Logo
>

Nasdaq, Dow, dan S&P 500 Kompak Melemah di Akhir Tahun

Meski terkoreksi tipis di akhir tahun, Wall Street menutup 2025 dengan reli kuat berbasis AI, di tengah bayang-bayang inflasi, valuasi mahal, dan ketidakpastian arah suku bunga AS.

Ditulis oleh Yunila Wati
Nasdaq, Dow, dan S&P 500 Kompak Melemah di Akhir Tahun
Ilustrasi: Suasana dalam New York Stock Exchange atau Wall Street. (Foto: Wikimedia Commons)

KABARBURSA.COM – Wall Street menutup akhir 2025 dengan koreksi tipis. Pada perdagangan Rabu waktu setempat, 31 Desember 2025, seluruh indeks berada di zona merah. S&P 500 turun 0,2 persen, Dow Jones melemah 100 poin, dan Nasdaq terkoreksi 0,1 persen.

Volume transaksi yang menipis jelang libur tahun baru membuat setiap pergerakan harga terasa datar, sementara mayoritas investor institusional telah mengunci keuntungan dan menutup buku tahunannya.

Meski demikian, jika dilihat setahun penuh, performa Wall Street tetap sangat solid. S&P 500 mencetak 39 rekor tertinggi di sepanjang tahun, melesat sekitar 17 persen. Ini adalah tahun ketiga berturut-turut bagi S&P 500 mencatat kenaikan dua digit.

Begitu pula dengan Nasdaq yang mencatatkan kenaikan lebih agresif. Sepanjang tahun, Nasdaq melesat 21,1 persen. Dow Jones berada di bawah S&P 500, dengan kenaikan mencapai 13,4 persen. Angka-angka ini menunjukkan bahwa reli di 2025 bukan sekadar rebound sesaat, melainkan tren yang relatif luas dan berkelanjutan.

Kecerdasan Buatan Motor Utama

Kenaikan signifikan Wall Street didorong oleh optimisme terhadap kecerdasan buatan. Investor sepanjang tahun bersedia memberi valuasi premium pada saham-saham yang dipersepsikan akan menjadi tulang punggung produktivitas dan pertumbuhan laba di era AI.

Walau begitu, reli tidak berjalan mulus. Volatilitas sempat melonjak tajam pada awal April. Saat itu, indeks S&P 500 anjlok hampir 5 persen intraday. Pelemahan disusuk sehari kemudian akibat respons China terhadap kebijakan tarif Presiden Donald Trump. Episode ini menunjukkan betapa sensitifnya pasar terhadap risiko geopolitik dan kebijakan perdagangan.

Tekanan pasar mulai mereda ketika Trump memutuskan untuk menunda tarif dan menegosiasikan ulang sejumlah kesepakatan dagang dengan negara-negara tetangga. Di saat yang sama, laporan laba perusahaan yang kuat serta tiga kali pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserfe, memberikan katalis tambahan bagi aset berisiko.

Kombinasi antara pertumbuhan laba dan kebijakan moneter yang lebih akomodatif ini kemudian memperkuat narasi bahwa ekonomi AS masih mampu menopang valuasi saham yang tinggi.

Namun kemudian, muncul keraguan. Kekhawatiran besar datang dari pertanyaan, apakah investasi masif di sektor AI ini benar-benar akan menghasilkan laba dan produktivitas yang sepadan? Pertanyaan ini kemudian menjadi penekan saham-saham unggulan seperti Nvidia dan Broadcom.

Inflasi AS Bertahan di Atas Target

Beralih ke sisi makro. Risiko inflasi masih menjadi variable kunci. Perang dagang yang belum sepenuhnya mereda berpotensi menambah tekanan harga. Sementara, inflasi AS masih bertahan di atas target 2 persen The Fed.

Pasar obligasi pun bergejolak. Imbal hasil naik, di mana yield treasury 10 tahun naik ke 4,16 persen dan yield dua tahun menguat ke 3,47 persen. Di sini, pelaku pasar mulai menyesuaikan ekspektasi terhadap kebijakan moneter, meskipun The Fed berencana menahan suku bunga pada pertemuan Januari 2026.

Sementara itu, data ketenagakerjaan terbaru memberi sinyal campuran. Penurunan klaim pengangguran menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja masih cukup tangguh, meskipun ada indikasi perlambatan.

Ini yang menjadi alasan the Fed tidak buru-buru melonggarkan kebijakan lebih jauh.

Laju Cepat Logam Mulia

Di pasar komoditas, logam mulia melaju dengan kencang. Perak berfluktuasi tajam, dengan mencatatkan kenaikan spektakuler lebih dari 140 persen sepanjang tahun. Sementara emas, meski terkoreksi, masih menguat sebesar 64 persen.

Kinerja ini menegaskan peran logam mulia sebagai lindung nilai di Tengah ketidakpastian geopolitik dan inflasi.

Sementara itu, pelemahan harga minyak ke kisaran USD57 per barel untuk WTI dan USD60 per barel untuk Brent menunjukkan kekhawatiran terhadap permintaan global, seiring aktivitas ekonomi yang tidak sepenuhnya merata.

Secara keseluruhan, performa Wall Street di akhir 2025 menunjukkan pasar yang tetap kuat secara struktural, tetapi semakin selektif dan sensitif terhadap risiko. Reli berbasis AI, dukungan kebijakan moneter, dan kinerja laba perusahaan menjadi fondasi utama, sementara isu valuasi, inflasi, dan geopolitik menjadi sumber kehati-hatian.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79