KABARBURSA.COM - Bank Indonesia (BI) mempertegas komitmennya dalam memperkuat inklusi dan kesehatan keuangan, selaras dengan agenda pembangunan nasional yang lebih luas.
Sebagai anggota Dewan Nasional Keuangan Inklusif (DNKI), BI mengimplementasikan langkah-langkah strategis untuk meningkatkan literasi keuangan, memperluas akses terhadap layanan keuangan berkualitas, serta meneguhkan perlindungan konsumen bagi seluruh lapisan masyarakat. Demikian disampaikan Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, dalam keterangan pers di Jakarta, Jumat 28 November 2025.
Dalam upaya memperkokoh ketahanan finansial rumah tangga, BI mendorong sejumlah kebijakan, antara lain insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk sektor prioritas serta pelonggaran rasio loan-to-value/financing-to-value (LTV/FTV) untuk pembiayaan properti dan kendaraan bermotor. Langkah-langkah ini dirancang untuk menciptakan fondasi keuangan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Seiring itu, BI mengakselerasi inisiatif makroprudensial dan digitalisasi sistem pembayaran, memperkuat ekosistem keuangan yang sehat dan inklusif. Penguatan pelindungan konsumen pun menjadi fokus, termasuk melalui keamanan transaksi digital dan peningkatan literasi finansial masyarakat.
Pada Kamis, 27 November 2025, di Jakarta, Destry menghadiri Ministerial Group Meeting—bagian dari rangkaian kunjungan Ratu Maxima dari Kerajaan Belanda sebagai Advokat Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Kesehatan Finansial (UNSGSA). Pertemuan tersebut melibatkan BI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, serta otoritas sektor keuangan lainnya, menandai sinergi yang erat dalam memperkuat kesehatan keuangan nasional.
Ratu Maxima memuji implementasi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sebagai contoh nyata perluasan akses layanan keuangan yang inklusif dan mudah dijangkau masyarakat. Sebelumnya, pada Selasa, 25 November 2025, beliau meninjau Kampung Batik Laweyan di Solo, Jawa Tengah, menyaksikan langsung pemanfaatan QRIS dalam transaksi sehari-hari.
Ratu Maxima menekankan bahwa kesehatan keuangan masih menjadi tantangan global, termasuk risiko beban utang rumah tangga yang dapat menghambat pemenuhan kebutuhan dasar. Ia menyoroti pentingnya kolaborasi antara sektor swasta dan regulator dalam merancang produk serta kebijakan yang mendukung financial health, termasuk koordinasi antarotoritas, pertukaran data, dan penguatan perlindungan terhadap risiko digital seperti penipuan dan scam.(*)