KABARBURSA.COM – Pasar minyak mentah global masih menunjukkan sikap hati-hati di tengah meningkatnya tensi Amerika Serikat–Venezuela. Meski harga minyak bertahan di zona teknikal penting dan kurva berjangka masih berada dalam kondisi backwardation, data posisi spekulan menunjukkan investor belum sepenuhnya mengubah pandangan menjadi bullish.
Presiden Amerika Serikat menyatakan Venezuela akan “memberikan” 50 juta barel minyak kepada AS, dengan nilai sekitar USD3 miliar. Pernyataan tersebut memicu spekulasi baru soal arah pasokan minyak, terutama untuk pasar domestik AS dan dampaknya terhadap keseimbangan global.
Namun fokus utama pelaku pasar saat ini bukan pada pernyataan politik, melainkan pada struktur pasar minyak. Dalam laporan analisis yang dikutip dari Barchart, arus dana spekulan di pasar minyak mentah belum menunjukkan perubahan signifikan.
Berdasarkan data Commitments of Traders (COT) dari CFTC, posisi net-long dana investasi di kontrak berjangka WTI tercatat hanya 57.352 kontrak untuk pekan yang berakhir 6 Januari. Angka tersebut turun 7.239 kontrak dibanding pekan sebelumnya dan berada tidak jauh dari level terendah terbaru 39.800 kontrak pada Oktober 2025. Sebagai perbandingan, pada awal 2018 posisi net-long spekulan sempat mencapai 739.100 kontrak.
Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa minat beli spekulatif masih terbatas, meskipun harga saham sektor energi justru mencatat penguatan dalam beberapa sesi terakhir. Penguatan saham energi lebih banyak dipicu ekspektasi akses perusahaan minyak AS terhadap cadangan Venezuela, bukan karena perubahan fundamental permintaan global.
Di sisi pasokan, minyak yang berpotensi dialihkan dari Venezuela ke AS merupakan heavy crude, jenis yang sesuai untuk kilang-kilang di wilayah Gulf Coast. Secara teori, peningkatan pasokan minyak berat dapat mendorong produksi bensin dan diesel. Namun risiko muncul jika minyak tersebut juga dilepas ke pasar global, karena akan menambah pasokan di tengah tren perlambatan permintaan dunia.
Meski demikian, struktur pasar minyak masih memberikan sinyal berbeda. Kurva berjangka WTI dan Brent tetap berada dalam kondisi backwardation hingga kontrak Februari 2027, yang secara teknikal sering dibaca sebagai indikasi pasokan jangka pendek yang ketat.
Analis mencatat, jika algoritma perdagangan tetap merespons backwardation sebagai sinyal bullish, pasar berpotensi mengalami reli teknikal meski fundamental belum sepenuhnya mendukung. Namun reli semacam itu berisiko bersifat sementara dan rentan berbalik jika tidak diikuti perbaikan permintaan riil.
Pada penutupan terakhir, kontrak WTI bulan berjalan ditutup di USD59,12, mendekati level tertinggi empat pekan di USD59,77. Sementara Brent ditutup di USD63,34, dengan resistance jangka pendek di area USD63,91.
Pelaku pasar kini menunggu respons lanjutan dari pergerakan dana spekulan dan arah kebijakan energi AS untuk menilai apakah minyak mentah benar-benar memasuki fase bullish baru, atau hanya mengalami penguatan teknikal sementara di tengah fundamental yang masih rapuh. (*)