Logo
>

Panggung Teknologi Dunia Naik Daun, AI Mulai Mengubah Wajah Industri Hiburan

Dari panggung CES 2026, kecerdasan buatan perlahan masuk ke ruang kreatif Hollywood, kreator digital, hingga pengalaman hiburan rumahan

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Panggung Teknologi Dunia Naik Daun, AI Mulai Mengubah Wajah Industri Hiburan
AI mulai mengubah industri hiburan global. CES 2026 menampilkan pergeseran peran teknologi dalam film, kreator digital, dan pengalaman menonton. Foto: Marketwatch

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM – Panggung teknologi terbesar di dunia selalu datang dengan sensasi. Di ajang CES 2026, perhatian pengunjung sempat tersedot oleh deretan inovasi yang nyaris terdengar seperti lelucon masa depan. Ada permen lolipop yang bisa bernyanyi saat dijilat, robot pelipat pakaian, sampai balok LEGO pintar yang diklaim bisa berpikir. Namun di balik parade gawai unik itu, ada satu benang merah yang diam-diam mengikat keseluruhan acara tahun ini, dunia hiburan.

    Las Vegas minggu ini bukan hanya soal chip, layar, atau mesin cerdas. Lebih dari 25 panel dan agenda diskusi yang digelar sepanjang pameran secara khusus membedah industri hiburan, dari studio film konvensional hingga ekosistem digital yang digerakkan para kreator konten. Diskusinya pun melebar. Mulai dari seberapa jauh kecerdasan buatan mampu membentuk sinema, bagaimana iklan berubah karena AI, sampai posisi ekonomi kreator yang kian besar dalam lanskap hiburan global.

    Kecerdasan buatan sendiri bukan isu baru di Hollywood. Selama bertahun-tahun, teknologi ini menjadi sumber perdebatan dan kecemasan. Banyak pelaku kreatif merasa ragu, bahkan defensif, terhadap alat-alat berbasis AI yang berkembang cepat. Kontroversi memuncak ketika Tilly Norwood, karakter yang sepenuhnya dibuat oleh AI, diperkenalkan sebagai aktor AI pertama pada musim gugur lalu. Sejak itu, pertanyaan soal hak cipta, kepemilikan karakter, gambar, dan materi kreatif terus menghantui perbincangan seputar AI.

    Meski begitu, nada yang muncul di sejumlah panggung CES tahun ini cenderung lebih optimistis. Banyak pembicara justru melihat AI sebagai alat bantu, bukan ancaman, yang bisa memperluas ruang berkarya alih-alih mematikan imajinasi manusia. Dwayne Koh, kepala kreatif di Leonardo.ai, menggambarkan perubahan itu sebagai pergeseran mendasar dalam cara bercerita.

    “Alat-alat yang kami ciptakan telah membuka sesuatu dalam diri kita. Standarnya menjadi lebih rata soal apa itu bercerita, karena sekarang siapa pun bisa menjadi pencerita. Ini menyamakan lapangan, sekaligus memudahkan orang menceritakan kisah yang selalu ingin mereka sampaikan, tetapi sebelumnya tak pernah punya kesempatan,” katanya, dikutip dari AP di Jakarta, Rabu, 7 Januari 2026.

    Nada serupa muncul dari sudut pandang yang lebih historis. Beberapa pembicara mengingatkan bahwa kepanikan Hollywood terhadap teknologi baru bukanlah hal baru. Hannah Elsakr, wakil presiden Adobe untuk pengembangan bisnis baru AI generatif, menarik garis ke masa lalu.

    “Ketika kami meluncurkan Photoshop pada tahun 1990-an, kami juga menerima banyak telepon bernada marah dari para kreator yang mengatakan kami menghancurkan kerajinan,” ujarnya dalam sesi tentang periklanan.

    Ia menegaskan fase saat ini masih sangat awal. “Kita masih di tahap awal dengan AI. Saya tidak mendorong lebih banyak video kucing yang meloncat dari papan loncat di linimasa Anda. Ini soal kreativitas tingkat tinggi, di mana sutradara, seniman, dan aktor tetap menjadi penggerak kualitas,” katanya. “Anggap saja AI sebagai satu alat tambahan dalam kotak perkakas untuk mendorong itu semua.”

    Di luar perdebatan soal teknologi dan seni, perhatian lain tertuju pada naiknya pamor kreator internet. Efisiensi kerja para kreator, yang kerap didukung alat-alat berbasis AI, menjadi topik hangat di banyak panel. Mereka tak lagi dipandang sekadar pengisi ruang digital, melainkan bagian penting dari ekosistem hiburan arus utama.

    Brad Haugen, Wakil presiden eksekutif strategi digital dan pertumbuhan di Lionsgate dan 3 Arts, menilai perusahaan media tradisional seharusnya membuka pintu selebar-lebarnya bagi kolaborasi dengan kreator. “Kita mungkin sedang melihat calon pembuat film hebat berikutnya, showrunner televisi hebat berikutnya, atau pengusaha digital besar berikutnya,” ujarnya. “Kreator bukan hanya ada untuk memasarkan produk. Mereka bukan sekadar orang internet. Mereka adalah Spike Jonze berikutnya dan Sofia Coppola berikutnya.”

    Agenda hiburan di CES belum berakhir. Sejumlah sesi lanjutan dijadwalkan pada Rabu, termasuk panel-panel dari Entertainment Summit yang menghadirkan pimpinan Netflix, Disney, Warner Bros. Discovery, serta aktor Joseph Gordon-Levitt. Diskusi-diskusi itu diperkirakan akan terus mengupas hubungan rumit antara teknologi, kreativitas, dan industri hiburan.

    Di luar ruang diskusi formal, lantai pameran CES juga dipenuhi produk-produk yang mencoba menerjemahkan AI ke dalam pengalaman hiburan sehari-hari. Televisi dengan fitur canggih, headphone pintar berbasis AI, gitar pintar tanpa senar, hingga kursi dengan sistem audio tertanam dipamerkan sebagai gambaran masa depan konsumsi hiburan di rumah.

    Amazon pun ikut menambah warna dengan mengumumkan peluncuran Alexa.com, yang membawa asisten AI mereka ke web. Fitur barunya mencakup rekomendasi film dan serial televisi yang lebih personal, serta kemampuan untuk melompat ke adegan tertentu hanya dengan deskripsi sederhana. Semua dirancang untuk satu tujuan, membuat pengalaman menonton di rumah terasa lebih cerdas, lebih cepat, dan semakin personal.

    CES 2026 akhirnya bukan sekadar etalase teknologi. Ia menjadi panggung tempat industri hiburan, teknologi, dan kreativitas saling menguji batas. Di tengah kekhawatiran dan optimisme yang berkelindan, satu hal tampak jelas. Cerita tentang masa depan hiburan sedang ditulis ulang, dan kecerdasan buatan kini menjadi salah satu pena utamanya.

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Moh. Alpin Pulungan

    Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

    Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).