KABARBURSA.COM — Harga batu bara kokas di China sempat goyah pada perdagangan Jumat, 30 Mei 2026. Namun kalau dilihat dalam hitungan sepekan, komoditas ini justru sedang menikmati salah satu pekan terbaiknya dalam enam minggu terakhir.
Pemicunya agak ironis. Di satu sisi, pemerintah China sedang berusaha memastikan pasokan energi tetap aman menjelang puncak konsumsi listrik musim panas. Di sisi lain, pasar justru dibayangi ketakutan akan berkurangnya pasokan batu bara setelah ledakan maut mengguncang salah satu tambang besar.
Pemerintah China melalui pernyataan yang dipublikasikan otoritas perencanaan negara pada Kamis malam meminta produksi dan pasokan energi primer seperti batu bara dan gas alam tetap dijaga. Langkah itu dilakukan untuk memastikan kebutuhan pembangkit listrik dapat terpenuhi ketika konsumsi energi melonjak selama musim panas.
Seruan tersebut sedikit meredakan kecemasan pasar. Namun kekhawatiran belum benar-benar hilang.
Masalahnya, pekan lalu ledakan gas di Tambang Liushenyu, Provinsi Shanxi, menewaskan 82 orang. Tragedi itu memicu gelombang inspeksi keselamatan besar-besaran di wilayah yang selama ini menjadi jantung produksi batu bara China. Akibatnya, sejumlah tambang terpaksa menghentikan operasi sementara.
Analis dari Kpler menilai langkah pengetatan keselamatan tersebut justru membuat pasar semakin ketat.
“Pasar batu bara mengencang setelah China memperketat pengawasan keselamatan tambang pascaledakan gas. Kondisi ini menopang harga menjelang puncak permintaan musim panas,” tulis analis Kpler, dikutip dari Reuters, Sabtu, 30 Mei 2026.
Dampaknya langsung terlihat di bursa komoditas. Kontrak batu bara kokas paling aktif di Bursa Komoditas Dalian memang turun tipis 0,31 persen ke level 1.285,5 yuan per ton atau sekitar USD189,90 (Rp3,38 juta) per ton pada penutupan perdagangan harian. Namun dalam sepekan harganya masih melesat 9,6 persen.
Kenaikan serupa juga terjadi pada kontrak kokas yang naik 0,26 persen menjadi 1.903 yuan per ton. Secara mingguan, kontrak ini telah menguat sekitar 9,4 persen. Bukan hanya isu pasokan yang menopang harga. Industri baja China ternyata masih terus menyedot bahan baku dalam jumlah besar.
Data Mysteel menunjukkan produksi harian rata-rata logam panas, indikator utama permintaan bahan baku baja, naik 0,1 persen dibanding pekan sebelumnya menjadi 2,41 juta ton per 28 Mei 2026. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak Oktober tahun lalu.
Permintaan yang tetap kuat membuat harga bahan baku industri baja, termasuk batu bara kokas dan bijih besi, mendapat tambahan amunisi untuk bertahan di level tinggi.
Harga bijih besi sendiri bergerak relatif datar. Kontrak paling aktif di Dalian naik 0,45 persen menjadi 783,5 yuan per ton. Sementara kontrak acuan Juni di Bursa Singapura menguat 0,11 persen ke level USD105,45 (Rp1,88 juta) per ton.
Di pasar baja, mayoritas produk juga ikut menghijau. Harga baja tulangan naik 0,19 persen, baja canai panas bertambah 0,33 persen, dan kawat baja menguat 0,24 persen. Hanya baja nirkarat yang tergelincir 0,44 persen.
Situasi ini menunjukkan paradoks yang kerap terjadi di pasar komoditas. Ketika kecelakaan tambang memicu kekhawatiran pasokan, harga justru mendapat dorongan. Korban berjatuhan di lokasi tambang, tetapi pasar malah merayakan kenaikan harga.
China Belum Krisis Batu Bara
Ledakan maut di tambang batu bara Shanxi yang menewaskan 82 pekerja tidak hanya mengguncang industri tambang China. Bagi Indonesia, insiden itu juga menjadi pengingat betapa besarnya ketergantungan ekspor batu bara nasional terhadap negeri Tirai Bambu.
