KABARBURSA.COM — Memasuki awal 2026, pasar minyak dunia membawa ingatan segar akan satu tahun yang terasa berat dan penuh tarik-menarik. Sepanjang 2025, harga minyak lebih sering bergerak menurun, seolah kehilangan tenaga untuk bangkit, meski sesekali tersentak oleh kabar geopolitik. Musabab utamanya tentu tak jauh-jauh dari dunia yang dibanjiri pasokan, sementara pertumbuhan konsumsi berjalan pelan.
Kilasan dramatis sempat muncul di penghujung Oktober 2025. Harga minyak melonjak sekitar 5 persen setelah Amerika Serikat mengumumkan sanksi baru terhadap perusahaan minyak Rusia. Pada 29 Oktober, Brent ditutup di kisaran USD65 per barel. Lonjakan itu memberi kesan seolah pasar kembali bergairah, tetapi euforia tersebut tidak bertahan lama. Sepanjang 2025, tekanan justru datang dari ketegangan kebijakan perdagangan global dan kekhawatiran kelebihan pasokan yang terus membayangi.
Penurunan harga Brent sepanjang tahun turut menyeret harga minyak Rusia jenis Urals. Harganya sempat jatuh di bawah USD60 per barel, ambang batas harga yang diberlakukan sejak Februari 2025. Situasi ini makin menekan ketika batas harga baru yang lebih rendah, sekitar USD47,6 per barel, mulai diterapkan pada September. Bagi pasar, ini bukan sekadar angka, melainkan sinyal bahwa tekanan struktural di sisi harga belum benar-benar reda.
Di sisi permintaan, ceritanya tak kalah suram. Dilansir dari laman World Bank, Kamis, 8 Januari 2026, pertumbuhan konsumsi minyak global terus melemah. Pada kuartal ketiga 2025, permintaan dunia diperkirakan hanya bertambah sekitar 0,8 juta barel per hari, atau setara 0,7 persen secara tahunan. Angka ini terasa kecil jika dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan pada periode 2015 hingga 2019.
Tren ini diperkirakan berlanjut, dengan total permintaan minyak global mencapai sekitar 103,8 juta barel per hari sepanjang 2025 dan naik tipis menjadi 104,5 juta barel per hari pada 2026.
Di negara-negara maju, konsumsi minyak diproyeksikan relatif stagnan. China, yang selama ini menjadi motor utama pertumbuhan, mulai menunjukkan perlambatan seiring percepatan adopsi kendaraan listrik dan hibrida. India justru menjadi titik terang, dengan pertumbuhan permintaan didorong oleh konsumsi LPG, bensin, nafta, dan diesel. Namun dorongan dari India saja belum cukup untuk mengimbangi pelemahan di kawasan lain.
Berbanding terbalik dengan permintaan, pasokan minyak justru terus mengalir deras. Produksi global diperkirakan meningkat sepanjang 2025 dan 2026 seiring beroperasinya sumber-sumber baru. Pada 2025, output minyak dunia diproyeksikan tumbuh sekitar 3,0 juta barel per hari atau naik 2,9 persen secara tahunan, sehingga mencapai 106,1 juta barel per hari. Angka ini diperkirakan kembali melonjak menjadi 108,5 juta barel per hari pada 2026.
Kenaikan pasokan ini datang dari berbagai penjuru. Produksi di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara diperkirakan kembali meningkat, begitu pula di Amerika Latin dan Karibia. Sebaliknya, laju pertumbuhan di negara-negara maju mulai melambat. Hampir separuh tambahan pasokan pada 2025 berasal dari OPEC+, seiring kenaikan target produksi yang telah beberapa kali disesuaikan sejak April.
Kombinasi antara pasokan yang melimpah dan konsumsi yang lesu menciptakan kondisi yang sulit dihindari, yakni kelebihan minyak secara global. Selisih antara pasokan dan permintaan pada kuartal ketiga 2025 kurang lebih mencapai 2,7 juta barel per hari. Kelebihan ini sebagian besar dipicu oleh keputusan OPEC+ yang berulang kali menaikkan target produksi.
Menariknya, pertumbuhan persediaan yang benar-benar tercatat di lapangan sepanjang 2025 hanya mencerminkan sekitar separuh dari surplus yang tersirat tersebut. Namun tanda-tanda kelebihan pasokan makin sulit diabaikan. Di Timur Tengah, beberapa kargo minyak dilaporkan tidak laku terjual. Pada saat yang sama, jumlah minyak yang mengapung di kapal tanker meningkat tajam, menjadi sinyal bahwa pasar mulai kewalahan menyerap pasokan.
Dalam hitungan tahunan, lembaga energi internasional memperkirakan surplus minyak global mencapai sekitar 2,3 juta barel per hari sepanjang 2025. Angka ini diproyeksikan melonjak menjadi 4,0 juta barel per hari pada 2026, bahkan lebih tinggi sekitar 1,6 juta barel per hari dibandingkan surplus yang tercatat pada 2020 saat pandemi melanda.
Dengan kondisi seperti ini, arah risiko harga minyak dinilai lebih condong ke bawah. Harga Brent diperkirakan rata-rata berada di sekitar USD68 per barel pada 2025, lalu turun ke kisaran USD60 per barel pada 2026, sebelum perlahan naik kembali menuju USD65 per barel ketika kondisi pasar mulai menemukan keseimbangan baru.
