Logo
>

Pasar Asia Menguat Dipicu Keputusan BOJ

Penguatan bursa Asia dipicu sikap tegas Bank of Japan, reli logam mulia berlanjut di tengah pelemahan dolar AS, sementara mata uang Asia bergerak menguat selektif dengan rupiah dan ringgit memimpin.

Ditulis oleh Yunila Wati
Pasar Asia Menguat Dipicu Keputusan BOJ
Keputusan BOJ mempertahankan suku bunga acuan membuat indeks Asia menguat. Foto: AI untuk KabarBursa.

KABARBURSA.COM – Pasar Asia ditutup menguat pada perdagangan Jumat, 23 Januari 2026. Mayoritas indeks saham regional bergerak menguat, ditopang keputusan Bank of Japan (BOJ) yang mempertahankan suku bunga acuan di tengah sinyal inflasi Jepang yang kian mengeras. 

Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik sekitar 0,5 persen, mencerminkan kembalinya selera risiko di kawasan.

Keputusan BOJ untuk menahan suku bunga tidak dibaca pasar sebagai sikap dovish. Justru sebaliknya, nada kebijakan dinilai semakin tegas. Bank sentral Jepang merevisi naik empat dari enam proyeksi inflasi, membuka ruang bagi kenaikan suku bunga lanjutan jika tekanan harga terus berlanjut. 

Data pemerintah menunjukkan inflasi inti Jepang pada Desember naik 2,4 persen secara tahunan, sejalan dengan ekspektasi analis dan memperkuat narasi bahwa normalisasi kebijakan moneter masih berada di jalur.

Respons pasar saham relatif konstruktif. Nikkei 225 dan Topix Jepang masing-masing menguat ke level 53.846 dan 3.629. Kenaikan ini menunjukkan bahwa investor belum melihat kebijakan BOJ sebagai ancaman langsung bagi pasar ekuitas, melainkan sebagai penanda stabilitas ekonomi domestik. 

Di Korea Selatan dan Taiwan, indeks Kospi dan Taiex juga bergerak solid, masing-masing naik 0,76 persen dan 0,68 persen, mencerminkan arus beli yang cukup merata di saham-saham teknologi dan industri.

Bursa China bergerak lebih terfragmentasi. Shanghai Composite dan Shenzhen Component masih mencatat kenaikan, namun indeks CSI300 justru melemah 0,45 persen. Perbedaan arah ini menandakan tekanan masih membayangi saham-saham berkapitalisasi besar, meskipun minat spekulatif di segmen tertentu tetap terjaga. 

Di Hong Kong, Hang Seng ditutup menguat ke 26.749, sejalan dengan sentimen regional yang membaik.

Reli Logam Mulia

Di luar pasar saham, sorotan utama justru datang dari lonjakan logam mulia. Emas mencatat kenaikan untuk hari kelima berturut-turut dan menyentuh level tertinggi baru di sekitar USD4.943 per ons. Perak melonjak lebih agresif, naik 2,8 persen ke USD98,88 per ons, sementara platinum juga mencetak rekor baru.

Penguatan emas dan perak tidak terlepas dari tekanan berlanjut pada dolar AS yang bergerak di dekat level terendah tahun ini. Pelemahan dolar memperkuat daya tarik logam mulia sebagai aset lindung nilai. 

Sejumlah analis global menilai reli emas saat ini bukan sekadar refleksi teknikal, melainkan cerminan pergeseran kepercayaan investor global terhadap aset berdenominasi dolar AS, di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan fiskal.

Kombinasi antara sinyal kebijakan moneter Jepang yang lebih tegas dan melemahnya dolar AS menciptakan lanskap yang unik. Pasar saham Asia mendapat dorongan dari stabilitas kebijakan regional, sementara pasar komoditas menyerap arus dana defensif yang mencari perlindungan nilai.

Mata Uang Asia Menguat Selektif

Pergerakan mata uang Asia mempertegas dinamika tersebut. Rupiah mencatat penguatan paling menonjol di kawasan, naik 0,45 persen ke level 16.820 per dolar AS. Penguatan ini mencerminkan sentimen risk-on regional dan arus dana yang relatif stabil ke aset Asia.

Ringgit Malaysia bahkan menguat hampir 1 persen, menunjukkan respons kuat terhadap pelemahan dolar AS. Dolar Singapura, yuan China, dan rupee India juga bergerak menguat, meskipun dalam rentang yang lebih moderat. 

Sementara itu, yen Jepang justru melemah tipis ke 158,44 per dolar AS, mencerminkan sensitivitas pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga BOJ yang masih bertahap dan belum agresif.

Di sisi lain, baht Thailand melemah dan dolar Australia hanya mencatat penguatan tipis, menandakan bahwa respons mata uang tidak sepenuhnya seragam dan masih dipengaruhi faktor domestik masing-masing negara.

Secara keseluruhan, penutupan pasar Asia hari ini menggambarkan keseimbangan yang menarik. Pasar saham merespons positif stabilitas kebijakan regional, logam mulia melonjak seiring melemahnya dolar AS, dan mata uang Asia cenderung menguat selektif. 

Kombinasi ini menunjukkan bahwa sentimen global tengah bergeser, dengan investor mulai menata ulang portofolio antara aset berisiko dan aset lindung nilai, tanpa meninggalkan pasar Asia sebagai tujuan utama arus modal.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79