KABARBURSA.COM — Pemerintah mulai mengubah arah pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Tak lagi sekadar mengejar angka investasi, fokus kini digeser ke kualitas dan dampaknya terhadap ekonomi nasional.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian sekaligus Ketua Dewan Nasional KEK, Airlangga Hartarto, mengatakan kawasan ini diharapkan menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi.
“Kawasan Ekonomi Khusus diharapkan dapat menjadi katalis pertumbuhan sekaligus akselerator dalam mendukung pencapaian target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen,” ujarnya dalam keterangan tertulis Dewan KEK, Selasa, 28 April 2026.
Namun, target tersebut dinilai tidak akan tercapai tanpa perbaikan mendasar. Airlangga menekankan bahwa pengembangan KEK masih membutuhkan dorongan lintas kementerian, terutama dalam hal infrastruktur dan perizinan.
Ia menyebut KEK memerlukan dukungan lintas kementerian dan lembaga, percepatan pembangunan infrastruktur wilayah, serta penyederhanaan dan percepatan perizinan berusaha.
Di tengah dorongan tersebut, pemerintah juga mulai melihat peluang baru dari sektor digital. Kebutuhan pembangunan pusat data meningkat seiring perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan dan komputasi kuantum. Dalam konteks ini, kawasan Batam dan Bitung disebut sebagai titik potensial untuk pengembangan data center.
Airlangga berharap forum rapat kerja nasional KEK dapat menyelesaikan berbagai hambatan yang selama ini mengganjal pengembangan kawasan tersebut.
“Saya berharap hasil Rapat Kerja Nasional KEK yang akan berlangsung dalam dua hari ke depan ini dapat menuntaskan upaya debottlenecking berbagai isu yang saat ini dihadapi, sehingga pelaksanaan program dan kegiatan usaha di KEK dapat berjalan lebih optimal,” ujarnya.
Dari sisi kinerja, KEK sebenarnya mulai menunjukkan tren positif. Hingga Maret 2026, realisasi investasi kumulatif telah mencapai Rp353 triliun dari 365 pelaku usaha, dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 273.301 orang.
Pada triwulan pertama 2026, tambahan investasi tercatat sebesar Rp17,5 triliun atau sekitar 25 persen dari target tahunan. Sementara itu, penyerapan tenaga kerja mencapai 24.229 orang atau 47 persen dari target.
Sebanyak 10 KEK bahkan telah melampaui 25 persen target investasi, sementara 11 kawasan mencapai angka serupa untuk penyerapan tenaga kerja.
Kajian Prospera juga menunjukkan dampak yang cukup signifikan. Wilayah dengan KEK mampu menarik investasi asing hingga 173 persen lebih tinggi dibandingkan wilayah tanpa KEK, serta meningkatkan penyerapan tenaga kerja sekitar 4 persen.
Meski begitu, tantangan masih terlihat, terutama dari sisi kesiapan tenaga kerja. Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK, Rizal Edwin Manansang, menilai kebutuhan industri belum sepenuhnya sejalan dengan kualitas tenaga kerja yang tersedia.
Ia mengatakan perlu penguatan keterkaitan antara kebutuhan industri di KEK dengan kurikulum pendidikan dan pelatihan, serta langkah proaktif dari pengelola kawasan dan pelaku usaha untuk bekerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan.
"Diperlukan upaya penguatan link and match antara kebutuhan KEK dengan kurikulum dan kapasitas pelatihan, juga langkah proaktif dari Badan Usaha Pembangun dan Pengelola (BUPP) KEK dan para PU dalam bekerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan guna memastikan pemenuhan kebutuhan pekerja secara cepat dan tepat," kata Edwin.
Rakernas KEK triwulan pertama 2026 menjadi ajang evaluasi sekaligus konsolidasi kebijakan lintas kementerian. Fokus utamanya tetap sama, yaitu menyelesaikan hambatan klasik seperti perizinan, infrastruktur, dan koordinasi antar lembaga.
Di tengah capaian investasi yang mulai bergerak, pertanyaan besarnya kini bukan lagi apakah KEK bisa menarik investor, melainkan apakah ekosistemnya sudah cukup siap untuk menjaga keberlanjutan investasi tersebut.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.