Logo
>

Pasar Energi Kaget, Analis Soroti Minyak Venezuela usai Penangkapan Maduro

Penangkapan Presiden Venezuela memicu sorotan pasar energi global. Analis menilai sejumlah peluang dan risiko di baliknya.

Ditulis oleh Syahrianto
Pasar Energi Kaget, Analis Soroti Minyak Venezuela usai Penangkapan Maduro
Penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memicu perhatian pasar energi global terhadap masa depan produksi minyak negara tersebut. (Foto: Dok. KabarBursa)

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM – Penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memicu perhatian pasar energi global terhadap masa depan produksi minyak negara tersebut. 

    Para analis menilai, meski Venezuela memiliki cadangan minyak mentah terbukti terbesar di dunia, proses pemulihan produksi berpotensi berlangsung panjang dan penuh risiko.

    Dalam jangka pendek, ketidakpastian masih menyelimuti kemampuan Venezuela mengekspor minyak, termasuk keberlanjutan aliran pasokan ke China. Situasi politik yang belum stabil dinilai menjadi faktor kunci yang menentukan arah produksi dan distribusi minyak Venezuela ke pasar global.

    Sebagaimana dilansir Bloomberg Europe, analis energi Helima Croft menyebut, sebagian pelaku pasar cenderung mengadopsi narasi optimistis pascapenangkapan Maduro. 

    “Akan ada segmen pasar yang mengadopsi narasi Mission Accomplished dan memperkirakan jalur pemulihan yang relatif mudah kembali ke produksi 3 juta barel per hari,” ujar Croft dalam catatannya, dikutip Senin, 5 Januari 2026. 

    Ia menambahkan, pencabutan penuh sanksi berpotensi membuka tambahan pasokan beberapa ratus ribu barel per hari dalam 12 bulan ke depan, dengan catatan transisi kekuasaan berjalan tertib.

    Meski demikian, Croft mengingatkan bahwa kondisi di lapangan masih jauh dari stabil. “Situasi saat ini masih sangat dinamis, dan kami terus mengingatkan pelaku pasar bahwa jalan pemulihan Venezuela akan panjang,” katanya.

    Pandangan senada disampaikan Kepala Ekonom Neil Shearing. Menurutnya, secara teoritis Venezuela berpeluang kembali menjadi produsen minyak utama karena cadangan minyak terbuktinya merupakan yang terbesar di dunia. Namun, realisasi di lapangan dinilai jauh lebih kompleks. 

    “Teori dan realitas sangat berbeda. Setidaknya, peta aliansi geopolitik Venezuela masih belum jelas setelah penangkapan Maduro,” ujar Shearing.

    Shearing menambahkan, bahkan jika produksi Venezuela kembali ke level satu dekade lalu sekitar 3 juta barel per hari, kontribusinya terhadap pasokan minyak global hanya akan menambah sekitar 2 persen. Angka tersebut dinilai belum cukup signifikan untuk mengubah keseimbangan pasar minyak dunia secara drastis.

    Dari sisi harga, analis Goldman Sachs menyoroti potensi volatilitas Brent. Daan Struyven menyebut, harga minyak Brent berpeluang rata-rata USD2 per barel lebih tinggi dari proyeksi dasar Goldman Sachs Group Inc. sebesar USD56 per barel tahun ini jika produksi minyak mentah Venezuela turun 400 ribu barel per hari hingga akhir tahun. Sebaliknya, harga Brent bisa USD2 lebih rendah apabila produksi justru meningkat dengan jumlah yang sama.

    Goldman juga menilai potensi peningkatan produksi Venezuela dalam jangka panjang menambah risiko penurunan harga minyak global. “Bersamaan dengan lonjakan produksi Rusia dan Amerika Serikat baru-baru ini, potensi peningkatan produksi Venezuela meningkatkan risiko penurunan proyeksi harga minyak kami untuk 2027 dan seterusnya,” tulis Goldman. 

    Bank tersebut memperkirakan tekanan penurunan hingga USD4 per barel terhadap harga minyak pada 2030 jika produksi Venezuela mencapai 2 juta barel per hari, dibandingkan asumsi dasar sebelumnya sekitar 900 ribu barel per hari.

    Sementara itu, Kepala Analis Arne Lohmann Rasmussen menilai reaksi pasar terhadap perkembangan Venezuela cenderung terbatas. Menurutnya, pasokan minyak global saat ini masih relatif longgar. 

    “Venezuela memang dikenal memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, melebihi 300 miliar barel. Namun, cadangan adalah satu hal, produksi adalah hal lain,” ujarnya. 

    Saat ini, produksi minyak Venezuela diperkirakan berada di kisaran 1 juta barel per hari.

    Rasmussen menambahkan, karakter minyak mentah Venezuela yang berat dan kaya sulfur membuatnya hanya dapat diolah oleh kilang tertentu, terutama di Amerika Serikat dan sebagian kilang di China. Dengan keterbatasan tersebut, potensi gangguan pasokan dinilai tidak terlalu berdampak besar bagi pasar minyak global.

    Ke depan, analis menilai arah pemulihan minyak Venezuela akan sangat ditentukan oleh stabilitas politik domestik, kejelasan kebijakan sanksi, serta minat investasi perusahaan energi global di tengah risiko geopolitik yang masih tinggi. (*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Syahrianto

    Jurnalis ekonomi yang telah berkarier sejak 2019 dan memperoleh sertifikasi Wartawan Muda dari Dewan Pers pada 2021. Sejak 2024, mulai memfokuskan diri sebagai jurnalis pasar modal.

    Saat ini, bertanggung jawab atas rubrik "Market Hari Ini" di Kabarbursa.com, menyajikan laporan terkini, analisis berbasis data, serta insight tentang pergerakan pasar saham di Indonesia.

    Dengan lebih dari satu tahun secara khusus meliput dan menganalisis isu-isu pasar modal, secara konsisten menghasilkan tulisan premium (premium content) yang menawarkan perspektif kedua (second opinion) strategis bagi investor.

    Sebagai seorang jurnalis yang berkomitmen pada akurasi, transparansi, dan kualitas informasi, saya terus mengedepankan standar tinggi dalam jurnalisme ekonomi dan pasar modal.