KABARBURSA.COM – Isu geopolitik yang melibatkan Venezuela dinilai tidak akan memberikan dampak berarti terhadap perekonomian Indonesia maupun pergerakan pasar saham domestik.
Pasalnya, hubungan dagang dan investasi antara Indonesia dan Venezuela selama ini tergolong sangat kecil. Sebelumnya Presiden Venezuela, Meduro diculik oleh Presiden AS Amerika Serikat Donald Trump.
Direktur Ekonomi Digital di Center of Economic and Law Studies, Nailul Huda, mengatakan porsi perdagangan Indonesia–Venezuela hanya sekitar 0,02 persen dari total ekspor nasional. Meski pertumbuhan ekspornya tercatat hampir dua kali lipat, kontribusinya terhadap ekonomi nasional dinilai tidak signifikan.
“Dengan porsi yang kecil, dampak langsungnya ke kinerja ekonomi Indonesia relatif tidak signifikan. Venezuela bukan mitra dagang dan investasi utama Indonesia,” kata Nailul Huda kepada KabarBursa.com Rabu, 7 Januari 2026.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut membuat setiap dinamika politik maupun ekonomi di Venezuela tidak memiliki pengaruh langsung terhadap neraca perdagangan Indonesia maupun aktivitas investasi domestik. Dari sisi makro, dampaknya juga dinilai nyaris tidak terasa.
Nailul menambahkan, pengaruh Venezuela terhadap harga minyak global juga relatif terbatas. Meskipun negara tersebut memiliki cadangan minyak yang besar, tingkat produksinya saat ini tergolong rendah sehingga tidak cukup kuat untuk menggerakkan harga minyak dunia.
“Produksi minyak Venezuela relatif kecil, sehingga tidak punya pengaruh besar terhadap pergerakan harga minyak global,” ujarnya.
Melalui kondisi tersebut, Nailul menilai tidak ada implikasi signifikan terhadap Indonesian Crude Price maupun kebijakan subsidi migas dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Dampak lanjutan terhadap posisi fiskal Indonesia pun dinilai sangat terbatas.
Dari sisi nilai tukar, Nailul juga melihat potensi dampak langsung ke rupiah relatif kecil. Menurutnya, tidak ada gejolak besar di dalam negeri Amerika Serikat yang dapat secara signifikan memperkuat atau melemahkan dolar AS akibat isu Venezuela.
“Impact langsungnya ke nilai tukar juga kecil. Tidak ada gejolak besar yang bisa membuat dolar bergerak ekstrem,” kata Nailul.
Meski demikian, ia mengingatkan adanya potensi skenario jangka menengah apabila isu Venezuela berkaitan langsung dengan kepentingan minyak Amerika Serikat. Jika perusahaan minyak AS benar-benar masuk dan meningkatkan produksi di Venezuela, industri energi di AS berpotensi tumbuh dan mendorong kebutuhan dolar.
“Tapi sampai saat ini saya belum melihat langkah nyata ke arah tersebut,” ujarnya.
Lebih jauh, Nailul menegaskan bahwa sentimen global semacam ini tidak akan mengganggu pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan. Ia menilai IHSG saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh dinamika pelaku besar di dalam negeri dibandingkan faktor eksternal.
“Pengaruhnya ke IHSG relatif kecil. Pergerakan IHSG lebih dipengaruhi oleh pergerakan konglomerat dalam negeri, bukan sentimen luar,” kata Nailul.
Nailul menilai investor tidak perlu bereaksi berlebihan terhadap isu Venezuela. Selama tidak ada perubahan struktural yang signifikan di pasar global, kondisi pasar keuangan Indonesia diperkirakan tetap bergerak stabil dan terkendali.(*)