KABARBURSA.COM – Bursa Eropa bergerak datar pada perdagangan Rabu waktu setempat, 7 Januari 2026, setelah sehari sebelumnya mencetak rekor pada indeks-indeks utama. Pasar mencermati beberapa aksi Presiden AS Donald Trump, sebelum akhirnya mengambil langkah.
Yang pertama terkait kesepakatan impor minyak mentah Venezuela senilai USD2 miliar. Pernyataan Trump ini memicu perubahan sentiment intraday. Pasar Eropa menerjemahkannya ke dalam tekanan pada sektor teknologi.
Pasokan minyak global ini menjadi pukulan telak bagi saham-saham raksasa energi seperti Shell dan BP. Kedua saham ini turun lebih dari 3 persen dan menyeret subindeks energi Eropa turun 2,2 persen.
Setelah periode panjang di mana saham energi menjadi penopang utama reli indeks, perubahan ekspektasi harga minyak langsung memicu aksi ambil untung. Dalam konteks ini, pelemahan sektor energi tidak mencerminkan memburuknya prospek fundamental jangka panjang, melainkan penyesuaian cepat terhadap perubahan asumsi harga komoditas.
Di luar energi, sentimen pasar justru mendapat dukungan dari sisi makroekonomi kawasan euro. Inflasi zona euro yang melambat ke level 2 persen menjadi sinyal penting bahwa tekanan harga berada dalam kendali.
Bagi investor, data ini membuka ruang bagi kebijakan moneter yang lebih akomodatif atau setidaknya mengurangi kekhawatiran akan pengetatan lebih lanjut. Dampaknya terlihat pada menguatnya saham-saham yang sensitif terhadap suku bunga, khususnya sektor properti dan konstruksi, yang diuntungkan oleh prospek biaya pinjaman yang lebih rendah dan kondisi pembiayaan yang lebih longgar.
Sebaliknya, sektor perbankan justru menjadi penekan indeks dengan penurunan 1,7 persen. Ini mencerminkan dilema klasik pasar ketika inflasi melandai. Di satu sisi, ekonomi yang lebih stabil mendukung kualitas aset perbankan, namun di sisi lain, prospek suku bunga yang lebih rendah berpotensi menekan margin bunga.
Reaksi negatif saham bank menunjukkan bahwa pasar saat ini lebih fokus pada risiko penurunan profitabilitas dibandingkan manfaat stabilitas ekonomi.
Pergerakan Indeks Regional Bervariasi
Pergerakan indeks regional juga menunjukkan perbedaan karakter antarnegara. DAX Jerman justru menguat hampir 1 persen, menandakan bahwa investor masih melihat daya tahan ekonomi terbesar Eropa tersebut, terlebih dengan dukungan data ketenagakerjaan yang relatif solid.
Kenaikan tingkat pengangguran yang lebih kecil dari perkiraan memberi sinyal bahwa pasar tenaga kerja Jerman masih cukup tangguh di tengah perlambatan global. Sebaliknya, penurunan tak terduga penjualan ritel zona euro pada November menjadi pengingat bahwa sisi konsumsi masih rapuh, terutama di negara-negara Eropa selatan seperti Spanyol dan Italia, yang indeksnya justru terkoreksi.
Di Prancis dan Inggris, pergerakan pasar lebih berhati-hati. Peningkatan kepercayaan konsumen di Prancis memberi dukungan terbatas, namun tidak cukup kuat untuk mendorong CAC 40 naik signifikan.
Di Inggris, FTSE 100 tertekan lebih dalam, mencerminkan sensitivitas pasar terhadap pergerakan harga komoditas dan saham-saham defensif yang selama ini menjadi tulang punggung indeks.
Pada level saham individual, lonjakan saham Thales menegaskan bahwa aksi korporasi masih mampu menciptakan peluang selektif di tengah pasar yang cenderung datar. Kesepakatan penjualan aset senilai sekitar 500 juta euro dipandang positif karena memperkuat struktur keuangan dan membuka ruang optimalisasi aset.
Sebaliknya, pelemahan ASML setelah reli panjang menunjukkan bahwa bahkan saham dengan fundamental kuat pun tidak kebal dari aksi ambil untung ketika valuasi sudah terasa penuh. Penurunan saham Nestlé setelah penurunan target harga dan isu penarikan produk juga memperlihatkan bahwa faktor spesifik emiten tetap menjadi risiko yang diperhitungkan pasar.
Secara keseluruhan, perdagangan saham Eropa saat ini berada dalam fase konsolidasi yang sehat. Investor tidak bereaksi berlebihan terhadap peningkatan risiko geopolitik, namun juga tidak mengabaikannya.
Fokus pasar bergeser dari sekadar mengejar reli menuju selektivitas, dengan perhatian besar pada dampak kebijakan Amerika Serikat, arah harga energi, dan sinyal kebijakan moneter ke depan.
Kondisi ini menandakan bahwa pasar Eropa masih konstruktif, tetapi membutuhkan katalis baru untuk melanjutkan tren naik setelah rangkaian rekor yang baru saja dicapai.(*)