Logo
>

PMI Manufaktur 51,2 dan Ekspor USD256,5 Miliar, Sinyal Positif Ekonomi 2026

Dari sektor riil, denyut manufaktur nasional masih berada di jalur ekspansi

Ditulis oleh Pramirvan Datu
PMI Manufaktur 51,2 dan Ekspor USD256,5 Miliar, Sinyal Positif Ekonomi 2026
Ilustrasi Perekonomian Indonesia. Foto: Dok KabarBursa.com

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM - Perekonomian Indonesia menutup tahun 2025 dengan daya tahan yang meyakinkan, meski lanskap global masih diliputi ketidakpastian. Kondisi ini menjadi pijakan kokoh bagi prospek pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026.

    Di penghujung 2025, ekonomi domestik tetap resilien. Aktivitas manufaktur yang terus berekspansi, inflasi yang terkelola dengan baik, serta neraca perdagangan yang konsisten mencatatkan surplus menjadi penyangga utama. Kombinasi faktor tersebut dipandang sebagai modal strategis untuk mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi pada 2026, ujar Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, dalam keterangannya di Jakarta 6 Desember 2026.

    Dari sektor riil, denyut manufaktur nasional masih berada di jalur ekspansi. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Desember 2025 tercatat di level 51,2, menandai ekspansi selama lima bulan beruntun. Capaian ini ditopang oleh kuatnya permintaan domestik, penyerapan tenaga kerja yang meningkat, serta aktivitas pembelian bahan baku yang tetap bergairah. Optimisme pelaku usaha pun menguat, bahkan mencapai titik tertinggi dalam tiga bulan terakhir, mencerminkan keyakinan terhadap prospek manufaktur ke depan.

    Lingkungan eksternal turut memberi angin segar. Aktivitas manufaktur di sejumlah mitra dagang utama Indonesia bergerak di zona ekspansif, di antaranya Amerika Serikat dengan PMI 51,8, China 50,1, dan India 55,7. Di kawasan ASEAN, Thailand mencatat PMI 57,4 dan Malaysia 50,1, membuka peluang penguatan permintaan ekspor Indonesia.

    Performa perdagangan luar negeri tetap solid. Pada November 2025, neraca perdagangan Indonesia membukukan surplus USD2,66 miliar, melanjutkan tren surplus yang berlangsung tanpa putus sejak Mei 2020. Secara kumulatif sepanjang Januari–November 2025, surplus neraca perdagangan mencapai USD38,54 miliar, meningkat USD9,30 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

    Dalam periode tersebut, nilai ekspor Indonesia mencapai USD256,56 miliar atau tumbuh 5,61 persen (ctc). Pertumbuhan ekspor terutama disumbang sektor industri pengolahan dengan kontribusi 10,41 persen, mencerminkan penguatan nilai tambah produk ekspor nasional. Sementara itu, impor tercatat sebesar USD218,02 miliar atau naik 2,03 persen (ctc), dengan porsi terbesar berasal dari impor barang modal sebesar 3,28 persen, sejalan dengan aktivitas produksi yang ekspansif.

    Ke depan, pemerintah terus mendorong keberlanjutan agenda hilirisasi sumber daya alam, peningkatan daya saing produk ekspor, serta diversifikasi mitra dagang utama guna meredam dinamika global yang berfluktuasi.

    Stabilitas harga sepanjang 2025 juga terjaga. Inflasi tercatat sebesar 2,92 persen (yoy), tetap berada dalam rentang sasaran nasional. Inflasi Desember 2025 dipengaruhi kenaikan harga sejumlah komoditas pangan, di tengah inflasi inti yang relatif stabil dan inflasi administered price (AP) yang masih rendah.

    Inflasi volatile food meningkat hingga 6,21 persen (yoy), dipicu kenaikan harga aneka cabai, beras, dan ikan segar akibat gangguan cuaca serta kendala distribusi. Inflasi AP tercatat 1,93 persen (yoy), didorong kenaikan harga bensin nonsubsidi dan tarif transportasi selama periode Natal dan Tahun Baru. Sementara itu, inflasi inti bertahan stabil di level 2,38 persen (yoy), terutama dipengaruhi kenaikan harga emas perhiasan.

    Sejumlah indikator domestik lain turut menunjukkan perbaikan. Hingga November 2025, Indeks Keyakinan Konsumen menguat ke level 124. Indeks Penjualan Riil tumbuh 5,94 persen (yoy), ditopang peningkatan penjualan makanan dan minuman serta mobilitas masyarakat. Penguatan aktivitas ekonomi juga tercermin dari penjualan listrik sektor bisnis yang tumbuh 6,2 persen (yoy), dengan konsumsi listrik rumah tangga dan industri yang tetap stabil.

    Pemerintah berkomitmen menjaga stabilitas sekaligus memperkuat momentum pertumbuhan ekonomi. Kebijakan fiskal diarahkan untuk menopang program pembangunan nasional, guna memastikan kesinambungan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, tutup Febrio.(*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Pramirvan Datu

    Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.