Logo
>

Polarisasi Pasar Global Meningkat di 2026, Indonesia Bertaruh pada AI dan Data Center

JP Morgan melihat pasar dunia makin terfragmentasi, sementara Indonesia menjaga pertumbuhan lewat ekspansi AI, cloud, dan infrastruktur data center.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Polarisasi Pasar Global Meningkat di 2026, Indonesia Bertaruh pada AI dan Data Center
JP Morgan menilai pasar global makin terbelah di 2026. Indonesia menjaga pertumbuhan lewat AI, data center, cloud, dan investasi digital. Foto: IG @telkomindonesia

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM — Tahun depan tidak akan berjalan tenang. Pasar global diperkirakan bergerak dalam lanskap yang semakin terbelah, dipengaruhi kebijakan moneter yang tidak seragam, ekspansi kecerdasan buatan yang kian agresif, serta polarisasi pasar yang makin tajam. Di atas semua itu, arah kebijakan Amerika Serikat terus membentuk ulang peta ekonomi dan pasar keuangan dunia.

    JP Morgan Global Research menilai benturan faktor-faktor tersebut akan menjadi tema besar 2026. Pasar saham, ekonomi, hingga perilaku belanja rumah tangga dinilai tidak lagi bergerak serempak, melainkan terfragmentasi, menciptakan peluang sekaligus risiko yang harus dibaca lebih cermat oleh investor.

    “Inti dari outlook kami adalah polarisasi multidimensi: pasar saham terbelah antara sektor AI dan non-AI, ekonomi Amerika Serikat menyeimbangkan belanja modal yang kuat dengan permintaan tenaga kerja yang melemah, serta kesenjangan belanja rumah tangga yang semakin melebar,” kata Dubravko Lakos-Bujas, Head of Global Markets Strategy di J.P. Morgan, dikutip dari laman JP Morgan, Selasa, 13 Januari 2025.

    Meski demikian, JP Morgan masih melihat fondasi pertumbuhan global cukup tangguh pada 2026. Dorongan fiskal yang digelontorkan lebih awal menjadi bantalan penting di tengah ketidakpastian.

    “Secara keseluruhan, J.P. Morgan Global Research melihat prospek pertumbuhan global yang tetap resilien pada 2026, didukung antara lain oleh kebijakan fiskal yang digelontorkan lebih awal,” tulis riset tersebut.

    Namun, risiko penurunan belum sepenuhnya sirna. Lemahnya sentimen dunia usaha dan perlambatan pasar tenaga kerja tetap menjadi bayang-bayang. Di sisi lain, ekor angin dari 2025 masih terasa. Neraca keuangan korporasi dan rumah tangga dinilai relatif sehat, likuiditas masih longgar, dan belanja modal berbasis AI terus meluas.

    “Lingkungan pasar secara keseluruhan tetap rapuh, dan investor harus menavigasi lanskap di mana risiko dan ketahanan berjalan berdampingan,” ujar Fabio Bassi, Head of Cross-Asset Strategy di J.P. Morgan.

    Ekonomi Indonesia 2026 Diproyeksikan Tetap Tumbuh 

    Di tengah ketidakpastian global yang terus membayangi pasar keuangan dunia, proyeksi ekonomi Indonesia untuk 2026 justru menunjukkan konsistensi. Sejumlah lembaga internasional dan domestik memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada di kisaran lima persen, menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara berkembang dengan ketahanan pertumbuhan yang relatif solid.

    Bank Dunia, dalam pembaruan proyeksi ekonominya, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di sekitar 5,0 persen. Angka ini bahkan diproyeksikan meningkat tipis menjadi 5,2 persen pada 2027. Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia dipandang cukup stabil dibandingkan banyak negara lain yang masih berjuang keluar dari perlambatan pascapandemi dan tekanan geopolitik global.

    Proyeksi serupa datang dari lembaga dan pelaku pasar dalam negeri. PHintraco Sekuritas, dalam riset ekonominya, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5,0 hingga 5,2 persen secara tahunan pada 2026. Sementara itu, tim ekonomi Bank Syariah Indonesia atau BSI mematok proyeksi yang sedikit lebih optimistis, yakni sekitar 5,28 persen.

    Sejumlah analis lokal bahkan memperkirakan ruang pertumbuhan masih bisa melebar ke kisaran 5,3 hingga 5,6 persen, dengan catatan konsumsi rumah tangga tetap terjaga dan belanja pemerintah berjalan efektif. Konsistensi proyeksi dari berbagai lembaga ini menegaskan satu hal, meskipun ekonomi global diperkirakan melambat, Indonesia masih memiliki fondasi domestik yang cukup kuat untuk bertahan di level pertumbuhan lima persen.