Risiko penurunan terbesar datang dari kemungkinan OPEC+ kembali menaikkan target produksinya. Di luar itu, potensi munculnya kembali ketegangan perdagangan global serta ketidakpastian kebijakan juga menjadi bayang-bayang yang sulit diabaikan. Meski begitu, peluang kenaikan harga belum sepenuhnya tertutup. Jika pasar ternyata lebih ketat dari perkiraan, misalnya karena permintaan dari negara non-OECD tumbuh lebih kuat atau pasokan terhambat akibat pembatasan OPEC+ dan penurunan produksi Amerika Serikat, harga bisa melampaui proyeksi dasar.
Faktor geopolitik tetap menjadi kartu liar. Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah atau Ukraina, serta dampak lanjutan dari sanksi tambahan, termasuk langkah terbaru Amerika Serikat terhadap perusahaan minyak Rusia, berpotensi kembali mengguncang pasar. Namun untuk saat ini, memasuki 2026, minyak dunia lebih banyak dibayangi cerita tentang kelebihan pasokan dan pertumbuhan permintaan yang kian berhati-hati.
Saham Migas Masuk Fase Seleksi Investor
Di tengah bayang-bayang kelebihan pasokan dan harga yang cenderung melandai, peta emiten minyak di Bursa Efek Indonesia tetap menarik untuk dibaca. Bukan karena menjanjikan lonjakan instan, melainkan karena sektor ini masih menjadi simpul penting dalam rantai energi nasional, dari hulu hingga jasa penunjang.
Dalam klasifikasi industri yang diterbitkan Bursa Efek Indonesia, emiten minyak dan gas masuk ke dalam subindustri Oil and Gas Production and Refinery di sektor energi. Cakupannya tidak hanya produsen minyak dan gas, tetapi juga perusahaan jasa pendukung, mulai dari pengeboran, logistik, pengelolaan gas, hingga perawatan sumur. Dengan kata lain, denyut sektor ini tidak hanya bergantung pada harga minyak mentah semata, tetapi juga pada aktivitas eksplorasi, produksi, dan efisiensi operasional.
Di lapisan jasa pengeboran, nama PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) tercatat sebagai pemain lama yang beroperasi sejak 1980-an, melayani pengeboran migas darat dan lepas pantai di berbagai wilayah Indonesia. Kinerja perusahaan ini kerap dibaca pasar sebagai cerminan aktivitas pengeboran nasional, ketika proyek migas berjalan atau melambat.
Sementara itu, di hulu migas, PT Energi Mega Persada Tbk atau ENRG hadir dengan portofolio eksplorasi dan produksi di dalam negeri serta luar negeri, termasuk Mozambik. Model bisnis berbasis produksi membuat emiten ini sensitif terhadap pergerakan harga minyak dan gas, tetapi juga memberi gambaran bagaimana perusahaan migas nasional bertahan di tengah fluktuasi global.
Di segmen pengolahan gas, PT Surya Esa Perkasa Tbk atau ESSA memainkan peran yang berbeda. Dengan mengoperasikan kilang LPG swasta berskala besar, aktivitasnya lebih dekat dengan hilirisasi gas dan ketahanan pasokan energi domestik. Karakter bisnis semacam ini kerap dibaca lebih defensif dibanding produsen minyak mentah murni.
Nama besar lain di sektor ini adalah PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), yang dikenal sebagai emiten energi terintegrasi. Jejaknya meliputi eksplorasi dan produksi migas, jasa pengeboran, hingga investasi energi lainnya. Dalam peta migas nasional, Medco sering diposisikan sebagai representasi perusahaan energi swasta Indonesia yang beroperasi lintas wilayah dan lintas segmen.
Di sisi lain, ada emiten-emiten dengan skala lebih kecil namun niche yang spesifik. PT Super Energy Tbk atau SURE misalnya, bergerak di pengolahan gas suar dan distribusi CNG, sebuah ceruk bisnis yang relevan di tengah dorongan efisiensi dan pengurangan emisi. PT Elnusa Tbk atau ELSA, yang dikenal sebagai anak usaha Pertamina, menjadi tulang punggung jasa hulu migas, dari layanan teknis hingga pengelolaan data.
Beberapa emiten lain seperti PT Capitalinc Investment Tbk (MTFN) dan PT Mitra Investindo Tbk (MITI) mencerminkan dinamika perusahaan yang bertransformasi, dari sektor pembiayaan atau pertambangan nonmigas menuju energi dan migas. Sementara PT Perdana Karya Perkasa Tbk (PKPK) dan PT Radiant Utama Interinsco Tbk (RUIS) lebih menonjol sebagai penyedia jasa kontraktor, teknik, dan peralatan migas.
Ada pula perusahaan dengan fokus yang lebih khusus, seperti PT Sigma Energy Compressindo Tbk (SICO) yang bergerak di monetisasi gas suar dengan teknologi kompresi, serta PT Ratu Prabu Energi Tbk (ARTI) dan PT Ginting Jaya Energi Tbk (WOWS) yang menggarap jasa perawatan dan pengerjaan ulang sumur-sumur migas tua. Segmen ini menjadi relevan ketika industri berupaya mempertahankan produksi dari lapangan eksisting tanpa eksplorasi besar-besaran.
Jika disandingkan dengan gambaran global, emiten-emiten migas di BEI berada dalam fase yang tidak lagi sekadar mengejar ekspansi agresif. Di tengah harga minyak yang diproyeksikan lebih rendah dan pasokan yang melimpah, perhatian pasar cenderung tertuju pada efisiensi, keberlanjutan proyek, dan kemampuan bertahan dalam siklus yang lebih ketat. Artinya, sektor migas di bursa Indonesia belum benar-benar kehilangan panggung. Namun perannya kini lebih tenang, lebih selektif, dan lebih bergantung pada kualitas operasional ketimbang euforia harga.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.