Logo
>

Pasar Asia Tutup Tahun dengan Lesu: Mata Uang Menguat Terhadap Dolar AS

IHSG menutup tahun di zona hijau, namun bursa Asia bergerak lesu. Volatilitas emas dan perak serta penguatan mata uang Asia menandai pasar global yang masih rapuh.

Ditulis oleh Yunila Wati
Pasar Asia Tutup Tahun dengan Lesu: Mata Uang Menguat Terhadap Dolar AS
Ilustrasi pasar Asia. Foto: AI untuk KabarBursa.

KABARBURSA.COM – Di tengah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menutup akhir tahun 2025 dengan kenaikan tipis 0,03 persen menuju level 8.646, bursa Asia justru bergerak sebaliknya. Sentimen global tidak sepenuhnya mendukung risk-on.

Bursa Asia bergerak lesu dan tidak seragam. Investor cenderung mengunci keuntungan. MSCI Asia Pasifik, di luar Jepang, memang naik tipis 0,1 persen dan secara tahunan mencatatkan kinerja impresif 26,7 persen dan terbaik sejak 2017. Tapi, kenaikan ini bukan kekuatan momentum harian, melainkan akumulasi setahun penuh.

Yang paling menjadi perhatian adalah bursa Jepang. Indeks Nikkei 225 dan Topix ssama-sama turun setelah aksi profit taking yang cukup dalam setelah reli panjang. China tampil lebih beragam, di mana Shanghai cenderung datar sementara Shenzhen dan CSI300 menguat.

Hong Kong menjadi outlier positif dengan kenaikan hampir 1 persen. Ada aliran dana ke pasar yang dianggap relatif lebih murah dan likuid. Sedangkan Korea Selatan, Taiwan dan Australia bergerak melemah.

Emas dan Perak Terperosok Panic Buying

Beralih ke komoditas logam mulia. Perak dan emas terperosok usai mencetak reli sangat agresif. Kombinasi stop loss, panic buying dan pengetatan margin oleh bursa membawa perak anjlok hampir 9 persen dalam sehari.

Namun, pada akhirnya perak berhasil rebound ke USD74,1 per ons dengan kenaikan tahunan mencapai 156 persen. Sedangkan emas kembali naik ke USD4.361 per ons. Artinya, permintaan lindung nilai belum benar-benar surut, terutama di tengah ketegangan geopolitik yang kembali memanas.

Di sini, pernyataan Presiden Donald Trump yang kemungkinan mendukung serangan besar lanjutan ke Iran, ditambah Latihan tembak langsung China ke sekitar Taiwan, menambah lapisan risiko geopolitik. Isu-isu ini memiliki dampak yang lebih besar terhadap volatilitas harga, baik di saham maupun komoditas.

Mata Uang Asia Gempur Dolar AS

Di pasar mata uang, Asia berhasil menggempur pertahanan dolar AS. Mayoritas mata uang regional menguat, baik itu yen, yuan, won, hingga rupiah. Untuk rupiah, berhasil menguat tipis ke Rp16.771 per dolar AS.

Pun dengan yuan dan ringgit, yang menguat lebih besar dan memberi sinyal bawa Asia masih dipersepsikan cukup stabil secara makro dibandingkan beberapa kawasan lain.

Secara keseluruhan, kombinasi data ini menunjukkan pasar global dan Asia berada dalam fase “menutup buku” tahun 2025, bukan membuka posisi besar baru. IHSG yang bertahan hijau tipis mencerminkan daya tahan domestik, ditopang sektor konsumsi dan stabilitas nilai tukar. 

Namun, lemahnya bursa Asia, volatilitas ekstrem logam mulia, dan meningkatnya risiko geopolitik menegaskan bahwa sentimen masih rapuh. Pasar tampaknya memilih menjaga keseimbangan, menunggu katalis baru di awal 2026 sebelum menentukan arah berikutnya.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79