KABARBURSA.COM – Potensi kebangkitan produksi minyak Venezuela kembali menjadi perhatian pasar energi global. Negara dengan cadangan minyak mentah terbesar di dunia itu dinilai mampu menambah pasokan global, meski dampaknya terhadap harga minyak dunia diperkirakan tidak langsung terasa dalam jangka pendek.
Saat ini, Venezuela memproduksi sekitar 1,1 juta barel per hari, jauh di bawah level historisnya. Pada periode puncak, produksi minyak Venezuela pernah mencapai 3 hingga 3,5 juta barel per hari. Jika produksi kembali ke kisaran tersebut, tambahan pasokan ke pasar global diperkirakan hanya sekitar 2 persen dari total pasokan minyak dunia.
Analis menilai tambahan pasokan tersebut belum cukup besar untuk menggeser keseimbangan pasar secara signifikan, terutama di tengah kondisi pasokan global yang masih relatif longgar.
Analis Global Risk Management, Arne Lohmann Rasmussen, kepada Reuters menyampaikan penilaiannya bahwa kebangkitan produksi Venezuela membutuhkan waktu panjang.
“Jika perkembangan politik benar-benar mengarah pada perubahan rezim yang nyata, ini bisa menghasilkan tambahan pasokan minyak ke pasar dalam jangka panjang. Namun, pemulihan produksi secara penuh akan memakan waktu,” ujarnya, dikutip Senin, 5 Januari 2026.
Dari sisi harga, analis menilai dampak Venezuela lebih relevan sebagai faktor jangka panjang ketimbang pemicu volatilitas harian. Analis Goldman Sachs, Daan Struyven, menyebut harga minyak Brent berpotensi bergerak sekitar USD2 per barel lebih tinggi dari proyeksi dasar jika produksi Venezuela turun 400 ribu barel per hari hingga akhir tahun.
“Sebaliknya, harga Brent bisa USD2 lebih rendah jika produksi meningkat dengan jumlah yang sama,” ujarnya kepada Bloomberg Europe.
Goldman juga menyoroti risiko penurunan harga minyak dalam horizon yang lebih panjang. “Potensi peningkatan produksi Venezuela dalam jangka panjang menambah risiko penurunan terhadap proyeksi harga minyak kami untuk 2027 dan seterusnya,” tulis Goldman.
Bank investasi tersebut memperkirakan tekanan penurunan harga hingga USD4 per barel pada 2030 jika produksi Venezuela meningkat menjadi 2 juta barel per hari, dibandingkan asumsi dasar sebelumnya sekitar 900 ribu barel per hari.
Meski demikian, sejumlah analis menekankan bahwa kebangkitan Venezuela bukan proses cepat. Kepala Ekonom GasBuddy, Patrick De Haan, menyatakan infrastruktur minyak Venezuela telah mengalami kemunduran selama bertahun-tahun.
“Infrastruktur minyak Venezuela telah membusuk selama bertahun-tahun dan akan membutuhkan waktu untuk dibangun kembali,” ujarnya kepada Associated Press.
Pandangan senada disampaikan Analis Pasar Senior Price Futures Group, Phil Flynn. Ia menilai kebangkitan Venezuela berpotensi menekan harga minyak dalam jangka panjang jika produksi meningkat signifikan.
“Jika Venezuela kembali menjadi kekuatan besar dalam produksi minyak, itu dapat mengunci harga minyak yang lebih rendah dalam jangka panjang,” kata Flynn.
Namun, Flynn menegaskan bahwa skenario tersebut sangat bergantung pada stabilitas politik dan kepastian kebijakan. Tanpa lingkungan politik yang jelas dan kontrak yang dapat dipercaya, minat investasi perusahaan energi global diperkirakan akan terbatas.
Dengan berbagai faktor tersebut, pasar minyak global cenderung memandang Venezuela sebagai risiko penurunan harga jangka panjang, bukan faktor yang langsung mengubah arah harga saat ini.
Selama pemulihan produksi berjalan bertahap dan membutuhkan investasi besar, dampak Venezuela ke harga minyak dunia diperkirakan baru akan terasa dalam horizon beberapa tahun ke depan. (*)