Logo
>

Pasar Global Waspada, Trump Ancam Tarif Tambahan ke Eropa

Ancaman tarif tambahan Amerika Serikat terhadap negara-negara Eropa memicu kekhawatiran pasar jelang pembukaan perdagangan, dengan isu Greenland menjadi pemicu.

Ditulis oleh Syahrianto
Pasar Global Waspada, Trump Ancam Tarif Tambahan ke Eropa
Ilustrasi: Layar menampilkan FTSE 100 di saham Inggris. (Foto: Wikimedia Commons)

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM – Pasar keuangan global bersiap menghadapi potensi guncangan saat dibuka awal pekan ini, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan memberlakukan tarif tambahan terhadap sejumlah negara Eropa jika AS tidak diberi jalan untuk mengambil alih Greenland.

    Seperti dilansir Reuters, Trump menyatakan akan mengenakan tambahan tarif impor sebesar 10 persen mulai 1 Februari terhadap barang-barang asal Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris. 

    Negara-negara tersebut sebelumnya sudah masuk dalam daftar negara yang terkena tarif era Trump.

    Pernyataan tersebut disampaikan Trump melalui akun media sosial Truth Social. Ancaman itu langsung memicu reaksi keras dari negara-negara Eropa. 

    Sejumlah negara besar Uni Eropa pada Minggu mengecam langkah Trump sebagai bentuk pemerasan terhadap sekutu, sementara Prancis bahkan mengusulkan opsi balasan berupa instrumen ekonomi yang belum pernah digunakan sebelumnya.

    George Saravelos, Global Head of FX Research Deutsche Bank, menilai dampak terhadap euro belum tentu seburuk yang dikhawatirkan pasar.

    “Kami tidak sepenuhnya yakin dampaknya terhadap euro akan senegatif yang diasumsikan banyak pihak,” ujar Saravelos seperti dikutip Reuters.

    “Negara-negara Eropa memiliki sekitar USD8 triliun obligasi dan saham AS, hampir dua kali lipat dibanding kepemilikan negara lain di dunia. Dengan eksposur dolar yang masih sangat besar di Eropa, perkembangan beberapa hari terakhir justru berpotensi mendorong rebalancing aset dari dolar,” tambah dia.

    Sementara itu, Kepala Ekonom Berenberg Holger Schmieding menilai isu Greenland menjadi persoalan geopolitik yang serius bagi Eropa, meski dampak ekonominya relatif terbatas.

    “Bagi Eropa, ini adalah masalah geopolitik yang buruk dan problem ekonomi yang cukup signifikan, meski tidak ekstrem,” ujar Schmieding.

    “Namun, langkah ini juga bisa menjadi bumerang bagi Trump, mengingat adanya resistensi dari sejumlah tokoh senior Partai Republik di AS,” imbuhnya.

    Schmieding menambahkan bahwa solusi paling rasional tetap menghormati hak Greenland untuk menentukan nasib sendiri, memperkuat keamanan kawasan Arktik bagi NATO, serta meminimalkan kerusakan ekonomi bagi Eropa dan Amerika Serikat.

    Dari sisi pasar, analis IG Tony Sycamore memperkirakan sentimen risk-off akan mendominasi saat pasar dibuka.

    “Pasar kemungkinan akan dibuka dalam mode risk-off,” kata Sycamore.

    “Titik panas terbaru ini meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi retaknya aliansi NATO dan terganggunya kesepakatan perdagangan dengan sejumlah negara Eropa, yang mendorong tekanan pada saham serta meningkatkan permintaan aset safe haven seperti emas dan perak,” jelas Sycamore, menambahkan.

    Pandangan senada disampaikan Carsten Nickel, Deputy Director of Research Teneo. Ia menilai konflik ini berpotensi menghidupkan kembali perang dagang AS–Eropa yang sempat mereda.

    “Skenario paling mungkin adalah kembalinya perang dagang yang sebelumnya ditangguhkan melalui kesepakatan tingkat tinggi AS dengan Inggris dan Uni Eropa pada musim panas lalu,” ujar Nickel.

    “Pelajaran langsungnya adalah bahwa kesepakatan dengan pemerintahan AS tidak memberikan kepastian jangka panjang,” tutur dia.

    Menurut Nickel, pertanyaan kunci ke depan adalah apakah Uni Eropa akan membatasi konflik ini sebatas perang dagang konvensional, atau justru memilih pendekatan yang lebih keras.

    Neil Shearing, Group Chief Economist Capital Economics, menilai dampak langsung tarif terhadap pertumbuhan ekonomi relatif kecil, namun konsekuensi politiknya jauh lebih besar.

    “Secara nominal, tarif ini mungkin hanya memangkas beberapa persepuluh poin persentase PDB negara-negara terkait, dan menambah inflasi AS dalam skala serupa. Namun, dampak politik dan geopolitiknya akan jauh lebih besar,” kata Shearing.

    Ia menegaskan bahwa upaya AS untuk merebut Greenland, baik melalui tekanan politik maupun kekuatan, berpotensi merusak hubungan transatlantik secara permanen dan mengguncang fondasi NATO.

    Kallum Pickering, Chief Economist Peel Hunt, juga memperingatkan potensi tekanan lanjutan di pasar keuangan.

    “Berdasarkan informasi sejauh ini, pergerakan awal pasar sangat mungkin bersifat risk-off,” ujarnya.

    “Emas dan perak berpeluang menguat, sementara pasar saham berada di bawah tekanan,” pungkas Pickering.

    Pickering menambahkan, eskalasi dengan Eropa ini bisa semakin membebani dolar AS, terutama jika memperkuat kekhawatiran bahwa kredibilitas kebijakan AS terus melemah, mendorong investor, khususnya dari Eropa, untuk menarik kembali modal dan mengurangi eksposur ke aset AS, termasuk saham teknologi bernilai tinggi. (*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Syahrianto

    Jurnalis ekonomi yang telah berkarier sejak 2019 dan memperoleh sertifikasi Wartawan Muda dari Dewan Pers pada 2021. Sejak 2024, mulai memfokuskan diri sebagai jurnalis pasar modal.

    Saat ini, bertanggung jawab atas rubrik "Market Hari Ini" di Kabarbursa.com, menyajikan laporan terkini, analisis berbasis data, serta insight tentang pergerakan pasar saham di Indonesia.

    Dengan lebih dari satu tahun secara khusus meliput dan menganalisis isu-isu pasar modal, secara konsisten menghasilkan tulisan premium (premium content) yang menawarkan perspektif kedua (second opinion) strategis bagi investor.

    Sebagai seorang jurnalis yang berkomitmen pada akurasi, transparansi, dan kualitas informasi, saya terus mengedepankan standar tinggi dalam jurnalisme ekonomi dan pasar modal.