Selama ini China masih menjadi salah satu urat nadi utama ekspor batu bara Indonesia. Ketika produksi tambang China terganggu, harga batu bara bergerak. Ketika impor China naik, eksportir Indonesia ikut tersenyum. Sebaliknya, saat permintaan China melemah, tekanan langsung terasa hingga ke pelabuhan-pelabuhan batu bara Indonesia.
Data Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) menunjukkan impor batu bara China dari Indonesia sepanjang 2025 mencapai sekitar 211 juta ton. Angka itu setara lebih dari 43 persen total impor batu bara China selama tahun lalu. Dengan porsi sebesar itu, hubungan pasar batu bara kedua negara praktis sudah saling terkait satu sama lain.
Tak heran jika pasar langsung memperhatikan perkembangan pascaledakan Shanxi. Inspeksi keselamatan yang diperketat membuat sejumlah tambang menghentikan operasi sementara. Akibatnya, muncul kekhawatiran pasokan domestik China akan mengetat menjelang puncak kebutuhan listrik musim panas.
Situasi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong harga batu bara kokas melonjak hampir 10 persen dalam sepekan terakhir. Pasar mulai berspekulasi bahwa China kemungkinan perlu meningkatkan impor apabila gangguan produksi berlangsung lebih lama.
Bagi eksportir Indonesia, kondisi ini seharusnya menjadi kabar baik. Permintaan tambahan dari China berpotensi membuka ruang kenaikan volume ekspor maupun menopang harga batu bara Asia yang sempat tertekan dalam beberapa bulan terakhir. Namun persoalannya tidak sesederhana itu.
Di balik sentimen positif akibat ledakan Shanxi, terdapat tren yang justru bergerak ke arah sebaliknya. China saat ini sedang agresif meningkatkan produksi batu bara domestik untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor.
Produksi batu bara China sepanjang 2025 tercatat mencapai sekitar 4,83 miliar ton. Pemerintah China juga terus mendorong ekspansi kapasitas tambang dan meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan sehingga kebutuhan impor secara struktural mulai berkurang.
Akibatnya, impor batu bara China sepanjang 2025 justru turun hampir 10 persen dibanding tahun sebelumnya. Impor dari Indonesia bahkan turun lebih dari 12 persen.
Kondisi itu terlihat berlanjut pada 2026. Data kepabeanan China menunjukkan pengiriman batu bara Indonesia ke China pada April turun sekitar 22 persen secara tahunan menjadi 11,12 juta ton. Bahkan untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu terakhir, Mongolia berhasil menyalip Indonesia sebagai pemasok batu bara terbesar ke China pada bulan tersebut.
Artinya, pasar saat ini sedang menghadapi dua kekuatan yang saling bertabrakan.
Di satu sisi, ledakan Shanxi dan inspeksi keselamatan nasional berpotensi memperketat pasokan sehingga mendukung harga batu bara. Namun di sisi lain, tren jangka panjang China justru menunjukkan penurunan ketergantungan terhadap impor karena produksi domestik terus meningkat dan energi terbarukan makin agresif dikembangkan.
Pertanyaan yang kini mulai muncul di pasar adalah apakah efek ledakan tambang cukup besar untuk membalikkan tren penurunan impor China tersebut?
Bagi emiten batu bara Indonesia seperti PT AlamTri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMH), hingga PT Bumi Resources Tbk (BUMI), jawaban atas pertanyaan itu akan sangat menentukan arah sentimen pasar dalam beberapa bulan ke depan.
Sebab selama China masih menyerap ratusan juta ton batu bara Indonesia setiap tahun, setiap kecelakaan tambang, perubahan regulasi, hingga keputusan impor dari Beijing pada dasarnya bukan lagi sekadar berita domestik China. Itu juga merupakan sinyal yang dapat memengaruhi kinerja ekspor, harga batu bara Asia, hingga valuasi emiten tambang di Bursa Efek Indonesia.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.