    Fokus belanja negara diarahkan ke sejumlah sektor strategis, mulai dari program sosial seperti makan gratis, peningkatan belanja pertahanan, hingga investasi di sektor-sektor produktif. Pola ini sejalan dengan konsep front-loaded fiscal policy yang juga disorot JP Morgan sebagai salah satu penopang pertumbuhan global pada 2026.

    Siap, gue susun ini panjang, utuh, dan tempo-able, dengan alur bercerita, nama lembaga disebut jelas, dan logika yang nyambung. Ini sudah siap jadi artikel soft–hard ekonomi digital atau investasi tematik AI–data center.

    Ledakan Data Center dan Cloud Mengubah Peta Investasi Digital Indonesia

    Sejumlah lembaga riset internasional mencatat lonjakan nilai pasar data center Indonesia yang konsisten. Research and Markets mencatat nilai pasar data center Indonesia mencapai sekitar USD2,39 miliar pada 2024. Angka ini diproyeksikan meningkat menjadi USD 3,79 miliar pada 2030, dengan laju pertumbuhan tahunan atau compound annual growth rate sekitar 7,99 persen. Proyeksi ini mencerminkan ekspansi yang stabil, ditopang kebutuhan penyimpanan data dan komputasi dari sektor swasta maupun publik.

    Namun lembaga lain melihat potensi yang lebih besar. IMARC Group mencatat nilai pasar data center Indonesia berada di kisaran USD 2,8 miliar pada 2024. Dalam proyeksi jangka panjangnya, IMARC memperkirakan angka tersebut bisa melonjak hingga USD 7,8 miliar pada 2033, dengan CAGR sekitar 12,27 persen. Artinya, kurang dalam satu dekade ke depan, industri ini berpotensi tumbuh hampir tiga kali lipat.

    Bahkan, beberapa laporan industri memperkirakan angka yang lebih agresif. Ada estimasi yang menyebut nilai pasar data center Indonesia dapat melampaui USD8 miliar sejak 2025 dan terus bergerak menuju puluhan miliar dolar pada dekade berikutnya, seiring akselerasi ekonomi digital dan adopsi kecerdasan buatan.

    Pertumbuhan nilai pasar ini tercermin langsung pada skala fisik dan kapasitas infrastruktur. Riset industri memperkirakan kapasitas daya data center di Indonesia mencapai sekitar 0,97 ribu megawatt pada 2025. Kapasitas ini diproyeksikan tumbuh dengan CAGR sekitar 16,7 persen hingga 2030. Angka tersebut menunjukkan satu hal yang jelas, permintaan infrastruktur teknologi informasi di Indonesia sedang menanjak tajam.

    Secara geografis, pertumbuhan itu menyebar ke banyak kota besar. Saat ini, fasilitas data center operasional diperkirakan telah mencapai puluhan gedung dengan puluhan proyek tambahan dalam tahap pengembangan. Lokasinya tersebar di lebih dari 18 kota, mulai dari Jakarta sebagai pusat utama, hingga Surabaya, Batam, dan Denpasar. Batam, khususnya, mulai diposisikan sebagai hub regional karena kedekatannya dengan Singapura dan kesiapan infrastruktur.

    Di dalam ekosistem data center, bisnis kolokasi atau penyewaan ruang server juga tumbuh cepat. Nilai pasar data center kolokasi Indonesia tercatat sekitar sekitar USD460 juta pada 2024. Angka ini diperkirakan meningkat menjadi USD 1,15 miliar pada 2030, dengan CAGR sekitar 16,5 persen. Model kolokasi menarik minat perusahaan yang tidak ingin membangun data center sendiri, tetapi membutuhkan kapasitas komputasi yang aman dan stabil.

    Ledakan data center tidak bisa dilepaskan dari pertumbuhan pasar cloud computing. GMIREsearch mencatat nilai pasar cloud computing Indonesia mencapai sekitar USD 3,3 miliar pada 2024. Pasar ini diperkirakan melonjak hingga USD 13,4 miliar pada 2032, dengan CAGR sekitar 19,1 persen pada periode 2025–2032. Pertumbuhan dua digit ini menunjukkan adopsi cloud yang semakin luas.

    Pengguna layanan cloud tidak lagi terbatas pada perusahaan teknologi besar. Perbankan memanfaatkan cloud untuk analitik dan efisiensi operasional. Sektor kesehatan menggunakannya untuk pengelolaan data pasien. Fintech dan ritel mengandalkan cloud untuk transaksi dan personalisasi layanan. Bahkan UMKM mulai masuk ke ekosistem ini, memanfaatkan layanan berbasis awan untuk operasional harian.

