Logo
>

PRC Rilis Temuan Survei tentang Program Makan Bergizi Gratis

Pengamat politik sekaligus Direktur Riset Politika Research & Consulting (PRC), Nurul Fatta, mengatakan mayoritas responden menempatkan MBG sebagai program presiden yang paling bermanfaat

Ditulis oleh Desty Luthfiani
PRC Rilis Temuan Survei tentang Program Makan Bergizi Gratis
Ilustrasi Program Makan Bergizi Gratis. Foto: Dok KabarBursa.com

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai menjadi kebijakan yang paling dirasakan manfaatnya oleh masyarakat pada awal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

    Penilaian tersebut terekam dalam rangkaian survei nasional dan daerah yang dilakukan Politika Research & Consulting (PRC) selama lima bulan terakhir, yang memotret persepsi publik terhadap kinerja awal pemerintahan.

    Pengamat politik sekaligus Direktur Riset Politika Research & Consulting (PRC), Nurul Fatta, mengatakan mayoritas responden menempatkan MBG sebagai program presiden yang paling bermanfaat dan layak untuk dilanjutkan. Survei tersebut juga menunjukkan adanya pergeseran sikap publik, dari semula ragu dan menolak, menjadi relatif puas setelah program dijalankan.

    “Responden menilai MBG sebagai program yang paling terasa langsung dampaknya,” kata Nurul Fatta dalam keterangan tertulis yang diterima KabarBursa.com, Minggu, 28 Desember 2025.

    Menurutnya, MBG kini telah menjadi identitas utama Presiden Prabowo di mata masyarakat. Seperti halnya pembangunan infrastruktur dan kebijakan sembako yang melekat pada pemerintahan sebelumnya, MBG dipersepsikan sebagai wajah kebijakan Presiden Prabowo saat ini. Namun, tingginya tingkat penerimaan publik juga dibarengi dengan ekspektasi yang semakin besar terhadap kualitas pelaksanaan program.

    PRC mencatat bahwa responden menaruh perhatian serius pada persoalan teknis pelaksanaan MBG, mulai dari kasus keracunan makanan, pengelolaan dapur umum, hingga kualitas makanan yang diterima. Temuan survei menunjukkan bahwa kritik publik terhadap MBG lebih dipahami sebagai evaluasi implementasi kebijakan, bukan sebagai penolakan terhadap program itu sendiri.

    “Bagi responden, kritik itu bentuk peringatan agar pelaksanaan tidak sembrono,” ujar Fatta.

    Selain MBG, survei PRC juga merekam persepsi publik terhadap agenda pemberantasan korupsi. Mayoritas responden menilai upaya antikorupsi mengalami perbaikan, seiring meningkatnya kepercayaan terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi serta penindakan hukum terhadap sejumlah kepala daerah. Meski demikian, sekitar 40 persen responden masih menilai pemberantasan korupsi belum menunjukkan perubahan berarti atau bahkan memburuk.

    Nurul Fatta menilai temuan tersebut mencerminkan masih kuatnya persepsi publik terhadap lemahnya pencegahan korupsi dan kekhawatiran adanya penegakan hukum yang tidak merata. Jika tidak ditangani secara konsisten, kondisi ini berpotensi menggerus legitimasi agenda antikorupsi pemerintah.

    Survei tersebut juga menyoroti pandangan responden terhadap kualitas demokrasi dan komunikasi politik pejabat publik. Meski pemerintah mencantumkan penguatan demokrasi dan HAM dalam Asta Cita, sebagian responden menilai sikap defensif dan anti-kritik dari sejumlah pejabat justru melemahkan kepercayaan terhadap praktik demokrasi.

    “Responden melihat demokrasi sebagai ruang kritik, bukan ruang pembungkaman,” kata Fatta.

    Isu lain yang disorot responden adalah wacana perubahan mekanisme pemilihan kepala daerah dari langsung menjadi tidak langsung. Mayoritas responden menilai gagasan tersebut tidak sejalan dengan semangat demokrasi dan berpotensi mengurangi hak politik warga negara. Jika wacana tersebut dipaksakan, publik menilai komitmen demokrasi pemerintah berisiko dipersepsikan mundur.

    Selain itu, responden juga masih mencemaskan persoalan lapangan pekerjaan dan krisis lingkungan. Ketersediaan kerja dinilai belum sepenuhnya terjawab, sementara arah kebijakan lingkungan dipersepsikan belum sensitif terhadap risiko deforestasi dan bencana ekologis yang terus berulang di berbagai daerah.

    Secara umum, tingkat kepuasan responden terhadap Presiden Prabowo tercatat relatif tinggi sejak awal masa jabatan. Namun, PRC menekankan bahwa kepuasan tersebut bersifat parsial dan tidak dapat dimaknai sebagai persetujuan tanpa syarat atas seluruh kebijakan pemerintah.

    “Kepuasan publik harus dibaca sebagai modal evaluasi, bukan cek kosong,” ujar Fatta.(*)
     

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Desty Luthfiani

    Desty Luthfiani seorang jurnalis muda yang bergabung dengan KabarBursa.com sejak Desember 2024 lalu. Perempuan yang akrab dengan sapaan Desty ini sudah berkecimpung di dunia jurnalistik cukup lama. Dimulai sejak mengenyam pendidikan di salah satu Universitas negeri di Surakarta dengan fokus komunikasi jurnalistik. Perempuan asal Jawa Tengah dulu juga aktif dalam kegiatan organisasi teater kampus, radio kampus dan pers mahasiswa jurusan. Selain itu dia juga sempat mendirikan komunitas peduli budaya dengan konten-konten kebudayaan bernama "Mata Budaya". 

    Karir jurnalisnya dimulai saat Desty menjalani magang pendidikan di Times Indonesia biro Yogyakarta pada 2019-2020. Kemudian dilanjutkan magang pendidikan lagi di media lokal Solopos pada 2020. Dilanjutkan bekerja di beberapa media maenstream yang terverifikasi dewan pers.

    Ia pernah ditempatkan di desk hukum kriminal, ekonomi dan nasional politik. Sekarang fokus penulisan di KabarBursa.com mengulas informasi seputar ekonomi dan pasar modal.

    Motivasi yang diilhami Desty yakni "do anything what i want artinya melakukan segala sesuatu yang disuka. Melakukan segala sesuatu semaksimal mungkin, berpegang teguh pada kebenaran dan menjadi bermanfaat untuk Republik".