KABARBURSA.COM - Pengamat Mata Uang, Ibrahim Assuaibi memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mencapai 5 persen. Menurutnya, ekonomi dapat bertumbuh apabila pemerintah mengambil berbagai langkah strategis.
"Tak jauh-jauh 5 persen, angka yang wajar untuk pertumbuan ekonomi nasional pada tahun 2026, meskipun proyeksi tersebut menunjukkan stabilitas perekonomian domestik," kata Ibrahim dalam keterangan tertulis, Rabu, 31 Desember 2025.
Ia mengimbau agar pemerintah tidak hanya mengandalkan konsumsi rumah tangga sebagai mesin pertumbuhan nasional. Ia meminta pemerintah juga harus meningkatkan investasi agar dapat membuka lapangan kerja baru dan mendongkrak pertumbuhan ekonomi.
Lebih lanjut, Ibrahim juga menyoroti terkait dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2026 yang masih berat.
"Mengingat perkembangan geopolitik global dan dinamika fragmentasi perdagangan internasional masih sulit diprediksi. Sementara itu, pemulihan ekonomi domestik Indonesia masih belum maksimal karena tekanan harga komoditas pangan dan energi serta daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih," imbuh Ibrahim.
Selain itu Indonesia dipandang pengamat tersebut, masih memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap impor, mulai dari barang modal hingga bahan pangan. Jika tidak dibenahi, Indonesia bakal terus tertinggal dari negara tetangga di kawasan ASEAN.
"Sehingga devisa negara justru kembali mengalir ke luar negeri. Berbagai faktor tersebut membuat fundamental ekonomi Indonesia relatif lebih rentan dibandingkan negara-negara lainnya di kawasan Asia Tenggara, sehingga mengurangi daya saing Indonesia," pandang Ibrahim
Untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, Ibrahim mendorong agar pemerintah melakukan penguatan fundamental ekonomi domestik. Ia mengimbau agar pemerintah tidak meletakkan seluruh beban pertumbuhan pada daya beli masyarakat semata dan meningkatkan kapasitas ekspor produk yang lebih bernilai.
"Selain itu belanja pemerintah harus lebih efektif dalam menghasilkan dampak ganda terhadap perekonomian rakyat, sedangkan sektor ekspor perlu dikembangkan untuk memproduksi lebih banyak komoditas bernilai tambah tinggi," tutup pria ramah tersebut.(*)