    Pemerintah melihat tren ini sebagai peluang strategis. Melalui Kementerian Investasi atau Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), pemerintah menyatakan kesiapan memfasilitasi investasi data center, termasuk infrastruktur yang siap mendukung kecerdasan buatan. BKPM bahkan menyebut Indonesia siap menjadi lokasi investasi data center AI pertama di Asia dengan dukungan kebijakan dan insentif yang disiapkan.

    Dorongan penguatan ekosistem kecerdasan buatan di Indonesia juga datang melalui kolaborasi antara pemerintah dan perusahaan teknologi global. Kementerian Komunikasi dan Digital menjalin kerja sama dengan Microsoft dalam program ElevAIte, sebuah inisiatif pelatihan keterampilan Artificial Intelligence yang ditujukan untuk memperluas kapasitas talenta digital nasional.

    Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyebut kolaborasi tersebut sekaligus membawa komitmen investasi besar dari Microsoft yang dinilai strategis bagi pengembangan infrastruktur digital dan AI di Indonesia.

    “Kami mengucapkan terima kasih ada komitmen investasi sebesar USD1,7 miliar atau sekira Rp27,6 triliun, angka yang merupakan investasi terbesar dalam sejarah 29 tahun Microsoft hadir di Indonesia,” tuturnya dalam Peluncuran ElevAIte di Media Center Kementerian Komdigi, Senin 2 Desember 2024, dilansir dari laman resmi komdigi.go.id.

    Meutya menjelaskan, komitmen investasi tersebut sebenarnya telah disampaikan dalam pertemuan sebelumnya antara pemerintah dan Microsoft. Program ElevAIte menjadi salah satu pintu masuk konkret dari kerja sama jangka panjang yang lebih luas di bidang cloud dan kecerdasan buatan.

    Dalam konteks ini, data center tidak lagi sekadar bangunan berisi server. Ia menjadi fondasi ekonomi digital, menopang analitik data skala besar, layanan cloud, dan pengembangan kecerdasan buatan. Semua proses komputasi berat, mulai dari machine learning hingga pemrosesan big data, bergantung pada infrastruktur ini.

    Konsumsi Energi dan Peluang Investasi

    Pertumbuhan pesat data center membawa konsekuensi lain yang tidak kalah besar, yakni konsumsi energi. Data center dikenal sebagai konsumen listrik raksasa. Operasinya berjalan tanpa henti, membutuhkan pasokan daya tinggi untuk server dan sistem pendingin. Laporan industri menunjukkan kapasitas daya data center di Indonesia melonjak dari ratusan megawatt beberapa tahun lalu menjadi sekitar 700 megawatt pada 2025.

    Ke depan, angkanya diperkirakan jauh lebih besar. Pada 2030, kapasitas daya data center Indonesia diproyeksikan melampaui 2.000 megawatt, seiring meningkatnya kebutuhan AI dan layanan cloud. Lonjakan ini berarti konsumsi listrik data center akan menjadi variabel penting dalam perencanaan energi nasional, termasuk investasi pembangkit dan jaringan transmisi.

    Pertumbuhan data center juga tercatat sebagai faktor kunci dalam proyeksi peningkatan permintaan listrik di Asia Tenggara. Indonesia, bersama Malaysia dan negara regional lain, dipandang sebagai pusat pertumbuhan baru data center karena didorong oleh lonjakan AI workloads dan migrasi layanan digital.

    Dari sisi investasi, hubungan antara data center, cloud, dan AI bersifat langsung. Infrastruktur cloud menjadi basis operasi kecerdasan buatan, termasuk pengelolaan GPU cluster dan pemrosesan data skala besar. Semakin banyak perusahaan memilih membangun atau menyewa data center di dalam negeri untuk melakukan komputasi AI secara lokal, alih-alih mengirim data ke luar negeri.

    Kondisi ini menciptakan permintaan besar terhadap perangkat keras, mulai dari peralatan jaringan, sistem penyimpanan data, hingga teknologi pendingin. Rantai investasi pun meluas, tidak hanya ke sektor teknologi informasi, tetapi juga ke energi, konstruksi, dan utilitas.

    Kolaborasi lintas negara ikut mempertegas tren ini. Salah satu contohnya adalah pendanaan besar untuk kampus data center di Batam yang melibatkan DBS dan UOB, bekerja sama dengan Indonesia Investment Authority. Skema ini menunjukkan bahwa modal asing masih mengalir ke infrastruktur digital Indonesia, meski kondisi global penuh ketidakpastian.

    Semua perkembangan ini menempatkan data center dan cloud sebagai tema investasi jangka panjang. Bagi Indonesia, data center sudah fondasi ekonomi digital yang akan membentuk arah pertumbuhan, konsumsi energi, dan pola investasi dalam satu dekade ke depan.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Moh. Alpin Pulungan

    Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

    Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).