global menyesuaikan portofolio mereka mengikuti hasil rebalancing.
Menurut riset Samuel Sekuritas Indonesia, MSCI dijadwalkan mengumumkan hasil peninjauan indeks pada 10 Februari 2026, dengan tanggal efektif rebalancing pada 1 Maret 2026. Jarak waktu yang kian menipis ini membuat pelaku pasar mulai menghitung, bukan hanya siapa yang berpotensi masuk, tetapi juga siapa yang terancam keluar dari indeks bergengsi tersebut.
Head of Research Samuel Sekuritas, Prasetya Gunadi, mengatakan momen peninjauan MSCI hampir selalu diikuti oleh pergerakan dana asing yang signifikan. “Memasuki awal tahun 2026, pasar modal Indonesia kembali diramaikan oleh perbincangan mengenai potensi perubahan komposisi indeks MSCI,” tulis Prasetya dalam risetnya.
Dari hasil kajian tersebut, satu nama muncul paling depan. PT Bumi Resources Tbk atau BUMI dinilai sebagai kandidat terkuat untuk masuk ke MSCI Indonesia Global Standard. Emiten batu bara ini tercatat memiliki kapitalisasi pasar sekitar USD10,3 miliar dengan tingkat free float sebesar 28,3 persen, ditopang likuiditas yang relatif solid.
“Dari hasil riset kami, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) muncul sebagai salah satu kandidat terkuat untuk masuk ke MSCI Indonesia Global Standard,” kata Prasetya, dikutip dari laman Samuel Sekuritas, Sabtu, 10 Januari 2026.
Likuiditas BUMI menjadi salah satu faktor kunci. Dalam satu tahun terakhir, rata-rata nilai transaksi harian saham ini mencapai USD36,7 juta. Dengan profil tersebut, Samuel Sekuritas memperkirakan potensi aliran dana asing yang dapat masuk ke BUMI berada di kisaran USD180 juta hingga USD300 juta jika resmi masuk ke indeks MSCI Global Standard.
Selain BUMI, perhatian pasar juga mengarah ke sektor properti. PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk atau PANI dinilai memiliki peluang signifikan untuk menyusul masuk ke MSCI Indonesia Global Standard. Kapitalisasi pasar PANI bahkan lebih besar, mencapai sekitar USD13,3 miliar, meski free float-nya relatif lebih kecil di kisaran 15,9 persen.
“PANI juga kami nilai memiliki peluang signifikan untuk masuk ke MSCI Indonesia Global Standard,” kata Prasetya.
Ia menambahkan meski likuiditas perdagangan PANI lebih rendah dibandingkan BUMI, skala kapitalisasi pasar dan struktur kepemilikan saham tetap menjadikannya kandidat kuat, dengan potensi foreign inflow yang juga berada di kisaran USD180 juta hingga USD300 juta.
Di luar kategori Global Standard, Samuel Sekuritas juga mengidentifikasi deretan saham yang berpotensi masuk ke MSCI Indonesia Small Cap. Nama-nama seperti PT Darma Henwa Tbk, PT Indosat Tbk, PT Adaro Minerals Indonesia Tbk, hingga PT Timah Tbk masuk dalam radar karena dinilai telah memenuhi kriteria MSCI dari sisi kapitalisasi pasar, free float, dan likuiditas.
“Masuknya emiten-emiten ini ke dalam indeks MSCI Small Cap berpotensi mendorong peningkatan visibilitas di mata investor global,” kata Prasetya, meski ia menegaskan bahwa estimasi aliran dana asing di kategori ini relatif lebih terbatas dibandingkan Global Standard.
Namun, rebalancing MSCI tidak hanya soal peluang masuk. Ada juga risiko tersingkir. Samuel Sekuritas mencatat PT Indofood Sukses Makmur Tbk sebagai salah satu emiten yang berpotensi terdampak di kategori MSCI Indonesia Global Standard. Sementara di kelompok Small Cap, saham-saham seperti PT Astra Agro Lestari Tbk, PT Midi Utama Indonesia Tbk, hingga PT Ace Hardware Indonesia Tbk masuk dalam daftar yang perlu dicermati.
“Potensi arus keluar dana asing dari saham-saham tersebut perlu dicermati investor, terutama menjelang periode pengumuman dan implementasi indeks,” kata Prasetya.
Bagi pasar, peninjauan MSCI selalu menjadi momen krusial karena dampaknya kerap terasa bahkan sebelum keputusan resmi diumumkan. Aliran dana asing sering bergerak lebih dulu, mengantisipasi hasil, bukan menunggu kepastian. Karena itu, Februari dan Maret 2026 berpotensi menjadi periode yang menentukan, bukan hanya bagi saham-saham kandidat, tetapi juga bagi emiten yang berada di ambang keluar dari indeks.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.