KABARBURSA.COM - Harga emas dunia maupun logam mulia diprediksi bergerak fluktuatif pada perdagangan pekan depan. Hal ini dipengaruhi oleh sejumlah sentimen eksternal.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assu’aibi mengatakan pada perdagangan Sabtu, 18 April 2026 harga emas dunia ditutup di harga USD4.834 per troy ounce, sementara logam mulia berada di Rp2.868.000 per gram.
Ibrahim memperkirakan jika terdapat tekanan jual di pekan depan, level support pertama emas dunia berada di harga USD4.703 per troy ounce.
"Kemudian loga mulia support pertama itu di Rp2.838.000 per gram," ujar dia dalam keterangannya kepada media, Minggu, 19 April 2026.
Jika mengalami penurunan kembali, Ibrahim menyebut support kedua emas dunia berada di level USD4.441.000 per troy ounce. Sedangkan logam mulia bisa jeblok di bawah Rp2.800.000 atau tepatnya Rp2.785.000 per gram.
Namun demikian, skenario sebaliknya juga terbuka apabila harga emas global bisa menunjukkan penguatan. Ibrahim memproyeksikan level resistance pertama berada di harga USD4.945 per troy ounce.
"Kemudian untuk logam mulia itu ada kenaikan sekitar Rp30.000.000 jadi ke level Rp2.898.000," terang dia.
Jika penguatan berlanjut, harga emas dunia berpotensi menembus USD5.152 per troy ounce. Sejalan dengan itu, logam mulia diperkirakan menyentuh harga Rp3.100.000 per gram.
Selain faktor teknikal, pergerakan harga emas juga dipengaruhi oleh sejumlah sentimen global. Ibrahim menekankan setidaknya dua faktor utama yang menjadi pendorong fluktuasi, antara lain geopolitik hingga kebijakan The Fed.
Dari sisi geopolitik, ketegangan di Eropa Timur antara Ukraina dan Rusia kembali memanas. Ibrahim menyampaikan, ketegangan kembali terjadi setelah serangan drone Ukraina menyasar kilang-kilang minyak Rusia, memicu kebakaran besar dan meningkatkan tensi dengan negara-negara NATO yang mendukung Ukraina.
"Ini sangat krusial, kemungkinan besar membuat ketegangan di Eropa Timur semakin tinggi," kata dia.
Faktor geopolitik lainnya ialah konflik Timur Tengah. Ibrahim membeberkan gencatan senjata sementara selama 10 hari antara Lebanon dan Israel membawa dampak positif.
Di saat yang sama, arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) juga menjadi perhatian. Menurut Ibrahim, pergantian pejabat serta potensi perubahan arah suku bunga dinilai dapat memicu pelemahan dolar AS. (*)